Pengertian Inteligensi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Pengertian Inteligensi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

1. Pengertian Inteligensi

Inteligensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Atau kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah, kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis seperti abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat bahasa dan sebagainya.

 

Definisi lain tentang inteligensi beberapa ilmuan menjelaskan bahwa inteligensi ialah suatu kemampuan umum yang merupakan suatu kesatuan. Yang lainnya berpendapat bahwa inteligensi bergantung pada banyaknya kemampuan yang saling terpisah. Ilmuan lain berpendapat bahwa:

  1. Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran inteligensi yang hidup antara tahun 1857-1911, bersama Theodore Simon mendefinisikan inteligensi terdiri atas tiga komponen, yaitu 1) Kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan, 2) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. 3) kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocritism.
  2. Edward Lee Thorndike (1913), seorang tokoh psikologi fungsionalisme yang hidup antara tahun 1874-1949, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
  3. David Wechsler, pencipta skala-skala inteligensi Wechsler yang sangat populer sampai waktu ini, mendefinisikan inteligensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif.
  4. William Stern mengemukakan Inteligensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya.Wiliam Stern berpendapat bahwa inteligensi sebagian besar tergantung degan dasar dan turunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada inteligensi seseorang.
  5. Watering, seorang mahaguru di Amsterdam menyatakan bahwa menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa inteligensi dapat diperbaiki atau dilatih. Belajar berpikir hanya diartikannya, bahwa banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.

Dari batasan yang dikemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa:

  1. Inteligensi itu ialah faktor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya turut mempengaruhi inteligensi seseorang).
  2. Kita hanya dapat mengetahui inteligensi dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Inteligensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui “kemampuan inteligensinya”.
  3. Bagi suatu perbuatan inteligensi bukan hanyakemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting. Faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.
  4. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.

Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan inteligensi adalah keseluruhan kemampuan seseorang untuk berpikir dan memberikan respon atau melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu.

 

2. Macam-Macam Inteligensi

 

1. Inteligensi terikat dan bebas

Inteligensi terikat adalah inteligensi suatu makhluk yang bekerja dalam situasi-situasi pada lapangan pengamatan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan vital yang harus segera di puaskan. Dalam situasi yang sewajarnya boleh dikatakan tetap keadaannya, maka dikatakan terikat. Perubahan mungkin dialami juga, kalau perbuatannya senantiasa diulang kembali. Misalnya inteligensi binatang dan anak-anak yang belum berbahasa.

Inteligensi bebas, terdapat pada manusia yang berbudaya dan berbahasa. Dengan inteligensinya orang selalu ingin mengadakan perubahan-perubahan untuk mencapai suatu tujuan. Kalau tujuan telah dapat dicapai, manusia ingin mencapai tujuan yang lain lebih tinggi dan lebih maju. Untuk hal-hal tersebut manusia menggunakan inteligensi bebas.

2. Inteligensi menciptakan (kreatif) dan meniru (eksekutif)

Inteligensi mencipta ialah kesanggupan menciptakan tujuan-tujuan baru dan mencapai alat-alat yang sesuai guna mencapai tujuan itu. Inteligensi kreatif menghasilkan pendapat-pendapat baru seperti: kereta api, radio, listrik, kapal terbang dan sebagainya. Inteligensi meniru, yaitu keampuan menggunakan dan mengikuti pikiran atau hasil penemuan orang lain, baik yang dibuat, yang diucapkan maupun yang ditulis.

 

3. Test Inteligensi

Test inteligensi adalah test psikologi yang mengukur inteligensi seseorang. Ada bermacam-macam test inteligensi. Ada test inteligensi untuk anak, ada test inteligensi untuk orang dewasa. Ada yang diberikan secara individual, ada yang diberikan secara klasikal atau kelompok. Ada yang lisan ada yang tertulis. Apa yang diukur oleh test inteligensi yang satu belum tentu sama dengan apa yang diukur oleh test inteligensi yang lain, meskipun kedua-duanya bertujuan untuk mengukur inteligensi. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan landasan teori tentang inteligensi pada tes inteligensi yang satu berbeda dengan landasan teori tentang inteligensi pada test inteligensi yang lain. Mungkin juga dasar pengukuran yang digunakan berbeda-beda.

Sehubungan dengan apa yang diukur oleh test inteligensi ada beberapa macam test inteligensi:

  1. Test inteligensi umum, yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang umum mengenai taraf inteligensi umum dari seseorang.
  2. Test inteligensi khusus, yang hanya memberikan keterangan tentang satu segi atau faktor yang spesifik dari inteligensi.
  3. Test inteligensi diferensial, yang memberikan gambaran mengenai kemampuan seseorang di dalam berbagai segi atau faktor inteligensi yang memungkinkan didapatkannya profil atau gambaran segi-segi kekuatan dan kelemahan dari berfungsinya inteligensi seseorang.

 

 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Inteligensi

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi, sehingga terdapat perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lain ialah:

a. Pembawaan

Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan kita yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama-tama ditentukan oleh pembawaan kita. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.

b. Kematangan

Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Anak-anak tak dapat memecahkan soal-soal tertentu, karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya. Organ-organ tubuhnya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk melakukan mengenai soal itu. Kematangan berhubungan erat dengan umur.

c. Pembentukan

Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).

d. Minat dan pembawaan yang khas

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar (manipulate and exploring motivasi). Dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lamakelamaan timbullah minat terhadap sesuatu.

e. Kebebasan

Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metodemetode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam perbuatan inteligensi.

 

Sumber :

  • Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2014),h.179.
  • ,h.180.
  • Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Inteligensi, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2013),h. 5
  • ,h. 6.
  • ,h.7.
  • Ngalim Purwanto, Psikologi …,h. 52.
  • Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar …,h.183.
  • ,h.183-184.
  • Abu Ahmadi,Psikologi Umum, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2003),h.187.
  • Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Inteligensi Bakat dan…,h.80-81.

 

 

 

Konsultan Psikologi

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *