POST-POWER SYNDROME

POST-POWER SYNDROME

Post-Power Syndrome

Post-power syndrome adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi kepada ayah Rudi, beliau mengalami post-power syndrome. Beliau selalu ingin mengungkapkan betapa beliau begitu bangga akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa (menurutnya).

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun dini dan PHK adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrom akan dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrom yang menyerangnya akan semakin parah.

Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post-power syndrome. Misalnya kecelakaan yang dialami oleh seorang pelari, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi. Bila dia tidak mampu menerima keadaan yang dialaminya, dia akan mengalami post-power syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan dideritanya.

Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya post-power syndrome yang berat semakin besar.

Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada pribadi-pribadi introvert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban emosi yang tidak tersalurkan) yang parah.

Gejala post power syndrome

Gejala post power syndrome terbagi menjadi tiga, yakni gejala fisik, emosi dan perilaku. Secara fisik, penderita post power syndrome ditandai dengan penampilan yang terlihat lebih kuyu dan sering sakit-sakitan.

Sementara gejala emosi ditandai dengan penderita mudah tersinggung, lebih senang menyendiri, pemurung atau sebaliknya lebih cepat marah dan tersinggung jika pendapat atau ucapannya tidak dihargai.

Adapun gejala perilaku yang muncul bisa dilihat dari perubahan perilaku penderita yang cenderung lebih pendiam, pemalu atau sebaliknya malah terus menerus membanggakan kejayaan karirnya di masa lampau.

Penanganan

Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis misalnya), ia akan terhindar dari resiko terserang post-power syndrome.

Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, dan kematangan emosi seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase post-power syndrome ini. Seseorang yang bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.

Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya, atau ketidak mampuannya mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih mampu berpikir secara dingin. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya, meskipun tidak sehebat dulu. Akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah mengejek dan selalu menyindirnya, menggerutu, bahkan mengolok-oloknya.

Post-power syndrome menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.

 

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan ketika menghadapi gejala post power syndrome:

1. Perbanyak interaksi

Jalin dan perbanyak interaksi dengan anggota keluarga. Yang juga penting, banyak ngobrol dengan teman sebaya yang sudah pensiun. Kawan sebaya bisa diajak ngobrol ngalor-ngidul dengan tema yang sama-sama dimengerti. Mungkin nostalgia, atau ngomongin anak muda zaman sekarang yang ke mana-mana pegang gadget. Intinya adalah jangan sampai terlalu banyak bengong di rumah. Sebagai makhluk sosial, kita perlu bersosialisasi biar hidup lebih hidup.

2. Olahraga santai

Sudah pensiun, olahraga tetap harus rutin dilakukan. Kesehatan jasmani akan berpengaruh kepada kesehatan rohani lho. Tapi pilih olahraga yang santai saja, yang bikin tenang pikiran. Misalnya yoga atau main golf. Tenis santai juga boleh, bukan kejar-kejaran cari angka. Cobalah bersantai dengan olahraga ringan seperti main golf atau yang lain. Yang paling praktis dan murah adalah berenang. Paling gak seminggu dua kali usahakan berenang. Air bisa membantu menenangkan pikiran.

3. Berkebun

Bila punya hobi berkebun, tancap gas saja. Kalau belum punya, inilah saatnya untuk memulai karena kegiatan berkebun bisa menjauhkan diri dari stres. Tentunya bukan kebun berhektare-hektare ya, melainkan kebun dengan tanaman sederhana di pekarangan rumah. Baik laki-laki maupun perempuan yang sudah pensiun disarankan untuk berkebun. Kegiatan rutin menyirami, memberi pupuk, memotong daun, dan sebagainya bisa membuat otak rileks. Siapa tahu malah bisa usaha mengembangbiakkan bunga untuk dijual.

4. Pelihara hewan

Kegiatan pengusir stres ini kurang-lebih sama dengan berkebun. Bedanya adalah yang dirawat di sini hewan, bukan tanaman. Namun tentu bukan hewan bulldog yang agresif atau kucing manja yang jadi peliharaan. Hewan yang bisa jadi pilihan adalah burung atau ikan, karena sifatnya yang kalem.

Beberapa di antara kita mungkin hanya tinggal berdua di rumah, kalau memang dirasa sepi, keberadaan hewan peliharaan seperti burung bisa bikin tenang. Suara burung bahkan bisa bikin hati dan pikiran adem ayem di rumah. 

5. Berusaha tetap produktif

Ini berhubungan dengan hobi berkebun yang bisa dikembangkan jadi usaha di atas. Upayakan tetap produktif terutama agar pikiran tetap terasah, bukan dianggurkan. Tapi sebisa mungkin pilih aktivitas yang menuntut keaktifan lebih, misalnya menulis atau mengajar. Kalau berniat buka toko kelontong boleh saja, tapi aktivitas ini bisa jadi lebih banyak bengongnya ketimbang melayani pembeli. Kecuali sambil menunggu pembeli bisa bikin sesuatu, misalnya rajutan. Harus diingat, meski untuk mengisi waktu luang, usaha ini harus direncanakan dengan matang karena berhubungan dengan keuangan.

Setiap orang berisiko mengalami post power syndrome, terutama yang saat bekerja punya jabatan tinggi. Patok prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati kalau sekarang masih aktif bekerja. Bila jadi orang yang mudah marah atau sensi di masa pensiun akibat sindrom itu, bisa rugi sendiri. Nanti dianggap orang yang galak dan akhirnya dijauhi. Setelah pensiun, tentunya semua orang menginginkan kehidupan yang damai dan tenteram. Coba saja tips di atas untuk mengusir jauh risiko stres akibat kehilangan jabatan.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *