Pengertian Produktivitas Kerja dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Para ekonom biasanya mendefinisikan produktivitas sebagai  “ratio output” dibandingkan dengan  “input fisik”. Hal tersebut biasanya dihubungkan dengan industri-industri secara keseluruhan pada sektor-sektor dalam suatu perekonomian.
Menurut Hasibuan (1996:126) Produktivitas adalah perbandingan antara output (hasil) dengan input (masukan). Jika Produktivitas naik ini hanya dimungkinkan oleh adanya peningkatan efisiensi (waktu-bahan-tenaga) dan sisitem kerja, teknik produksi dan adanya peningkatan keterampilan dari tenaga kerjanya.
Menurut Riyanto (1986 : 22) secara teknis produktivitas adalah suatu perbandingan antara hasil yang dicapai (out put) dengan keseluruhan sumber daya yang diperlukan (input). Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran tenaga kerja persatuan waktu.
Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang. Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran dengan jumlah yang digunakan atau jumlah jam kerja karyawan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja adalah kemampuan karyawan dalam berproduksi dibandingkan dengan input yang digunakan, seorang karyawan dapt dikatakan produktif apabila mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan diharapkan dalam waktu yang singkat atau tepat.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas, antara lain :
a. Bersumber dari pekerjaan
Suatu pekerjaan yang banyak memerlukan gerakan yang dapat mengakibatkan produktivitas kerja menjadi rendah. Oleh karena itu, agar gerakan dalam melakukan pekerjaan cepat dan tepat terlebih dahulu diadakan “Time and Motion Study”. Dengan dua studi tersebut dapat tercipta gerakan  – gerakan yang efektif dan dapat memperlancar pekerjaan sekaligus mengurangi kesalahan karyawan.
b. Bersumber dari karyawan itu sendiri.
Semangat dan kegairahan kerja para karyawan merupakan unsur penting guna mencapai produktivitas yang tinggi. Maka sebaiknya pimpinan memperhatikan unsur penting tersebut seperti melalui :
  • Gaji yang memadai
  • Kebutuhan karyawan perlu diperhatikan
  • Penempatan karyawan pada posisi yang tepat

Selain dari kedua sumber tersebut diatas maka faktor-faktor lain yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah:

1) Pendidikan
Tingkat kecerdasan karyawan dilihat dari tingkat pendidikannya. Semakin tinggi pendidikan semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan tujuan kejenjang yang lebih baik. Oleh karena itu, pendidikan berhubungan dengan produktivitas kerja staf dan karyawan.
2) Kesehatan jasmani dan rohani
Salah satu tugas pimpinan perusahaan adalah menjamin kesehatan karyawan yaitu dengan cara mengatur jam kerja, meniadakan lembur sehingga dapat menciptakan kegiatan kerja para karyawan. Karyawan yang sehat juga pasti akan dapat meningkatkan produktivitas kerjanya.
3) Lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang baik akan berpengaruh besar dalam meningkatkan produktivitas. Lingkungan kerja yang bersih dapat mempengaruhi karyawan untuk bekerja lebih giat.
4) Faktor Manajerial
Gaya kepemimpinan yang efektif, memotivasi, mengarahkan, dan menggerakan bawahannya agar dapat bekerja dengan lebih semangat dan bergairah dalam melaksanakan tugas.
5) Motivasi
Pemberian motivasi oleh seseorang pimpinan yang baik akan membimbing dan melatih karyawannya. Memotivasi setiap karyawan tidaklah mudah, sebab setiap karyawan mempunyai latar belakang, pengalaman, harapan dan keinginan yang berbeda.
6) Peralatan yang digunakan
Peralatan yang digunakan mempunyai efek yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas kerja. Produktivitas kerja seorang karyawan perlu mendapat perhatian dari perusahan karena produktivitas kerja akan meningkatkan keuntungan bagi perusahaan. Produktivitas dapat dimaksudkan sebagai penggunaan sumber-sumber ekonomi yang digerakan secara efektif dan memerlukan keterangan organisator dan teknik sehingga mempunyai tingkat hasil guna yang tinggi, artinya hasil yang diperoleh seimbang dengan masukan yang diolah.

Pengertian Produktivitas Kerja

Pengertian Produktivitas Kerja

Pengertian Produktivitas Kerja menurut Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo (1995:281) produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah barang dan jasa) dengan sumber (jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energi, dan sebagainya) yang dipakai untuk menghasilkan hasil tersebut. Sedangkan George J. Washinis (Rusli Syarif,1991:1) memberi pendapat bahwa “Produktivitas mencakup dua konsep dasar yaitu daya guna dan hasil guna. Daya guna menggambarkan tingkat sumber-sumber manusia, dana, dan alam yang diperlukan untuk mengusahakan hasil tertentu, sedangkan hasil guna menggambarkan akibat dan kualitas dari hasil yang diusahakan.”

Menurut profesor Luis Sabourin (Rusli Syarif,1991:1) adalah “Rumusan tradisional dari produktivitas total tidak lain adalah ratio dari apa yang dihasilkan terhadap saluran apa yang digunakan untuk memperoleh hasil tersebut. “Menurut Mukiyat (1998:481) bahwa produktivitas kerja biasanya dinyatakan dengan suatu imbangan dari hasil kerja rata-rata dalam hubungannya dengan jam kerja rata-rata dari yang diberikan dengan proses tersebut.

Sedangkan konsep produktivitas menurut piagam OSLA tahun 1984 adalah (J. Ravianto,1986:18) :

  1. Produktivitas adalah konsep universal, dimaksudkan untuk menyediakan semakin banyak barang dan jasa untuk semakin banyak orang dengan menggunakan sedikit sumber daya.
  2. Produktivitas berdasarkan atas pendekatan multidisiplinyang secara efektif merumuskan tujuan rencana pembangunan dan pelaksanaan cara-cara produktif dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien namun tetap menjaga kualitas.
  3. Produktivitas terpadu menggunakan keterampilan modal, teknologi manajemen, informasi, energi, dan sumber daya lainnya untuk mutu kehidupan yang mantap bagi manusia melalui konsep produktivitas secara menyeluruh.
  4. Produktivitas berbeda di masing-masing negara denga kondisi, potensi, dan kekurangan serta harapan yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan dalam jangka panjang dan pendek, namun masing-masing negara mempunyai kesamaan dalam pelaksanaan pendidikan dan komunikasi.
  5. Produktivitas lebih dari sekedar ilmu teknologi dan teknik manajemen akan tetapi juga mengandung filosofi dan sikap mendasar pada motivasi yang kuat untuk terus menerus berusaha mencapai mutu kehidupan yang baik.
Menurut Komarudin, produktivitas pada hakekatnya meliputi sikap yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode kerja hari ini harus lebih baik dari metode kerja kemarin dan hasil yang dapat diraih esok harus lebih banyak atau lebih bermutu daripada hasil yang diraih hari ini (Komarudin, 1992:121).

Sedangkan menurut Woekirno produktivitas adalah kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang telah atau sedang berada dalam usahanya. Pokoknya menambah kegiatan guna menghasilkan lebih dari apa yang telah dicapai (Woekirno Sumardi, 1979:3). Bambang Kusriyanto (1993) juga memberikan pendapatnya bahwa produktivitas merupakan nisbah atau ratio antara hasil kegiatan (output) dan segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input).

Menurut Sondang P Siagian, produktivitas kerja adalah kemampuan memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal, kalau mungkin yang maksimal (Sondang P Siagian, 1982:15).

Menurut Handari Nawawi dan Kartini Handari, 1990:97-98). Menjelaskan secara konkrit konsep produktivitas kerja sebagai berikut:

  1. Produktivitas kerja merupakan perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh dengan jumlah kerja yang dikeluarkan. Produktivitas kerja dikatakan tinggi jika hasil ynag diperoleh lebih besar dari pada sumber tenaga kerja yang dipergunakan dan sebaliknya.
  2. Produktivitas yang diukur dari daya guna (efisiensi penggunaan personal sebagai tenaga kerja). Produktivitas ini digambarkan dari ketepatan penggunaan metode atau cara kerja dan alat yang tersedia, sehingga volume dan beban kerja dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang tersedia. Hasil yang diperoleh bersifat non material yang tidak dapat dinilai dengan uang, sehingga produktivitas hanya digambarkan melalui efisiensi personal dalam pelaksanaan tugas-tugas pokoknya.
Peningkatan produktivitas merupakan dambaan setiap perusahaan, produktivitas mengandung pengertian berkenaan denagan konsep ekonomis, filosofis, produktivitas berkenaan dengan usaha atau kegiatan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia dan masyarakat pada umumnya.

Sebagai konsep filosofis, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal ini yang memberi dorongan untuk berusaha dan mengembangkan diri.

Sedangkan konsep sistem, memberikan pedoman pemikiran bahwa pencapaian suatu tujuan harus ada kerja sama atau keterpaduan dari unsur-unsur yang relevan sebagai sistem.

Produktivitas pada dasarnya mencakup sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan hari kemarin harus lebih baik dari hari ini. Cara kerja hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hasil kerja yang dicapai esok hari harus lebih baik dari yang diperoleh hari ini. (Payman J. Simanjuntak, 1987:34-35).

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa di dalam meningkatkan produktivitas kerja memerlukan sikap mental yang baik dari pegawai, disamping itu peningkatan produktivitas kerja dapat dilihat melalui cara kerja yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan dan hasil kerja yang diperoleh. Sehingga dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa di dalam produktivitas kerja terdapat unsur pokok yang merupakan kriteria untuk menilainya. Ketiga unsur tersebut adalah unsur-unsur semangat kerja, cara kerja, dan hasil kerja.

Unsur semangat kerja dapat diartikan sebagai sikap mental para pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dimana sikap mental ini ditunjukan oleh adanya kegairahan dalam melaksanakan tugas dan mendorong dirinya untuk bekerja secara lebih baik dan lebih produktif. Sehingga apabila kondisi yang demikian dapat dijaga dan dikembangkan terus menerus, tidak mustahil upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja akan dapat tercapai.

Untuk menilai semangat kerja karyawan dapat dilihat dari tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas pekerjaanya. Hal ini sebagai mana dikemukakan oleh Alfred R. Lateiner dan LE. Lavine bahwa “faktor-faktor yang mempunyai pengaruh terhadap semangat kerja yaitu kesadaran akan tanggung jawab terhadap pekerjaanya” (Alfred R. Lateiner dan JE. Lavine, 1983:57).

Unsur kedua dari produktivitas kerja adalah cara kerja atau metode kerja. Cara atau metode kerja pegawai dalam melaksanakan tugas pekerjaannya dapat dilihat melalui kesediaan para pegawai untuk bekerja secara efektif dan efisien.

Ukuran ketiga dari produktivitas kerja adalah hasil kerja. Hasil kerja merupakan hasil yang diperoleh dari pekerjaan yang dilaksanakan oleh karyawan. Hasil kerja yang diperoleh oleh pegawai merupakan prestasi kerja pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Hasil kerja ini dapat dilihat dari jumlah atau frekuensi di atas standar yang ditetapkan. Hal ini menandakan bahwa karyawan tersebut produktif di dalam menyelesaikan tugas-tugas pekerjaannya.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa produktivitas kerja pegawai dapat diukur dengan adanya semangat kerja dari pegawai dalam menyelesaikan setiap tugas yang dibebankannya, dengan selalu berdasarkan pada cara kerja atau metode kerja yang telah ditetapkan sehingga akan diperoleh hasil kerja yang memuaskan.

Dari pendapat di atas, dapat menyimpulkan bahwa produktivitas kerja adalah suatu kemampuan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan suatu produk atau hasil kerja sesuai dengan mutu yang ditetapkan dalam waktu yang lebih singkat dari seorang tenaga kerja.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa produktivitas adalah sikap mental dari pekerja untuk senantiasa berkarya lebih dari apa yang telah dan sedang diusahakan dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan dari suatu usaha.

Bagaimana Meningkatkan Produktivitas Kerja Perusahaan?

Bagaimana Meningkatkan Produktivitas Kerja Perusahaan?

Produktivitas kerja menjadi titik perhatian dari manajemen organisasi setiap akhir tahun ketika laporan keuangan disajikan. Sering kali produktivitas kerja juga dikeluhkan oleh pimpinan perusahaan karena karyawan tidak mampu mengikuti standard produktivitas yang diinginkan pimpinan. Oleh karena itu perlu adanya suatu mekanisme atau cara agar produktivitas kerja bisa dicapai dan dilaksanakan oleh seluruh karyawan dan divisi perusahaan.

Aspek yang ingin saya kembangkan dalam meningkatkan produktivitas perusahaan ada beberapa aspek.

  1. Efisiensi. Efisiensi merupakan kata yang sering diabaikan oleh organisasi perusahaan. Sering kali perusahaan tidak memiliki standard dalam menentukan tingkat efisiensi yang harus dibangun oleh suatu department, padahal biaya operasional suatu department jika bisa kita hitung dan diefisiensikan kembali akan menjadi laba perusahaan dan meningkatkan profit perusahaan. Minimal perusahaan bisa lebih eksis dalam menjalankan roda organisasi. Bagaimana kita menghitung efisiensi? Itu harus bisa dilakukan oleh suatu department tersendiri yang melakukan penghitungan ulang setiap minggu atau setiap bulan sehingga target efisiensi bisa dicapai oleh perusahaan. Misalnya efisiensi penggunaan kertas kerja, dari sekian banyak hasil print pasti ada yang reject, dan itu harus dihitung untuk menentukan juga kenapa bisa reject dan bagaimana mengatasinya agar tidak terjadi dikemudian hari.
  2. Kemampuan sumber daya manusia. Titik terpenting dalam menerapkan produktivitas perusahaan organisasi perusahaan terletak pada sumber daya manusia. Bisa jadi sumber daya manusia menjadi penggerak efisiensi dan produktivitas kerja, namun tak jarang sumber daya manusia menjadi titik pemborosan dan titik terlemah dalam produktivitas kerja. Jika demikian terjadi maka organisasi perusahaan perlu untuk mengadakan suatu standard kerja minimal dari person yang terlibat dalam organsiasi. Memang pasti dibutuhkan berbagai upaya untuk mencapai standard yang tinggi dari masing-masing personal untuk bisa mengikuti  “irama” yang ditetapkan perusahaan mulai dari system recruitment sampai training.Sudah menjadi kebiasaan bahwa sumber daya manusia yang bekerja dalam organisasi pasti beraneka ragam dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Ada pegawai yang bisa kerja cekatan, efisien, bersih dan rapi. Namun ada juga yang memerlukan beberapa kali percobaan untuk menghasilkan tingkat pekerjaan yang bagus dan efisien.
  3. Pemeliharaan alat dan sarana kerja. Pemeliharaan menjadi satu hal yang penting dalam meningkatkan produktivitas dilihat dari waktu dan tingkat pengguaan sarana tersebut. Memiliki sarana kerja yang memadai memang diperlukan namun pemeliharaan akan hal tersebut juga menjadi titik penting bukan hanya dengan cost yang dianggarkan namun bisa dengan cara kerja, cara pemakaian dan cara pemeliharaan sarana yang digunakan organisasi mulai dari hal-hal kecil. Pemeliharaan sarana yang baik dan benar bisa menghemat cost dari perusahaan.
  4. Organisasi Perusahaan. Organisasi perusahaan menjadi factor penentu dalam meningkatkan produktivitas perusahaan. Di sini peran dari manajemen sangat penting dalam menentukan tujuan perusahaan, visi dan misi serta strategi yang diterapkan perusahaan. Sering kali tujuan dan visi misi perusahaan tidak dipahami oleh pelaku organisasi di level menengah dan bawah. Jadi tujuan organisasi visi dan misi hanya ada dibenak para pemegang saham, direktur saja sementara level dibawahnya tidak mendapatkan atau tidak memahami tujuan visi dan misi organisasi. Sering kali di sini muncul cara kerja atau metode kerja personal menengah bawah yang tidak produktif dalam sisi lain level ini bisa memanfaatkan situasi organisasi perusahaan yang tidak sadar akan hal ini. Penentu lainnya dalam organisasi perusahaan adalah strategi yang diterapkan organisasi. Strategi organisasi biasanya muncul dari level manajemen puncak dan kemudian disosialisasikan oleh manajemen menegah atau  manajer ke level lebih rendah. Untuk organisasi yang besar dan menengah diperlukan strategi yang disebut strategi fungsional yang merupakan tanggung jawab manajer tingkat mandya untuk merumuskan dan menetapkannya. Strategi fungsional ini hanya bersifat teknis pelaksanaan. Hal lain dari organisasi yang menunjang produktivitas kerja adalah tekonologi. Adanya teknologi internet bisa menjadi salah satu alternatif dalam merumuskan kembali efisiensi dan produktivitas kerja. Tentu hal ini harus juga dikaji dan dihitung kembali agar perubahan yang dilakukan perusahaan benar-benar bisa mencapai produktivitas yang diinginkan organisasi.

Jika kita sudah memahami mengenai asumsi produktivitas kerja, selanjutnya kita akan membahas factor-faktor penentu keberhasilan produktivitas kerja.

Faktor-faktor penentu produktivitas kerja:

Faktor penentu keberhasilan produktivitas kerja berasal dari aspek sumber daya manusia dan aspek teknis organisasi.

  1. Continual improvement (perbaikan trus menerus). Jika organsasi kita sudah memiliki standard ISO 9001 maka konsep continual improvement menjadi hal yang sudah seharusnya bisa diterapkan oleh organisasi perusahaan, kecuali jika organisasi perusahaan mencapai standrad iso 9001 dengan cara-cara yang tidak seharusnya, maka penerapan continual improvement tidak akan berjalan sebagai mana mestinya. Faktor konsultan juga menentukan dalam penyadaran organisasi untuk menerapkan continual improvement. Asumsi yang dikembangkan bahwa dunia selalu berubah baik dari sisi bisnis, peta politik, situasi ekonomi dan social budaya. Perubahan-perubahan itu mau tidak mau harus dapat diserap oleh organisasi perusahaan selain dari perubahan yang berasal dari internal. Cara apapun yang akan ditempuh, yang jelas perubahan harus direncanakan dan bukan perubahan yang dilakukan tanpa rencana. Perubahan ini penting untuk diingat bahwa manusia cenderung menolak perubahan apabila perubahan itu tidak menguntungkan dirinya.  Karena itu manajemen perlu untuk mengetahui bagaimana menerapkan perubahan yang dilakukan oleh organisasi perusahaan sehingga perubahan itu dapat diikuti oleh seluruh karyawan. JIka perubahan yang dilakukan bisa menguntungkan karyawan maka karyawan akan dengan senang hati juga untuk mengikuti perubahan itu.
  2. Peningkatan Mutu Hasil Pekerjaan. Manajemen perusahaan biasanya sering menerapkan strategi management by objective (MBO) sebagai tolak ukur dari keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan hasil kerja. Namun aspek ini sering melupakan aspek mutu dari hasil kerja. Yang dimaksud mutu hasil kerja bukan hanya hasil akhir (out put) namun juga proses kerja disetiap divisi. Sehingga  dengan mutu hasil kerja divisi bisa maksimal diharapkan adanya peningkatan kualitas dari out put kerja itu sendiri baik dari sisi barang atau pun jasa sebagai produk yang kita jual. Peningkatan mutu hasil kerja ini juga menjadi titik penting bagi perusahaan yang sudah menerapkan ISO 9001.
  3. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Sumber daya manusia adalah unsur paling penting dan strategic dalam organisasi perusahaan. Semodern atau secanggih apapun teknologi yang dipakai oleh perusahaan untuk menciptakan produk dan jasa, jika unsur ini diabaikan hasilnya juga akan jelek dengan sendirinya. Unsur penting dalam pemberdayaan sumber daya manusia adalah menghargai harkat dan martabat manusia. JIka unsur ini bisa dipegang oleh manajemen organisasi maka aspek sumber daya manusia akan mudah untuk mengikuti langkah dari manajemen perusahaan.