PSIKOLOGI TINGKAH LAKU MENURUT AHLI

PSIKOLOGI TINGKAH LAKU

 

Pengertian Tingkah Laku Dan Psikologi Tingkah Laku

Secara biologis tingkah laku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.  Secara operasional tingkah laku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut. Sedangkan menurut Ensiklopedi Amerika, tingkah laku adalah suatu aksi reaksi organisme terhadap lingkungan. Tingkah laku timbul apabila ada sesuatu yang dapat menimbulkan reaksi, yakni disebut dengan rangsangan. Menurut Ribert Kwick (1974) tingkah laku adalah tindakan atau prilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Secara umum prilaku manusia pada hakekatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungan sebagai manivestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup.

Menurut Drs. Sunaryo M.Kes tingkah laku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Jadi, Psikologi Perilaku mempelajari bagaimana mengembangkan perilaku hidup organisme dalam menanggapi kondisi tertentu. Pengkondisian klasik dan operan mendefinisikan Perilaku Psikologi. Psikologi perilaku didasarkan pada teori bahwa perilaku semua dipelajari melalui pengkondisian. Perilaku Psikologi,  juga dikenal sebagai behaviorisme, berpendapat bahwa semua perilaku yang diperoleh oleh interaksi dengan lingkungan, melalui dua jenis utama conditioning, operant conditioning dan pengkondisian klasik. Perilaku psikolog berteori bahwa semua perilaku dapat dipelajari dan dinilai tanpa mempertimbangkan keadaan mental internal. Tingkah laku mempunyai beberapa dimensi, yaitu:

  1. fisik, dapat diamati, digambarkan dan dicatat baik frekuensi, durasi dan intensitasnya.
  2. ruang, suatu perilaku mempunyai dampak kepada lingkungan (fisik maupun sosial) dimana perilaku itu 
  3. waktu, suatu perilaku mempunyai kaitan dengan masa lampau maupun masa yang akan datang

 

Aliran Psikologi Tingkah Laku

Pandangan belajar menurut aliran tingkah laku tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Adapun Penganut psikologi tingkah laku, yaitu :

1. Teori Belajar Thorn Dike

Thorn Dike memandang belajar sebagai suatu usaha memecahkan problem. Berdasarkan eksperimen yang dilakukannya ia memperoleh tiga buah hukum dalam belajar, yaitu :

  1. Hukum Akibat (Law of effect) menyatakan bahwa tercapainya keadaan yang memuaskan akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respon. Maksudnya, bila respon terhadap stimulus menimbulkan sesuatu yang menimbulkan sesuatu yang memuaskan (mengenakkan) maka bila stimulus itu muncul lagi subjek akan memberikan respons yang lebih cepat, tepat, dan intens.
  2. Hukum Latihan (Law of axercise) menyatakan bahwa respons terhadap stimulus dapat diperkuat dengan seringnya respons itu dipergunakan. Hal ini menghasilkan implikasi bahwa pratik , khususnya pengulangan dalam pelajaran adalah penting dilakukan.
  3. Hukum Kesiapan (Law of readiness) mengajarkan bahwa dalam memberikan respons subjek harus siap dan disiapkan. Hukum ini menyangkut syarat kematangan dalam pengajaran, baik dalam pengajaran fisik maupun mental dan intelektual.

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati.

 

2. Teori Belajar Skinner

Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

  1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
  2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

 

3. Teori Belajar Ausubel

Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “ pengatur kemajuan belajar” (advance organizer), didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadai (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarksn kepada siswa. Ausubel percaya bahwa advance organizer dapat memberikan 3 macam mamfaat yaitu:

  1. Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.
  2. Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa.
  3. Mampu membantu siswa untu k memahami bahan belajar secara lebih mudah.

 

4. Teori Belajar Gagne

Robert M. Gagne adalah seorang ahli psikologi yang banyak melakukan penelitian mengenai fase-fase belajar, tipe-tipe kegiatan belajar, dan hirarki belajar. Dalam penelitiannya ia banyak menggunakan materi matematika sebagai medium untuk menguji penerapan teorinya. Gagne  menyatakan belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Gagne mengemukakan delapan fase dalam suatu tindakan belajar. Kedelapan fase yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1) Fase Motivasi

Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik.

2) Fase Pengenalan

Siswa harus memberi perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kajian instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru, atau tentang gagasan-gagasan utama dalam buku teks.

3) Fase Perolehan

Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi tidak langsung terserap dalam memori ketika disajikan, informasi itu di ubah kedalam bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan materi yang telah ada dalam memori siswa.

4) Fase Retensi

Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.

5) Fase Pemanggilan

Mungkin saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka-panjang. Jadi bagian penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah dipelajari, untuk memangil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.

6) Fase Generalisasi

Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasiatau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat ditolong dengan memintapara siswa untuk menggunakan informasi dalam keadaan baru.

7) Fase Penampilan

Siswa harus memperhatikan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak.

8) Fase Umpan Balik

Para siswa memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.

 

5. Teori Pavlov

Pavlof terkenal dengan teori belajar klasik. Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan atau conditioning. Dalam hubungannya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal pekerjaan rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.

6. Teori Baruda

Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru.

7. Aliran Latihan Mental

Aliran ini berkembang sampai dengan abad 20, yang mengemukakan bahwa struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumapalan otot, agar ini kuat, maka harus dilatih dengan beban, makin banyak latihan dan beban yang makin berat,maka otot atau otak itu makin kuat pula, oleh karna itu jika anak atau siswa ingin pandai, maka ia harus dilatih otaknya dengan cara banyak berlatih memahamidan mengerjakan soal-soal yang benar, makin sukar materi itu makin pandai pula anak tersebut. Struktur kurikulum pada masa itu berisikan materi-materi pelajaran yang sulit, sehingga orang sedikit yang bersekolah karna tidak kuat untuk mengikutinya. Disamping faktor lain seperti keturunan, biaya, dan kesadaran akan pentingya sekolah.

 

Pendekatan Psikologi Tingkah Laku

Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi dijelaskan beberapa cara pendekatan, yaitu:

1. Pendekatan Neurobiologis

Pendekatan ini mencoba menjelaskan hubungan antara perilaku yang dapat diamati dan kejadian-kejadian mental (seperti pikiran dan emosi) menjadi proses biologis. Penemuan-penemuan penelitian telah menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara aktivitas otak dengan perilaku dan dengan pengalaman. Misalnya, reaksi emosi, seperti rasa takut dan marah, pada hewan dan manusia dapat dirangsang dengan aliran listrik lemah di daerah tertentu yang jauh di bagian dalam otak. Dari berbagai penelitian dikatakan, tindakan manusia yang paling rumit pun pada akhirnya mempunyai kemungkinan untuk di perinci dan diteliti dasar mekanisme neurobiologisnya.

Menurut Sukadji 1986, konsepsi psikologi mengenai manusia yang hanya didasarkan neurobiologi kurang memadai untuk menjelaskan perilaku manusia. oleh karena itu dibutuhkan pendekatan-pendekatan lain untuk mengkaji fenomena-fenomena psikologi. Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.

2. Pendekatan Perilaku (Behaviorisme)

Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran. Menurut Watson jika psikologi ingin diakui sebagai ilmu maka data harus diperoleh dari yang dapat diamati dan dapat diukur. Pendekatan ini adalah “angkatan kedua” dalam psikologi, sesudah psikoanalisis. Mazhab ini lahir di amerika, ketika metode ilmiah dipercaya sebagai satu-satunya cara mengetahui perilaku yang dapat diandalkan (Rakhmat,2003). Behaviorisme adalah pendekatan yang sangat bermanfaat untuk menjelaskan persepsi interpersonal, konsep diri,eksperimen, sosialisasi, kontrol sosial,serta ganjaran dan hukuman. Berbeda dengan psikoanalisis yang melihat bahwa perilaku manusia lahir dari keinginan bawah sadar  mereka, behaviorisme (perilaku) menganailis perilaku manusia hanya berdasarkan perilaku yang tampak dan dapt diukur.

Behaviorisme percaya bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, manusia belajar dari lingkungannya dan dari hasil belajar itulah ia berperilaku. Oleh karena itu, manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Pendekatan ini juga berpendirian bahwa manusia dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis. Perilaku adalah hasil pengalaman dan perilaku digerakkan atau dimotivasikan oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan (Rakhmat,1994). Pendekatan ini juga disebut  psikologi Stimulus-Response (S-R). Pendekatan S-R yang ketat tidak mempertimbangkan pengalaman kesadaran seseorang. Sebagaimana yang dikatakan Sukadji, pengalaman sadar hanyalah kejadian-kejadian yang dialami dengan kesadaran penuh. Pengalaman sadar itu hanya dapat diketahui oleh anda sendiri, seorang peneliti hanya bisa melihat dan menilai tindakan anda, emosi yang sedang anda alami.

3. Pendekatan Kognitif

Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang. Pendekatan kognitif adalah pendekatan yang menanggapi keresahan orang ketika behaviorisme tidak mampu menjawab mengapa ada orang yang berperilaku berbeda dari lingkungannya, yakni ia memiliki motif pribadinya sendiri. Juga karena terlihat bagaimana pasifnya manusia.

4. Pendekatan Psikoanalisa

Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan. Hal terpenting dari pendekatan psikoanalisis adalah bahwa tindakan manusia mempunyai sebab. Namun, penyebabnya sering kali berupa motif-motif yang tidak disadari, bukan alasan rasional yang diberikan oleh seseorang terhadap perilakunya. Dalam pandangan psikoanalis, kepribadian manusia merupakan interaksi antara id,ego, superego.

5. Pendekatan Fenomenologi

Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

6. Pendekatan Humanistik

Dalam pendekatan ini, manusia dipandang sebagai Homo Ludes (manusia bermain). Setiap manusia hidup dalam pengalaman pribadinya yang unik. Tidak akan ada satu manusiapun yang memiliki pengalaman yang sama. Pendekatan ini berpendapat manusia bukan hanya sekedar wayang, yang sibuk mencari identitas, namun ia juga berupaya mencari makna, baik makna kehidupannya, makna kehadirannya di lingkungan, serta apa yang dapat diberikannya kepada lingkungan. Carl Rogers mengatakan, “kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri”. aktualisasi diri adalah mewujudkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Psikologi humanistik menekankan kreativitas, vitalitas emosi, eutentisitas, dan pencarian makna diatas kepuasan materi. Pendekatan ini merupakan penampakan sosial dari upaya kita untuk membina hati dan tubuh yang bijak sebagaimana jiwa yang bijak (Rakhmat, 2003). Psikologi humanistik bertumpu pada tiga dasar pijakan, yaitu :

a.)    Keunikan manusia

b.)    Pentingnya nilai dan makna

c.)    Kemampuan manusia untuk mengembangkan diri.

Jadi, pendekatan ini menilai manusia tidak digerakan oleh kekuatan luar yang tidak dapat di kontrolnya, tetapi manusia adlah pemeran yang mampu mengontrol nasib sendiri dan mampu mengubah dunia di sekelilingnya.

 

Cara Mempelajari Psikologi Tingkah Laku

Psikologi Tingkah laku dapat dipelajari dengan berbagai cara, diantaranya dengan memperhatikan, mengayati, menerangkan apa yang terjadi dalam proses kejiwaan. Akan tetapi tidak ada cara tertentu untuk digunakan dalam semua keadaan karena proses kejiwaan itu sendiri itu tidak pernah sama. Sewaktu waktu ia dapat berubah sehingga tidak mungkin membagi-baginya, apalagi hendak memasukan kejiwaan itu kedalam golongan –golongan tertentu

Cara yang dipergunakan untuk anak-anak ada persamaannya dengan cara yang dipergunakan untuk orang dewas. Penyelidikan terhadap anak anak harus lebih hati hati dilakukan karena adanya perbedaan antara kewajiban anak dengan kewajiban orang dewasa. Ada beberapa metode para ahli untuk cara penyelidikan diantaranya adalah:

1. Metode Pengamatan (Observasi)

Bila ingin mempelajari tingkah laku seorang anak, misalnya bagaimana ia bermain, kita harus mengamati anak dari kejauhan tanpa diketahui oleh anak tersebut. Kita dapat mencatat tingkah laku yang kelihatan. Hendaknya pekerjaan mencatat itu dilakukan dengan teliti dan dicatat secepat-cepatnya. Pengamatan dapat ditujukan kepada anak terus menerus, atau ditujukan ke beberapa anak seca.ra bergantian. Menurut Clara dan William Stern, peneliti itu harus tepat waktu bekerjanya (secara kronologis), kemudian menyediakan daftar yang memuat initi kata, nomor halaman disusun menurut abjad . semua anjuran itu dimaksudkan agar sewaktu-waktu orang mudah menemukan catatan itu jika diperlukan kemudian hari.

2. Metode Eksperimen dan Tes

Penelitian terhadap anak-anak tidak mudah dilakukan. Alasan nya pertama karena anak-anak sangat sugestibel dan selalu berusaha menyenangkan hati si penanya. Alasan kedua karena sukar diketahui dengan jelas apa yang dimaksud oleh anak tersebut.

a. Eksperimen

Penggunaan eksperimen terhadap anak–anak hanya terbatas pada penyelidikan yang dapat diamati dengan alat indera karena gejala-gejala yang bersifat rohaniyah masih sangat samar-samar. Dalam hal ini ada pula bentuk-bentuk perasaan seperti kecewa, putus asa , rindu, dsb. Agar sukar diciptakan dalam suasana eksperimen, yaitu suasan yang dibuat-buat. Walaupun eksperimen banyak kelemahannnya, eksperimen tetap bermanfaat digunakan karena selain kelemahan itu ia memiliki kelebihan lain, misalnya dapat diselidiki dengan teliti karena peristiwanya dapat diulang-ulang.

b. Menggunakan Tes

Dua orang ilmuan berasal dari bangsa perancis yang benama Alfred Binet dan Simon, telah memperkenalkan tes skala inteligensi yang pertama pada tahun 1905. Skala Binet melontarkan 54 pertanyaan, masing-masing 5 pertanyaan untuk tingkat usia tertentu; yaitu jenjang pertanyaan yang paling mudah untuk usia 3 tahun, pertanyaan yang paling sukar untuk usia 15 tahun. Pengukuran kecerdasan dengan menggunakan tes Binet Simon diperkenalkan oleh L.M. terman dalam bukunya, the measurement of intelligence, pada tahun 1916. Kemudian Terman dan M.A. Merril melakukan penyempurnaan yang kedua kalinya pada tahun 1937. Dari hasil penyempurnaan itu mendapat lima tingkat kecerdasan, yaitu; sangat bodoh, bodoh, normal, pandai dan cerdas

3. Metode Klinis

Metode klinis suatu bentuk penelitian yang khusus ditujukan kepada anak-anak ialah dengan cara mengamat-ngamati, mengajak bercakap-cakap, dan Tanya jawab. Penggunaan metode klinis merupakan gabungan dari eksperimen dan observasi. Pelaksanaan nya dengan cara mengamat-ngamati atas pertimbangan bahwa anak itu sendiri belum mampu untuk mengungkapkan isi pikirannya dan perasaannya dengan bahsa ynag lancar. Cara untuk memudahkan Tanya jawab dalam pelaksanaannya menggunakan daftar pertanyaan yang berisi bermacam-macam pertanyaan yang member petunjuk kepada isi si peneliti tentang pa saja yang harus diperhatikan. Seorang ilmuan berasal dari bangsa perancis yang bernama Prof. JeanPiget menggunakan metode klinis untuk meneliti cara berfikir dan perkembangan bahasa anak-anak. Metode-metode observasi, klinis, eksperimen termasuk metode langsung karena metode itu dapat langsung memperoleh informasi dan data-data dari sumbernya.

4. Metode Pengumpulan

a. Angket

Bentuk angket berupa daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan data-data dan informasi dari objek yang akan dipelajari. Daftar pertanyaan itu disampaikan kepada anak (responden) untuk memperoleh data dan informasi. Kemudian melakukan pengolahan dan analisis terhadap data-data ynag terkumpul. Dengan angket ini kadang kadang mengalami hambatan karena anak itu sendiri belum menyadari akan manfaatnya bagi dunia pendidikan dimasa mendatang

b. Biografi

Jiwa anak dapat dipelajari dan dipahami dengan riwayat hidupnya, baik yang mereka tulis sendiri maupun yang dituliskan dengan orang lain mengenai dirinyakedua karya itu dapat mengungkapkan jiwa orang yang memiliki biografi itu. Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh orang yang punya riwayat dinamakan autobiografi. Riwayat hidup uang ditulis oleh orang lain dinamakan biografi. Kedua riwayat itu menjadi sumber yang berharga untuk mendapatkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk meneliti kejiwaan anak yang sedang diselidiki.

c. Buku harian

Menyelidiki jiwa anak dengan melalui buku hariannya. Biasanya anak pubertas suka menulis buku hariannya. Buku itu sangat bermanfaat ntuk mengungkapkan kejiwaannya. Dalam hal ini kita harus hati-hati dalam mempelajarinya, karena tidak memberikan kesan kesan umum dan anak yang suka membuat buku harian untuk jangka waktu yang lama.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *