HIPNOSIS

Hipnosis

1. Definisi Hipnosis

Hipnosis adalah suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada orang, dimana mereka akan memberikan respons pada pertayaan yang diajukan dan sangat terbuka dan reseptif terhadap sugesti yang di berikan oleh hipnoterapist. Teknik atau praktik dalam mempengaruhi orang lain untuk masuk ke dalam kondisi hipnosis. Hipnosis sendiri juga diartikan sebagai suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas meningkat sangat tinggi, seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadaranya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak. Hipnosis juga disebut sebagai seni eksplorasi alam bawah sadar, kesadaran yang meningkat, suatu kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti (Gunawan, 2012).

 

2. Jenis-Jenis Hipnosis

Jenis-jenis hipnosis dibagi menjadi 5 yaitu :

1) Stage Hypnosis

Stage hypnosis adalah hipnosis yang digunakan untuk pertunjukan hiburan, dalam stage hypnosis, hipnotis memilih subjek dari antara penonton, yang setelah melewati serangkaian uji sugestibilitas, membuat subjek tersebut masuk ke dalam kondisi trance. Kemudian hipnotis memberikan “program” yang akan dijalankan setelah subjek bangun atau sadar dari kondisi trance. Program yang dimasukan biasanya “aneh-aneh” dan tidak masuk akal, misalnya seorang pria mengaku hamil, handphone jadi sepatu, menjadi penyayi terkenal, dan sebagainya (Gunawan, 2012:13).

2) Anodyne Awareness

Anodyne Awareness adalah aplikasi hipnosis untuk mengurangi rasa sakit fisik dan kecemasan. Banyak dokter, tenaga medis, perawat, dan dokter gigi menggunakan teknik anodyne untuk membantu pasien menjadi rileks dengan sangat cepat dan mengurangi rasa sakit dengan mental anastesi (Gunawan, 2012:15).

3) Forensic hypnosis

Forensic hypnosis adalah penggunaan hipnosis sebagai alat bantu dalam melakukan investigasi atau penggalian informasi dari memori. Sering kali, dalam suatu kejadian yang mempuyai muatan emosi negatif tinggi, misalnya dalam kasus kejahatan, orang mengalami “lupa ingatan” akan kejadian tersebut. Hal itu terjadi karena pikiran bawah sadar menyembuyikan informasi traumatik sehingga tidak dapat diakses oleh pikiran sadar, dengan tujuan agar pengalaman buruk itu tidak lagi diingat (Gunawan, 2012:15).

4) Metaphysical Hypnosis

Metaphysical Hipnosis adalah aplikasi hipnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik. Jenis hipnosis ini bersifat eksperimental. Dengan hipnosis, seseorang akan dapat dengan sangat cepat masuk ke kondisi rileks yang sangat dalam (somnambulims), yang diukur dengan EEG akan menunjukan frekuensi gelombang otak yang sangat rendah(Gunawan, 2012:16).

5) Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy

Clinical Hypnosos atau Hypnotherapy adalah aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan masalah mental dan fisik (psikosomatis). Aplikasi dalam pengobatan penyakit, antara lain depresi, kecemasan, fobia, stres, penyimpangan perilaku mual dan muntah, nyeri, melahirkan, penyakit kulit, dan masih banyak lagi (Gunawan, 2012:14).

 

3. Fisiologis Hipnosis

a). Pola Gelombang Otak

Setiap orang punya pola gelombang yang unik dan selalu konsisten. Keunikan itu tampak pada komposisi ke empat jenis gelombang pada saat tertentu. Komposisi gelombang otak itu menentukan tingkat kesadaran seseorang. Meskipun pola gelombang otak ini unik, tidak berarti akan selalu sama sepanjang waktu. Kita dapat secara sadar, dengan teknik tertentu, mengembangkan komposisi gelombang otak agar bermanfaat bagi diri kita. Frekuensi impuls menentukan jenis gelombang otak yaitu Beta, Alfa, Theta, dan Delta. Jenis atau kombinasi dari jenis gelombang otak menentukan kondisi kesadaran pada satu saat (Gunawan, 2012:54).

Sistem Limbic salah saatu bagian otak yang berada pada bagian atas batang otak dan di bawah korteks. Adapun peran-peranan dari struktur sistem limbik itu sendiri antara lain banyak terlibat dengan fungsi emosi seperti perasaan senang yang berhubungan dengan kelangsungan hidup, pengalaman seksual, motivasi yang ada pada diri manusia, learning, fungsi neuroendokrin dan aktivitas autonomi dan memory yang nantinya akan mempengaruhi mekanisme tingkah laku individu. Sehingga nantinya sistem limbik juga memiliki peran dalam fungsi-fungsi seperti flight or fight, homoestatis, self- maintenance, napsu makan, dan seksualitas, dapat dikatakan bahwa sistem limbic merupakan nyawa yang menentukan bagaimana individu tersebut hidup dan berperilaku di lingkunganya (Muttaqin, 2012:16).

b). Beta

Beta adalah gelombang otak yang frekuensinya paling tinggi. Beta dihasilkan oleh proses berfikir secara sadar. Beta terbagi menjadi tiga bagian, yaitu beta rendah 12-15 Hz, beta 16-20 Hz, dan beta tinggi 21- 40 Hz. Gelombang beta memungkinkan seseorang memikirkan sampai 9 obyek secara bersamaan (Gunawan, 2012:55).

c). Alfa

Alfa adalah jenis gelombang yang frekuensinya sedikit lebih lambat dibandingkan beta, yaitu 8-12 Hz. Alfa berhubungan dengan kondisi pikiran yang rileks dan santai. Dalam kondisi alfa, pikiran dapat melihat gambaran mental secara sangat jelas dan dapat merasakan sensasi dengan lima indra dari apa yang terjadi atau dilihat dalam pikiran. Alfa adalah pintu gerbang bawah sadar (Gunawan, 2012:56).

d). Theta

Theta adalah gelombang otak, pada kisaran frekuensi 4-8 Hz, yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar (subconscious mind). Theta muncul saat kita bermimpi dan saat terjadi REM (rapid eye movement). Pikiran bawah sadar menyimpan memori jangka panjang kita dan juga merupakan gudang inspirasi kreatif. Selain itu, pikiran bawah sadar juga menyimpan materi yang berasal dari kreativitas yang ditekan atau tidak diberi kesempatan untuk muncul ke permukaan dan materi psikologis yang ditekan. Meskipun kita dapat masuk ke theta dan mengakses berbagai materi yang tersimpan di sana, bila tidak dibantu dengan gelomabang alfa dan beta. Semua materi yang berhubungan dengan emosi, baik itu emosi positif maupun negatif, tersimpan dalam pikiran bawah sadar (Gunawan, 2012:57).

e). Delta

Delta adalah gelombang otak yang paling lambat, pada kisaranya frekuensi 0,1-4 Hz, dan merupakan frekuensi dari pikiran unconscious mind. Pada saat kita tidur lelap, otak hanya menghasilkan gelombang delta agar kita dapat istirahat dan memulihkan kondisi fisik. Delta juga memberikan kebijakan dengan level kesadaran psikis yang sangat dalam (Gunawan, 2012:58).

f). Aktivasi Sistem Saraf Parasimpatik

Dalam diri manusia, sebagaimana berlaku pada semua mamalia, terdapat dua sistem saraf yaitu saraf pusat dan sistem saraf otonom. Sistem saraf pusat mengatur respons motorik hingga impresi sensori melalui otak dan saraf pada tulang belakang. Sistem saraf otonom mengatur sistem internal, yang biasanya merupakan gerak yang di luar kendali pikiran sadar. Yang termasuk dalam kendali sistem saraf otonom, antara lain adalah detak jantung sitem pecernaan, dan aktivitas kelenjar. Sistem saraf otonom terbagi menjadi dua bagian, yang cara kerjanya saling bertolak belakang. Sistem pertama adalah sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawah bersifat darurat. Misalnya jantung berdetak lebih cepat dan lebih kuat, tekanan darah meningkat, atau pernafasan menjadi lebih cepat. Penyebab sistem sarafsimpatik aktif karena respon dari perasaan takut dan tegang diterjemahkan sebagai suatu kondisi darurat dan tubuh manusia, secara refleks, menyimpan diri untuk memberikan respon lawan. Sebaliknya kerja sistem saraf parasimpatik mengakibatkan detak jantung melambat, tekanan darah turun, dan respon insting dari kondisi istirahat dan relaksasi (Muttaqin, 2012:31).

Respons parasimpatik mengakibatkan kita menajadi lebih tenang dan nyaman, semua itu bertujuan untuk menghambat energi tubuh. Kedua sistem saraf, simpatik dan parasimpatik, tidak bisa aktif bersamaan. Saat proses hipnosis dilakukan, yang terjadi sebenarnya adalah hipnosis mengaktifkan sistem saraf parasimpatik klien sehingga klien menjadi sangat rileks dan nyaman. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan terapi karena subjek akan tetap rileks (Gunawan, 2012:91)

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *