Kompetensi Karyawan

Pengertian Kompetensi

KOMPETENSI

Secara etimologis, kata kompetensi ini diadaptasi dari bahasa Inggris, yakni “competence” atau “competency” yang berarti kecekapan, wewenang dan kemampuan. Dengan begitu pengertian kompetensi ialah gabungan antara pengetahuan, atribut pribadi, dan keterampilan seseorang sehingga mampu meningkatkan kinerja serta memberikan kontribusi pada keberhasilan organisasinya.

Kompetensi dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu kompetensi teknikal (hard competency) dan soft competency. Kompetensi teknikal merupakan kompetensi yang terlihat dan mudah dikembangkan terdiri dari pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill). Spencer dan Spencer (1993) menulis bahwa Soft competency merupakan kompetensi yang sulit diamati dan sulit dikembangkan terdiri dari motif (motive), karakter (trait) dan konsep diri (self concept). Masih menurut Spencer dan Spencer (1993), meskipun sulit dan merupakan dasar dari fenomena gunung es, soft competency dapat diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.

Menurut Jack Gordon (1998), terdapat 6 aspek yang terdapat dalam konsep kompetensi, yakni:

  1. Pengetahuan (Knowledge)
  2. Pemahaman (Understanding)
  3. Nilai (Value)
  4. Kemampuan (Skill)
  5. Sikap (Attitude)
  6. Minat (Interest)

Menurut Stephen Robbin (2007:38), pengertian kompetensi adalah suatu kemampuan (ability) atau kapasitas seseorang untuk melakukan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, dimana kemampuan tersebut ditentukan oleh faktor intelektual dan fisik.

Sedangkan menurut UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kompetensi yang dimiliki karyawan harus mampu mendukung pelaksanaan strategi perusahaan dan mampu mendukung setiap perubahan yang dilakukan manajemen perusahaan dalam menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Untuk itu, kompetensi individu berupa keahlian, kemampuan dan pengetahuan harus dikembangkan, antara lain melalui seleksi, performance manajemen dan Training.

Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja karyawan. Menurut Pasal 1 Ayat 9 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.

Pelatihan yang efektif adalah pelaksanaan pelatihan yang dapat memperbaiki kinerja, meningkatkan keterampilan karyawan, memecahkan permasalahan, mendukung dan menunjang proses orientasi karyawan baru, menunjang persiapan promosi, dan memberi kepuasan untuk kebutuhan pengembangan sumber daya manusia sebagai seorang individu. Dengan kata lain, pelatihan yang efektif adalah pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi karyawannya.

Untuk mengadakan program pelatihan berbasis kompetensi, perusahaan harus memiliki matriks kompetensi. Matriks kompetensi memetakan kebutuhan kompetensi setiap karyawan, baik pada level corporate, divisi, departemen, unit kerja, serta kebutuhan kompetensi individu karyawan. Matriks kompetensi tersebut berfungsi sebagai kompas, pedoman, fokus, dan arah yang jelas dalam mendesain program pelatihan. Dengan begitu, pelatihan tidak hanya dilaksanakan karena ada pelatihan yang sedang trend, tidak sekedar mengikuti program-program pelatihan yang ditawarkan lembaga-lembaga penelitian, namun pelatihan diselenggarakan untuk menjawab pertanyaan, “Kompetensi apa saja yang perlu ditingkatkan oleh perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawan”.

Jenis-Jenis Kompetensi
Ada beberapa pendapat ahli yang menjelaskan mengenai jenis-jenis kompetensi. Berikut ini adalah beberapa jenis kompetensi menurut para ahli.

1. Charles E. Jhonson

Seperti yang dijelaskan dalam buku Wina Sanjaya (2005:34), menurut Charles E. Jhonson kompetensi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu;

a. Personal Competency; yaitu kemampuan individu dalam hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian seseorang.
b. Profesional Competency; yaitu kemampuan individu dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan dan penyelesaian tugas-tugas tertentu dalam pekerjaan.
c. Social Competency; kemampuan individu dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dan kepentingan sosial.

2. Dean Lyle Spencer dan Matthew Lyle Spencer

Seperti yang disebutkan dalam buku Surya Dharma (2003), menurut Dean Lyle Spencer dan Matthew Lyle Spencer kompetensi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu;

a. Kompetensi Dasar (Threshold Competency); yaitu karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat melakukan tugas-tugas dalam pekerjaannya. Misalnya kemampuan membaca, menulis, dan lain-lain.
b. Kompetensi Pembeda (Differentiating Competency); yaitu berbagai faktor yang membedakan individu yang kinerjanya tinggi dengan individu yang kinerjanya rendah.

3. Kunandar

Dalam bukunya (2007), Kunandar menyebutkan bahwa kompetensi dapat dibagi menjadi 5 jenis, yaitu;

a. Kompetensi Intelektual; yaitu perangkat pengetahuan yang dimiliki individu yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaannya.
b. Kompetensi Fisik; yaitu kemampuan fisik individu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas dalam pekerjaannya.
c. Kompetensi Pribadi; yaitu perangkat perilaku yang berhubungan dengan kemampuan individu dalam memahami diri, mewujudkan diri, identitas diri, dan transformasi diri.
d. Kompetensi Sosial; yaitu perangkat perilaku tertentu yang menjadi dasar pemahaman diri sebagai bagian dari lingkungan sosial.
e. Kompetensi Spiritual; yaitu kemampuan individu dalam memahami, menghayati, serta mengmalkan kaidah-kaidah keagamaan.

 

Manfaat Kompetensi 

Beberapa manfaat merekrut pekerja yang memiliki kompetensi adalah sebagai berikut:

  1. Memperjelas standar kerja dan harapan yang ingin dicapai oleh perusahaan.
  2. Kompetensi individu dapat digunakan sebagai alat seleksi tenaga kerja yang potensial.
  3. Kecakapan tenaga kerja akan memaksimalkan produktivitas perusahaan.
  4. Kecakapan atau kompetensi tenaga kerja dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan sistem remunerasi.
  5. Kompentensi dapat membantu perusahaan untuk dapat beradaptasi terhadap perubahaan yang terjadi.
  6. Kompetensi dapat memudahkan perusahaan dalam menyelaraskan perilaku kerja dengan nilai-nilai organisasi.

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *