TES INTELIGENSI

Wechsler Test

Seorang psikolog, David Wechler mengembangkan tiga alat tes inteligensi yaitu the Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), the Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), dan the Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI). Ketiga alat tes ini diterima dan banyak digunakan oleh psikolog klinis dan ahli-ahli lainnya. Namun, untuk alat tes yang digunakan untuk orang dewasa, the WAIS yang paling efektif. Wechlsler tes merupakan alat tes yang dikembangkan untuk melihat individu secara keseluruhan dan fokus pada proses bukan sekedar hasil skor pada tes.

  1. Sejarah dan Perkembangan The WAIS

Pada awalnya, the WAIS merupakan the Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WB) pada tahun 1939. Wechsler menunjukkan bahwa tes inteligensi seperti Stanford-Binet dirancang untuk mengukur inteligensi anak-anak dan untuk beberapa kasus yang mencakup orang dewasa tidak dapat sesuai. Terlebih untuk tes verbal yang standarnya kurang sesuai. Untuk mengatasi masalah ini, Wechsler  membuat alat tes yang bernama Wechsler-Bellevue, dimana item-itemnya banyak yang diadopsi dari Tes Binet-Simon, the Army Alpha, yang biasa digunakan untuk tes militer pada Perang Dunia I dan dari tes-tes lainnya. Pada tahun 1955, Wechsler-Bellevue diganti dengan the WAIS, yang direvisi kembali pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R, dan direvisi kembali menjadi the WAIS-3 pada tahun 1997. Item-item pada skala the WAIS diambil dari variasi tes, seperti pengalaman klinis dan dari proyek-proyek pilot. Item-item tersebut dipilih dengan dasar validitas empiris walaupun seleksinya didasari oleh Wechsler’s theory of the nature intelligence. Revisi the WAIS-R merupakan usaha untuk memodernisasi konten alat tes, seperti: informasi baru item subtes yang mengacu pada orang kulit hitam yang terkenal dan kepada wanita, untuk mengurangi ambiguitas, untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan kontroversial, untuk memfasilitasi administrasi, dan menilai dengan tepat sesuai dengan perubahan pada Manual.

Skala verbal Deskripsi
Information Mengukur tingkat pengetahuan. Berisi pertanyaan yang biasanya orang dewasa tahu. Contoh : Dari mana arah matahari terbit?
Digit Span Berisi pengulangan angka dari 3 sampai 9 digit dan 2 sampai 8 digit mundur. Untuk menilai memory dan efek dari kekacauan kecemasan.
Vocabulary Untuk menilai kosa kata.
Comprehension Untuk menilai pengetahuan umum dan penarikan kesimpulan.
Arithmetic (T) Untuk menilai tingkat konsentrasi. Mengatasi masalah pada anak-anak sekolah dasar.
Similarities Untuk mengukur penilaian abstrak (bagaimana 2 hal berkaitan atau berhubungan)

Table 5–1. The WAIS-R subtests

Performance scale Deskripsi
Picture Completion Tes dengan gambar-gambar yang ada bagian-bagian yang hilang. Untuk mengukur kecakapan terhadap detail-detail/ketelitian.
Picture Arrangement (T) Satu set gambar-gambar yang disusun menjadi sebuah cerita. Mengukur kemampuan membuat perencanaan.
Block Design (T) Sebuah desain untuk menyusun blok-blok yang penuh warna. Mengukur pertimbangan secara non lisan.
Object Assembly (T) Desain yang menyediakan objek-objek yang familiar seperti tangan, untuk disusun. Menilai kemampuan melihat hubungan dan membuat menjadi satu bagian.
Digit Symbol (T) Mengukur pertimbangan visual-motor. Dengan cara memasangkan 9 simbol dengan 9 digit angka sesuai dengan urutan yang tersedia.

2. Norm

Sampel normatif terdiri dari sekitar  1.900 individu sebagai representatif dari berbagai ras, dan wilayah tempat tinggal yang berbeda. Orang-orang ini didistribusikan secara merata di sembilan level umur, dari usia 16-17 , umur 70-74,  dan dewasa normal, dan penyandang kondisi kejiwaan atau fisik yang parah.

3. Pattern Analysis

Penggunaan skala Wechsler telah menghasilkan sejumlah besar informasi diantaranya: analisi pola, makna dari perbedaan antara skor skala subtes atau antara IQ verbal dan kinerja. Contohnya kita dapat mengharapkan IQ seseorang dan kinerja IQ Verbal menjadi cukup mirip. Pola kinerja mungkin berhubungan dengan beberapa kondisi diagnostik. Sebagai contoh, kinerja menghitung jauh lebih tinggi dari kemampuan kosa kata mungkin  hal ini menunjukkan belahan otak kiri mengalami penurunan kinerja otak kiri. (Haynes&Bensch,1981).

Wechler (1941) berpendapat bahwa perbedaan besar dari dua titik skala rata-rata subtes orang yang signifikan mencerminkan beberapa kelainan. Bagian sulit dari analisi adalah perbedaan antara subyek yang diperoleh oleh salah satu individu mungkin mencerminkan kondisi diagnostik yang rendah seperti objek majelis dan picture arrangement.

4. Factor Structure

Apakah tes Wechsler mengukur G, dua atau tiga faktor, adalah sebuah isu yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan. Studi dari analisis faktor sepertinya menyatakan bahwa ada satu faktor umum dalam WAIS, yang dinamakan ‘general reasoning’. Namun, banyak juga yang menemukan dua sampai tiga faktor penting lainnya, yang disebut ‘verbal comprehension’, ‘performance’, dan ‘memory’. WAIS-R juga telah difaktor-analisiskan dan hasilnya juga kurang jelas. Naglieri dan A.S Kaufman (1983) menampilkan enam faktor yang dianalisis menggunakan metode yang berbeda. Metode yang bervariasi menghasilkan dari satu sampai empat faktor, tergantung dari kelompok umur. Penulis menyimpulkan bahwa interpretasi yang paling bisa dipertahankan adalah dua faktor, Verbal dan Performance, dan diikuti dengan tiga faktor lain, yaitu: Verbal, Performance, dan Freedom from distractibility.

Penggunaan tes lebih ringkas yang menjadi aspek yang bernilai dari tes WAIS, dinamakan experimental clinical situation, dimana perilaku subjek dapat diobservasi dibawah kondisi yang standar. Hal itu secara umum disetujui bahwa tes yang lebih ringkas tersebut seharusnya hanya digunakan sebagai tes seleksi dibandingkan sebagai prosedur diagnostik atau asesSmen atau penelitian dimana perkiraan intelIgensi yang lebih dalam.

5. Group Administration

Meskipun tes Wechsler adalah tes yang diujikan per individu, beberapa investigator berusaha untuk mengembangkan tes ini ke dalam bentuk kelompok, dengan memilih bagian tes yang khusus dan mengubah prosedur pengontrolan sehingga sekelompok orang dapat diuji secara serentak. Hasil dari pengontrolan ini secara umum berkorelasi dari rentang 0,80 sampai 0,90 dengan standar pengontrolan, meskipun lagi menyatakan bahwa data observasi yang kaya dapat dikumpulkan dari pengontrolan per individual.

6. Examiner Error

Slate dan Hunnicut (1988) mengajukan beberapa alasan yang dapat menjelaskan adanya kesalahan penguji dalam skala Wechsler, yaitu:

  1. Kurangnya training dan kurangnya prosedur instruksional
  2. Ambiguitas dalam tes manual, kurang jelasnya penjelasan tentang pemberian skor, dan kurangnya instruksi yang lebih spesifik yang akhirnya mengambigukan respon
  3. Kecerobohan penguji dalam penghitungan maupun pengontrolan
  4. Kesalahan yang disebabkan karena perbedaan antara penguji dan yang diuji
  5. Masalah pekerjaan dari penguji

 

7. Criticism

Meskipun tes Wechsler sering digunakan, ada banyak kritik dalam kepustakaannya. G. Frank (1983) contohnya, menyatakan tes Wechsler seperti dinosaurus yang terlalu besar dan tidak dalam jalur konseptualisasi tertentu dari psikometrik dan inteligensi; ia juga berpendapat tes ini sebaiknya dihapus. Namun begitu, WAIS-R telah digunakan secara luas, baik dalam praktek klinis maupun penelitian, dan banyak keuntungan yang telah terbukti dari tes ini. Contohnya, berlawanan dengan pendapat umum, satu penemuan umum dari tes Wechsler adalah tes ini tidak memiliki bias sistematis yang berlawanan dengan kelompok minoritas.

     Keuntungan:

-Mencakup rentang umur 16-74 tahun

-Penyelesaian manual WAIS-R dapat mencangkup standar pengukuran kesalahan

-Skalanya memiliki konten dan struktur validitas

-Dapat digunakan untuk berbagai instansi

-Reliabilitas tinggi

-Dapat menghasilkan sejumlah besar informasi diantaranya : analisi pola, makna dari perbedaan antara skor skala subtes atau antara IQ verbal dan kinerja

-Tes ini tidak memiliki bias sistematis yang berlawanan dengan kelompok minoritas

Kelemahan:

Tes ini terlalu besar dan tidak dalam jalur konseptualisasi tertentu dari psikometrik dan inteligensi serta adanya examiner error.

TES IST (Inteligence Structure Test)

  1. Sejarah Perkembangan Tes IST (Intelligenz Struktur Test)

Tes IST merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953. Amthauer mendefinisikan inteligensi sebagai keseluruhan struktur dari kemampuan jiwa-rohani manusia yang akan tampak jelas dalam hasil tes. Intelegensi hanya akan dapat dikenali (dilihat) melalui manifestasinya misalnya pada hasil atau prestasi suatu tes.

Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes yang dinamakan IST dengan hipotesis kerja sebagai berikut:

“Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara hierarkis; maksudnya bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada bidang-bidang yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.”

Pandangan Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori bifaktor, teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang diperlukan suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara subtes satu dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor yang sama (general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak berhubungan karena masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor). Sedangkan kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes-subtes. Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9 subtes.

2. Perkembangan Tes IST

Karakteristik dari baterai tes Amthauer menunjukkan adanya suatu interkorelasi yang rendah antar subtesnya (r=0.25) dan korelasi antara subtes dengan jumlah (keseluruhan subtes) yang rendah pula (r=0.60).

Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer dengan bantuan dari para koleganya, berikut adalah perkembangan tes IST dari tahun 1953 hingga tahun 2000-an.

Tes IST 1953

Tes IST yang pertama ini pada awalnya hanya digunakan untuk individu usia 14 sampai dengan 60 tahun. Proses penyusunan norma diambil dari 4000 subjek pada tahun 1953.

Tes IST 1955

Tes IST merupakan pengembangan dari IST 1953, pada IST 1955 rentang usia untuk subjek diperluas menjadi berawal dari umur 13 tahun. Subjek dalam penyusunan norma bertambah menjadi 8642 orang. Pada tes ini sudah ada pengelompokan jenis kelamin dan kelompok usia.

Tes IST 1970

Berdasarkan permintaan dan tuntutan pengguna yang menyarankan pengkoreksian dengan mesin juga pengembangan tes setelah penggunaan lebih dari 10 tahun, maka disusunlah IST 70. Dalam IST 70 ini tidak terlalu banyak perubahan, tes ini memiliki 6 bentuk, setiap pemeriksaan dilakukan 2 tes sebagai bentuk paralel; yaitu A1 dan B2, atau C3 dan D4. Dua bentuk lainnya untuk pemerintah dan hanya bagi penggunaan khusus. Pada IST 70, rentang kelompok usia diperluas menjadi berawal dari 12 tahun. Disamping itu telah ditambah tabel kelompok dan pekerjaan. Namun demikian, pada IST 70 terdapat kekurangan yaitu penyebaran bidang yang tidak merata dan menggunakan kalimat dalam subtes RA sehingga jika subjek gagal dalam subtes ini dapat dimungkinkan karena tidak mampu mengerjakan soal hitungannya atau tidak mengerti kalimatnya.

Tes IST 2000

Sebagai koreksi dari IST 70, pada IST 2000 tidak terdapat soal kalimat pada soal hitungan.

Tes IST 2000-Revised

Pada IST 2000-R ini terdapat beberapa perkembangan subtes juga penambahan subtes. IST ini terdiri dari 3 modul, yaitu sebagai berikut:

Grund modul-Kurzform (Modul Dasar-Singkatan); terdiri dari subtes : SE, AN, GE, RE, ZR, RZ, FA, WU, dan MA.

Modul ME: terdiri dari subtes ME Verbal dan ME Figural

Erweiterungmodul (Modul menguji pengetahuan); terdiri dari subtes Wissentest (tes pengetahuan)

IST yang digunakan di Indonesia adalah IST hasil adaptasi Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung. Adaptasi dilakukan kepada IST-70. Tes ini pertama kali digunakan oleh Psikolog Angkatan Darat Bandung, Jawa Barat (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).

Fungsi dan Tujuan IST

Tes ini dipandang sebagai Gestalt (menyeluruh), yang terdiri dari bagian- bagian yang saling berhubungan secara makna (struktur). Dimana struktur intelegensi tertentu meggambarkan pola kerja tertentu, sehingga akan cocok untuk profesi atau pekerjaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut IST umum digunakan untuk memahami diri dan pengembangan pribadi, merencanakan pendidikan dan karier serta membantu pengambilan keputusan dalam hidup individu.

Subtes-subtes dalam IST

IST terdiri dari sembilan subtes yang keseluruhannya berjumlah 176 item. Masing-masing subtes memiliki batas waktu yang berbeda-beda dan diadministrasikan dengan menggunakan manual (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).

Sembilan subtes dalam IST, yaitu:

  1. SE: melengkapi kalimat. Pada subtes ini yang diukur adalah pembentukan keputusan, common sense (memanfaatkan pengalaman masa lalu), penekanan pada praktis-konkrit, pemaknaan realitas, dan berpikir secara berdikari/ mandiri.
  2. WA: melengkapi kalimat. Pada subtes ini akan diukur kemampuan bahasa, perasaan empati, berpikir induktif menggunakan bahasa, dan memahami pengertian bahasa.
  3. AN: persamaan kata. Pada subtes ini yang diukur adalah kemampuan fleksibilitas dalam berpikir, daya mengkombinasikan, mendeteksi dan memindahkan hubungan- hubungan, serta kejelasan dan kekonsekuenan dalam berpikir.
  4. GE: sifat yang dimiliki bersama. Pada subtes ini hal yang akan diukur adalah kemampuan abstraksi verbal, kemampuan untuk menyatakan pengertian akan sesuatu dalam bentuk bahasa, membentuk suatu pengertian atau mencari inti persoalan, serta berpikir logis dalam bentuk bahasa.
  5. RA: berhitung. Dalam subtes ini aspek yang dilihat adalah kemampuan berpikir praktis dalam berhitung, berpikir induktif, reasoning, dan kemampuan mengambil kesimpulan.
  6. ZR: deret angka. Dalam subtes ini akan dilihat bagaimana cara berpikir teoritis dengan hitungan, berpikir induktif dengan angka-angka, serta kelincahan dalam berpikir.
  7. FA: memilih bentuk. Pada subtes ini akan mengukur kemampuan dalam membayangkan, kemampuan mengkonstruksi (sintesa dan analisa), berpikir konkrit menyeluruh, serta memasukkan bagian pada suatu keseluruhan.
  8. WU: latihan balok. Pada subtes ini hal yang akan diukur adalah daya bayang ruang, kemampuan tiga dimensi, analitis, serta kemampuan konstruktif teknis.
  9. ME: latihan simbol. Subtes ini mengukur daya ingat, konsentrasi yang menetap, dan daya tahan.

Skoring dan Interpretasi Tes IST

Skoring

Tahap skoring yang digunakan untuk setiap subtes adalah dengan memeriksa setiap jawaban dengan menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan. Untuk semua subtes  (SE, WA, AN, RA, ZR, FA, WU, & ME), kecuali subtes 04-GE, setiap jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk jawaban salah diberi nilai 0. Khusus untuk subtes 04-GE, tersedia nilai 2, 1, dan 0; karena subtes ini berbentuk isian singkat maka nilai yang  akan diberikan tergantung dengan jawaban yang diberikan oleh subjek.

Total nilai benar yang sesuai dengan kunci jawaban merupakan Raw Score (RW); nilai ini belum dapat diinterpretasi sesuai dengan norma yang digunakan. Nilai RW yang sudah dibandingkan dengan norma disebut dengan Standardized Score (SW). Nilai SW inilah yang dapat menjadi materi untuk tahap selanjutnya, yaitu interpretasi. Adapun norma yang digunakan adalah sesuai dengan kelompok umur subjek.

Interpretasi

Setelah didapatkan Standardized Score, maka tahap interpretasi dapat dilakukan. Kesembilan subtes saling berkaitan, sehingga harus dilakukan semuanya dan interpretasinya harus dilakukan secara keseluruhan (Amthauer dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).

Interpretasi yang dapat dilakukan dari tes IST adalah sebagai berikut:

Taraf kecerdasan. Taraf kecerdasan didapat dari total SW. Nilai ini dapat diterjemahkan menjadi Intelligent Quotient (IQ). Nilai ini dapat menggambarkan perkembangan individu melalui pendidikan dan pekerjaan. Nilai ini perlu dihubungkan dengan latar belakang sosial serta dibandingkan dengan kelompok seusianya. Dimensi Festigung-Flexibilität. Dimensi Festigung-Flexibilität menggambarkan corak berpikir yang dimiliki oleh subjek.

Dimensi Festigung-Flexibilität merupakan dua kutub yang ekstrim, Keduanya menggambarkan corak berpikir yang ekstrim pula. Kutub Festigung memiliki arti corak berpikir yang eksak, sedangkan kutub Flexibilität memiliki arti corak berpikir yang non-eksak. Corak berpikir ini merupakan hasil perkembangan (pengalaman) individu yang akan semakin mantap ke salah satu kutub seiring bertambahnya usia. Cara menentukan seseorang subjek apakah memiliki kecenderungan Festigung atau Flexibilitat adalah dengan membandingkan nilai GE+RA dengan nilai AN+ZR. Jika nila GE+RA lebih besar maka subjek memiliki kecenderungan Festigung, sebaliknya jika nilai AN+ZR lebih besar maka subjek memiliki kecenderungan Flexibilitat.

Profil M-W. Profil M-W menggambarkan cara berpikir, apakah verbal-teoritis atau praktis-konkrit. Untuk mendapatkan profil dalam bentuk huruf M atau W ini dapat dilihat dari 4 subtes pertama (SE, WA, AN, GE) yang tampak pada grafik. Jika grafik menunjukkan bentuk huruf M pada 4 subtes pertama maka profilnya adalah M (verbal-teoritis), jika yang tampak adalah bentuk huruf W maka profilnya adalah W (praktis-konkrit).

TES  PM (Progresive Matrices)

Sejarah Tes PM

Raven Progressive Matrices (sering disebut sebagai Raven Matriks) atau RPM adalah tes kelompok nonverbal biasanya digunakan dalam pengaturan pendidikan. Tes ini merupakan tes yang paling populer dan paling umum, diberikan kepada kelompok anak dari 5 tahun sampai orangtua. Berdasarkan teori dari Sperman yang disebut dengan Teori Dua Faktor yang terdiri dari dua kemampuan mental yaitu inteligensi umum“General Factor = faktor g” dan kemampuan spesifik “Special Factor = faktor s”. Menurut  Spearman bahwa  kemampuan seseorang bertindak dalam setiap situasi sangat bergantung pada kemampuan umum dan kemampuan khusus. Dari teori tersebut, J.C. Raven dari Inggris (1938) menciptakan tes “PM” guna mengukur inteligensi umum. Dikontruksi di Inggris untuk rekrutmen tentara dari rakyat sipil, karena pada zaman itu banyak rakyat Inggris yang belum berpendidikan.

Karakteristik soal Tes PM

Terdiri dari suatu set matriks atau susunan bagian dari desain. Pada setiap persoalan terdapat suatu bagian yang dihilangkan pada ujung kanan bawah dari desain tersebut. Tugas subyek adalah memilih dari sejumlah alternatif jawaban yang tersedia yang cocok untuk mengisi bagian yang hilang. Soal yang mudah hanya menuntut ketepatan dalam diskriminasi. Sedangkan soal yang lebih sulit melibatkan kemampuan analogi, pergantian pola serta hubungan logis. Jadi dapat disimpulkan bahwa tes “PM” berguna untuk mengukur kemampuan seseorang untuk berpikir non verbal dalam bentul simbol-simbol abstrak, mengukur bakat keruangan, penalaran induktif dan ketepatan perseptual dan faktor lain yang mempengaruhi performa

Berikut adalah contoh dari soal tes PM

Perkembangan tes “PM”

Tes ini memiliki tiga bentuk tes yang berbeda derajat kesulitannya sehingga dapat digunakan bagi bermacam populasi subyek. Adapun ketiga jenis tersebut adalah sebagai berikut :

  1. “CPM” (Coloured Progresive Matrices)

Dimana jenis tes ini memiliki norma persentil bagi anak yang berusia 5 sampai 11 tahun, dan norma tambahan bagi usia 60 sampai 89 tahun dan yang terbelakang mental. Tes CPM terdiri dari 36 soal dalam 3 set yaitu :A,AB,dan B. dapat berbentuk buku soal maupun papan

  1. “SPM” (Standart Progresive Matrices)

Tes ini baru digunakan pada tahun 1954. Tes untuk usia 11 sampai 16 tahun, dimana terdiri dari 60 butur soal atau pola dalam 5 set yaitu :A,B,C,D, dan E, dan masing set terdiri atas 12 butir tes. Butir-butir soal tersebut disusun dari yang termudah sampai yang tersulit, dimana kondisi ini menunjukkan bahwa dibutuhkan kapasitas kognitif yang lebih besar untuk memasukkan dan menganalisa informasi di dalam otak kita.

SPM tidak memberikan suatu angka IQ akan tetapi menyatakan hasilnya dalam tingkat atau level intelektualitas dalam beberapa kategori, menurut besarnya skor dan usia subyek yang dites, yaitu :

Grade I : kapasitas intelektual superior, Grade II : Kapasitas intelektual di atas rata-rata, Grade III : Kapasitas intelektual rata-rata, Grade IV ; Kapasitas inteletual di bawah rata-rata, Grade V : Kapasitas intelektual terhambat.

  1. “APM” (Advanced Progresive Matrices)

Tes ini disusun oleh J.C. Raven pada tahun 1943, tes ini digunaka untuk remaja dan orang dewasa yang diprediksikan memiliki kemampuan di atas rata-rata. Terdiridari 2 set dan bentuknya non verbal. Set 1 disajikan dalam buku tes yang terdiri dari 12 soal dan set 2 terdir dari 36 soal. Variasi soal disusun mulai dari yang mudah sampai yang paling susah. Digunakan untuk mengatur tingkat inteligensi, disamping untuk tujuan analisis klinis

Dengan demikian, dapat  dilihat bahwa aspek- aspek yang diungkapkan dalam tes Raven Progressive Matrices adalah :

  1. Daya abstraksi, yaitu kemampuan menangkap, membayangkan, dan menganalisa suatu hal yang dilihat atau ditangkap indera kita secara abstrak
  2. Berpikir logis/ menalar, yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan yang sah menurut aturan logika dan dapat membuktikan bahwa kesimpulan itu benar sesuai dengan pengetahuan sebelumnya
  3. Berpikir sistematis, yaitu kemampuan untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan urutan, tahapan, langkah-langkah, atau perencanaan yang tepat, efektif, dan efisien
  4. Kecepatan & ketelitian, yaitu kemampuan untuk menangkap, mengolah informasi dengan cepat dan teliti
  5. Konsentrasi,yaitu kemampuan untuk memberikan atensi atau perhatian terhadap suatu hal dalam suatu waktu dengan baik

Waktu lamanya Tes “PM”

CPM dan SPM memiliki waktu pengerjaan 25 menit sedangkan APM untuk set 1 waktunya 5 menit dan untuk set 2 waktunya 25 menit

Mamfaat Tes “PM”

  • Tes PM ini bermamfaat untuk mengukur inteligensi umum
  • Tes ini merupakan tes yang tidak pengaruhi budaya (Culture Fair Tes) sehingga dapat digunakan tanpa dipengaruhi faktor bahasa (non verbal)
  • Tes PM mudah pengadministrasian dan penyekorannya

Skoring dalam tes PM

  • Hitung jumlah jawaban benar dari orang tersebut
  • Lihatlah norma untuk mengetahui golongan dari orang tersebut
  • Soal dari RPM disusun berdasarkan derajat kesulitan,sehingga distribusi kesalahan menunjukkan optimalisasi proses kerja dan derajat kemampuan peserta

CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

  1. Sejarah CFIT

Culture-Fair Intelligence Test dari Cattel pertama kali dikeluarkan pada tahun 1944 dan satu-satunya percobaan yang pertama mengembangkan kecerdasan yang diukur bebas dari pengaruh budaya. Tes tersebut dianggap menjadi ukuran “g” (measure of “g”) dan mencerminkan teori Cattel yaitu Fluid Intelligence dan Crystallized Intelligence. Fluid Intelligence terdiri dari kemampuan yang nonverbal, yang tidak bergantung pada pengalaman yang spesifik, dan karena itu relatif bebas dari budaya. Pada dasarnya, Fluid Intelligence adalah kapasitas mental umum untuk pemecahan masalah, terutama pada situasi baru. Crystallized Intelligence mengacu pada skill yang diperoleh dan pengetahuan, mencerminkan khususnya pendidikan pengalaman, dan karena itu berhubungan dengan budaya. Cystallized Intelligence dikembangakan melalui penggunaan Fluid Intelligence, dan faktanya, keduanya sangat berhubungan.

  1. Perkembangan CFIT

Test Cattel terdiri dari tiga skala : Skala I untuk usia 4 sampai 8, skala II untuk usia 8 sampai 12 dan “orang dewasa rata-rata”, dan skala III untuk siswa SMA dan orang dewasa unggul. Skala I terdiri dari 8 substansi yang melibatkan labirin, menyalin simbol, mengidentifikasi gambar yang sama, dan tugas non verbal lainnya. Skala I dan II keduanya terdiri dari 4 subtes : (1) seri subtest dimana urutan gambar dilengkapi dengan memilih diantara pilihan respon, (2) klasifikasi subtes, dimana responden memilih satu gambar yang berbeda dari gambar yang lain, (3) subtes Matriks yang membutuhkan penyelesaian matriks atau pola, dan (4) ketentuan subtes, yang mengharuskan responden untuk mengidentifikasi beberapa gambar geometris memenuhi kondisi tertentu. Dua form yang tersedia, form A dan B, yang dikombinasi dan diberikan sebagai skala tunggal dalam proses standardisasi.

Di sisi lain, ada lembaga besar sastra yang menyarankan bahwa culture-fair test seperti Cattel memenuhi tidak hanya teoritis dan kepedulian sosial tetapi juga kebutuhan praktis.

Penulis menyimpulkan bahwa Cattel adalah ukuran yang lebih baik dari inteligensi untuk kelompok minoritas daripada WISCR, karena hal tersebut mengurangi efek bias budaya dan menyajikan gambaran “yang lebih akurat” dari kapasitas intelektual mereka

 PENUTUP

Kesimpulan

 Adanya Tes Inteligensi dari WB,WAIS,IST,PM, dan CFIT membantu berbagai instansi baik dibidang pemerintahan maupun pendidikan, khususnya mengenai inteligensi secara umum. Berikut adalah tujuan dari setiap tes inteligensi : Tujuan test WAIS adalah untuk mengungkapkan inteligensi orang dewasa, disisi lain pemisahan verbal dan performance IQ juga bertujuan untuk keperluan diagnosa jika misalya seseorang mendapat kesulitan dalam bidang verbal atau cultural. Dimana verbal à informasi pemahaman aritmatika da persamaan kosakata (selisih digit); performa à mendesain balok, menyempurnakan  gambar, merangkai objek , dan selisih digit. Mamfaat dari tes PM dan CFIT adalah  tes inteligensi umum yang tidak dipengaruhi budaya sehingga dapat digunakan oleh seluruh individu di dunia (non verbal).

Tes IST memiliki striktur inteligensi tertentu oleh karena itu akan cocok untuk profesi atau pekerjaan tertentu, yang meliputi pemahaman diri, merencanakan pendidikan,serta pengambilan keputusan.

Bagi guru à test ini dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran pelajaran dan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan yang setara, menganalisis berbagai masalah yang dialami murid

Bagi konselor à tes inteligensi dapat digunakan untuk membuat diagnosa, dan juga sebagai media untuk mengawali proses konseling

DAFTAR PUSTAKA

Domino, George. 2006. Psychological Testing an Indruction. New York. Cambridge Univ.

Groth, Marnat. 2003. Psychological Assessment. New Jersey. University of Minnesota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *