8 Gaya Kepemimpinan Seseorang Menurut MSDT

2. Deserter

Model gaya kepemimpinan MSDT yang satu ini adalah tipe gaya dalam manajemen yang suka mengabaikan sebuah permasalahan, tak mau bertanggung jawab atau yang dapat di istilahkan dengan laisser-faire, dan mencucui tangan (tak mau di salahkan). Tipe dalam gaya kepemimpinan seperti ini lebih cenderung untuk mengabaikan keterlibatan ataupun intervensi yang dapat menjadikan sebuah situasi yang di anggapnya rumit.

Sikapnya pun akan selalu berubah untuk mencoba netral pada apa yang terjadi di dalam keseharian, mencoba untuk mencari jalan agar dapat menghindari aturan yang ia anggap sedikit menyulitkan.

Pola yang ia coba adalah tetap menyelaraskan apa yang ada, antara atasan dan juga bawahan, dan mengindari dari perubahan rencana. Pola ini pun akan nampak secara sistem manajerial yang defensive. Misalkan saja ada sebuah kebijakan yang di anggap menyulitkan bawahan, maka ia pun akan mengatakan bahwa saya hanya menjalankan suatu perintah, dari kebijakan daripada atasan.

Tipe gaya kepemimpinan manajerial ini tak selalu buruk dalam di aplikasikan, hanya saja tipe gaya kepemimpinan manajerial ini berupaya dalam menjaga status-quo dan juga menghindari dari perubahan yang drastic atau berupa guncangan di dalam tubuh manajemen

3. Missionary

Pendekatan tipe gaya ini adalah menggunakan unsur afektif yang cenderung kental. Missionary berupaya mendorong sebuah situasi positif dalam sistem manajemen dengan memberikan kandungan yang sensitive, kepedulian pada sesame, dan hal hal lain yang seringkali dianggap penting untuk meningkatkan produktifitas dan kinerja lewat sentuhan emosi atau perasaan.

Model Gaya kepemimpinan manajerial ini berupaya untuk selalu menjaga orang lain, termasuk bawahannya sendiri dalam situasi yang berbahagia di kondisi apapun. Perilaku untuk mengajak menunjukkan bagian paling penting dari gaya yang ia tunjukkan.

Tipe gaya kepemimpinan ini kurang efektif dalam manajemen yang minim ketersediaan peluang konflik, ang mana ia akan berupaya untuk halus dalam mengajak yang padaha banyak pekerjaan di dalamnya membutuhkan ketegasan para manajemen.

4. Autocratic

Model gaya kepemimpinan ini memiliki pendekatan yang memiliki pengarahan kurang efektif. Gaya seperti ini cenderung lebih perhatian kepada mereka yang memiliki produktivitas dan hasil. Skor yang tinggi seringkali dianggap sebagai manajer yang formil, dimana mereka memberikan tugas pada bawahan hanya berdasarkan instruksi dan juga mengawasi secara ketat untuk prosesnya.

Kesalahan sedikit, cenderung sulit untuk ditolelir mereka (para manajer) yang memiliki pola kepemimpinan seperti ini. Bagi anda para bawahan yang memiliki manajer seperti ini maka sebaiknya untuk menghindari kesalahan dalam mengerjakan segala sesuatu. Kebijakan dalam hal apapunn adalah urusan atasan sementara itu, bawahan cukup untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan tanpa alasan untuk membuang-buang waktu.

Di dalam tipe ini, para bawahan akan dianggap dingin atasan, terutama mereka (bawahan) yang membutuhkan lebih daripada hanya sekedar tugas untuk dikerjakan seperti dorongan dan juga pengakuan hingga dukungan atasan.

5. Compromiser

Gaya ini memiliki ciri mengandalkan tugas dan juga relasi yang seimbang, namun gaya ini seringkali dianggap kurang memiliki keefektifan, karena sulit untuk mengintegrasikan suatu tuntutan pekerjaan dan hubungan keseharian. Gaya ini pun akan semakin membingungkan antara pengaturan tugas dan juga kebutuhan dalam berinteraksi.

Dalam menghadapi sebuah tekanan, maka mereka (manajer) akan cenderung untuk kompromi sehingga beragam tujuan seringkali menyimpang atau tidak sesuai dengan waktu maupun target yang telah di tetapkan. Sensitifitas pada hubungan lebih sering mengubah alasan terhadap tujuan awal.

6. Bureaucratic

Tipe gaya manajemen ini adalah tipe procedural, dan berdasr pada aturan atau tata laksana dengan tulus untuk menerima hirarki kewenangan. Gaya ini merupakan simbol dari hubungan manajemen yang formal dalam bersikap. Skor tinggi memiliki arti sistematik. Fungsi dan juga peran para pemimpin tipe birokrat akan sangat optimal dalam situasi ang terstruktur dengan sebuah pola procedural yang jelas, walaupun prosedur tersebut memiliki tingkat kerumitan tinggi.

7. Developer

Model gaya kepemimpinan manajerial sisi efektif dari tipe gaya kepemimpinan manajerial missionary. Tujuan dari gaya ini adalah untuk bertindak secara professional tanpa sedikitpun mengesampingkan suatu aspek emosi dari bawahan. Bawahan akan diberikan kesempaan dalam memberikan ide, pandangan maupun peran lebih daripada kebijakan yang ada untuk mengembangkan sebuah potensi.

Kontribusi dari bawahan yang diberikan padanya pun sangat diperhatikan. Skor tinggi memiliki keyakinan yang optimis tentang para individu untuk bekerja dan menghasilkan. Sifat pendekatannya berupa kolegial, yang mana bawahan sebagai patner bukan cuma sebagai pembantu dalam mengerjakan segala sesuatu.

Tipe gaya ini merupakan orang-orang manajer yang senang untuk berbagi pengetahuan dan juga keahlian dan potensi bawahan pun akan dioptimalkannya.

8. Benevolent Autocratic

Tipe gaya benevolent autocratic memiliki sisi pengendalian dan juga pengarahan yang komunikatif dalam melakukan gaya otokratik. Tipe ini efektif karena memberi unsur komunikatif tadi. Namun gaya ini masih mengandalakan suatu instruksi dan intervensi..

Skor tinggi yang dimiliki dilihat sebagai seorang guru dalam memberikan tugas pada bawahan, dimana ia dapat memberikan suatu instruksi dengan baik tanpa mengesampingkan komunikasi pada bawahan secara lebih fleksibel.

Pola ini dilakukan dengan tidak meninggalkan bawahan dengan memberikan kesediaan bertanya, membantu ia apabila ada yang ia anggap kurang atau menyimpang. Mereka tidak ragu untuk memberikan perintah, dan tak ragu pula dalam memberikan hukuman namun tetap adil dalam bersikap. Gaya ini mungkin baik dalam sisi kerjasama namun mereka yang memiliki kecendrungan gaya ini menghindari hubungan yang bersifat personal.

Gaya Kepemimpinan Seseorang Berdasarkan MSDT

Bentuk gaya kepemimpinan ini nantinya akan menjadi salah satu pertimbangan perekrut dalam menempatkan seseorang di dalam suatu posisi, terutama yang membutuhkan kepemimpinan yang baik. Terdapat 8 (delapan) bentuk gaya kepemimpinan seseorang berdasarkan hasil tes MSDT. Berikut ini adalah penjelasan dari ke 8 (delapan) bentuk gaya kepemimpinan seseorang berdasarkan hasil tes MSDT :

  1. Executive

Executive merupakan bentuk gaya kepemimpinan seseorang yang pertama. Gaya kepemimpinan executive merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang efektif di dalam suatu organisasi, karena mereka yang memiliki gaya kepemimpinan executive ini mampu untuk menentukan dan memperlakukan orang lain sesuai dengan bidangnya. Mereka mampu menentukan standar kerja yang tinggi, serta mampu untuk mengelola dan mengembangkan kelompoknya, serta menekankan kerjasama antar individu di dalam kelompok.

Gaya ini dianggap efektif dikarenakan dapat mengolah dengan baik dalam bertugas dan juga berhubungan. Polanya pun dilakukan dengan mengintegrasikan antara tugas dan juga hubungan dengan baik, memanfaatkan kedua aspek dengan sinergi yang sangat optimal dalam mengelola manajemen.

Pendekatan ini merupakan pendekatan dan gaya kepemimpinan paling baik di antara gaya kepemimpinan lain. Karena sifat dari gaya kepemimpinan executive adalah melibatkan semua unsur keunggulan daripada semua pendekatan gaya yang ada. Ia pun seringkali dianggap sebagai motivator dalam manajemen. Anda juga dapat memahami tipe gaya kepemimpinan dalam psikologi dahulu, agar lebih menambah wawasan keilmuan.

Karakteristik Pemimpin

Fenomena organisasi pada umumnya tidak terlepas dari peranan, kegiatan, dan keterampilan pimpinan organisasi. Sebaliknya, perkembangan fenomena organisasional juga membentuk peranan-peranan (keterampilan) baru bagi pimpinan organisasi. Keduanya saling membentuk satu sama lain. Para ahli dalam bidang ini memandang bahwa fenomena organisasional dapat dijelaskan dalam kerangka kuasa-menguasai dan pengaruh-mempengaruhi.

Pemimpin organisasi pada umumnya dipandang sebagai orang yang berusaha menguasai dan mempengaruhi orang atau kelompok agar dapat melakukan dan mengerjakan sesuatu sebagai bagian dari usaha mencapai kebaikan organisasi. Kekuasaan yang dimaksud adalah potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi dan mengemudikan orang lain agar berpikir dan bertindak sesuai dengan yang diinginkannya (Robbins, 2002:50; Pace dan Faules, 2002:253).

Manajemen Kepemimpinan

Menurut stoner manajemen kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Ada tiga implikasi penting, pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain ( bawahan atau pengikut ), kwalitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin. Kedua, kepemimpinan merupakan pembagian yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya anggota kelompok atau bawahan secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pimpinan. Ketiga kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pimpinan tidak dapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.

Ada tiga teori yang menjelaskan bagaimana munculnya pemimpin: (Kartini Kartono, 1983: 29)

1) Teori Genetik

Teori ini menyatakan bahwa pemimpin itu sudah ada bakat sejak lahir dan tidak dapat dibuat.

2) Teori Sosial

Teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin tidak dilahirkan akan tetapi seorang calon pemimpin dapat disiapkan dididik dan dibentuk agar dia menjadi pemimpin yang hebat dikemudianahari.

3) Teori Ekologis atau Sintesis

Teori ini menyatakan bahwa seseorang akan sukses menjadi pemimpin apabila dia memang memilikisbakat-bakatapemimpin.

Pendekatan Studi Kepemimpinan

Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan tiga pendekatan.

Pendekatan pertama bahwa kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok ( organisasi ) apapun yang ia masuki. Pendekatan yang ketiga bersandar pada pandangan situasi ( situasionar perspective ) pandangan ini berasumsi bahwa kondisi yang menentukan efektivitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervariasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan pengharapan bawahan lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula, mungkin lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontingensi yang menentukan efektivitas situasi gaya pemimpin.

  1. Pendekatan Sifat-Sifat (Traits Approach)

Pendekatan psikologi ini untuk sebagian besar didasarkan atas pengakuan umum bahwa perilaku individu untuk sebagian ditentukan oleh struktur kepribadian (Oteng Sutisna, 1982: 24).
Pendekatan sifat-sifat menyatakan bahwa terdapat sifat-sifat tertentu pada pemimpin antara lain: memiliki kekuatan fisik dan keramahan. Ada sifat kepribadian yang dapat dipandang berhubungan positif dengan prilaku pemimpin dan mempunyai korelasi tinggi ialah popularitas, keaslian, adaptabilitas, ambisi, ketekunan, status sosial, status ekonomi, mampu berkomunikasi.

Dia mampu berkomunikasi dengan para relasi yang diharapkan dapat memasok barang, dan dia berkomunikasi mempengaruhi calon langganan. Selanjutnya ada sifat-sifat yang berkaitan positif dengan prilaku pemimpin tapi berkolerasi tidak terlalu tinggi seperti tanggung jawab, integritas, percaya diri, mobilitas, keterampilan sosial, sifat-sifat fisik, kelancaran pembicara. Meskipun dikalangan para ahli persyaratan pemimpin belum disepakati sepenuhnya namun ada sejumlah sifat-sifat kepribadian yang perlu dimiliki para memimpin (Andy Undap, 1983: 29).

1) Pendidikan umum yang luas

2) Kematangan mental

3) Sifat ingin tahu

4) Kemampuan analitis

5) Memiliki daya ingat yang kuat

6) Integratif. Seorang wirausaha harus memiliki kepribadian terpadu tidak terpecah-pecah   yang membuat dia terombang-ambing.

7) Keterampilan berkomunikasi

8) Keterampilan mendidik. Seorang wirausaha harus mampu memberi petunjuk dan mendidik para karyawan dalam beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan

9) Rasional dan objektif. Pemikiran-pemikiran, kesimpulan dan keputusan yang diambil oleh seorang wirausaha harus berlandaskan pada pemikiran-pemikiran sehat, rasional dan objektif, tidak pilih kasih dan tidak emosional

10) Pragmatisme. Keputusan-keputusan seorang wirausaha harus dibuat sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia

11) Ada naluri prioritas. Berhubungan terbatasnya sumber daya yang tersedia maka seorang wirausaha harus mampu menetapkan skala prioritas apa yang harus dikerjakan lebih dulu

12) Pandai mengatur waktu. Seorang wirausaha harus mampu bertindak cepat dan tepat dan mempertimbangkan waktu secara efisien

13) Sifat keberanian

14) Kemampuan mendengar. Seorang wirausaha harus mampu menggali .informasi dan mendengar apa ide dan keinginan dari para karyawannya.

  1. Pendekatan Kepribadian (Behavioral Approach)

Perilaku pemimpin ini dapat berorientasi pada tugas atau pada hubungan antar karyawannya. Menurut teori ini kepemimpinan terdiri atas empat sistem yaitu:

  1. Exploitative authoritative ( tidak ada kepercayaan kepada bawahan )
    b. Benevolent authoritative
    (sedikit kepercayaan pada bawahan tetapi hubunganØ seperti seorang tuan dengan budaknya hanya juga masih menggunakan ancaman dan hukuman dalam pelaksanaan tugas )
    c. Consultative
    (berdasarkan kepercayaan kepada bawahan tetapi tidak penuh)
    d. Participative
    (merupakan sistem yang ideal ada kepercayaan tetapi tidak penuh)

Perilaku Pemimpin

1. Fungsi-fungsi Kepemimpinan
Perilaku pemimpin mempunyai dua aspek yaitu fungsi kepemimpinan (style leadership). Aspek yang pertama yaitu fungsi-fungsi kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar berjalan efektif, seseorang harus melakukan dua fungsi utama yaitu :

1) fungsi yang berkaitan dengan pemecahan masalah : meliputi pemberian saran pemesahan dan menawarkan informasi dan pendapat

2) fungsi-fungsi pemeliharaan (pemecahan masalah sosial) : meliputi menyetujui atau memuji orang lain dalam kelompok atau membantu kelompok beroperasi lebih lancar.

Gaya – Gaya Kepemimpinan

Pada pendekatan yang kedua memusatkan perhatian pada gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan meliputi :

1) Gaya dengan orientasi tugas, dalam hal ini pemimpin mengarahkan dan mengawasi melalui tugas-tugas yang diberikan kepada bawahannya secara tertutup, pada gaya ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan

2) Gaya berorientasi dengan karyawan dalam hal ini lebih memperhatikan motivasi daripada mengawasi, disini karyawan diajak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan melalui tugas-tugas yang diberikan.

Manajemen tentang kepemimpinan adalah suatu keunggulan wirausaha yang sukses dibandingkan dengan wirausaha yang gagal atau bangkrut yang terletak pada dinamika dan efektivitas manajemen kepemimpinan.
Pada umumnya kegagalan itu disebabkan oleh kepeminpinan yang tidak efektif, mereka mampu memimpin karyawan, tidak bisa bekerja sama dengan orang lain atau mereka tidak bisa menguasai, mengendalikan diri sendiri karena Manajemen Sumber Daya Manusia nya.

Seorang wirausaha yang baik adalah seorang pemimpin dalam bisnis, haruslah orang yang dapat menguasai dan mengembangkan diri sendiri, dan juga mampu menguasai diri sendiri, dan juga mampu menguasai serta mengarahkan dan mengembangkan para karyawannya.

  1. Kepeminpinan melibatkan orang lain seperti bawahan atau pengikut. Seorang wirausaha akan berhasil apabila dia berhasil memimpin karyawannya atau pembantu-pembantu yang mau bekerja sama dengan dia untuk memajukan perusahaan.
  2. Kepeminpinan menyangkut distribusi kekuasaan. Para wirausaha mempunyai otoritas untuk memberikan sebagian kekuasaan kepada karyawan atau seorang karyawan diangkat menjadi pemimpinapadaabagian-bagianatertentu.
  3. Kepemimpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan para bawahan.
  4. Sifat-Sifat Pemimpin

Ordway Tead mengemukakan 10 sifat kepemimpinan sebagai berikut: (Kartini Kartono, 1983: 37)

  1. Energi Jasmaniah dan Mental
    Seorang pemimpin memiliki daya tahan keuletan, kekuatan yang luar biasa seperti tidak akan pernah habis.
  2. Kesadaran Akan tujuan dan Rah
    Ia memiliki keyakinan teguh akan kebenaran dan kegunaan dalam mencapai tujuan terarah.
  3. Antusiasme
    Dia yakin bahwa tujuan yang hendak dicapai akan memberikan harapan menimbulkan kasih sayang, simpati yang tulus, diikuti dengan kesediaan berkorban untuk mencapai kesuksesan perusahaan.
  4. Keramahan dan Kecintaan
    Sifat ramah mempunyai kebaikan dalam mempengaruhi orang lain sehingga menimbulkan kasih saying, simpati yang tulus, diikuti dengan kesediaan berkorban untuk mencapai kesuksesan perusahaan.
  5. Integritas
    Seorang pemimpin mempunyai perasaan sejiwa dan senasib sepernanggungan dengan para karyawannya dalam menjalankan perusahaan.
  6. Penguasaan Teknis
    Agar pemimpin mempunyai wibawa terhadap bawahan maka dia harus menguasai sesuatu pengetahuan atau keterampilan teknis.
  7. Ketegasan dalam mengambil keputusan (Decisiveness)
  8. Kecerdasan
    Seorang pemimpin harus mampu melihat dan memahami sebab dan akibat dari suatu gejala, cepat menemukan jalan keluar dan mengatasi kesulitan dengan cara efektif.
  9. Keterampilan Mengajar (Teaching Skill)
    Seorang pemimpin atau wirausaha adalah seorang guru yang mampu mendidik, mengarahkan, memotivasi karyawannya untuk berbuat sesuatu yang menguntungkan perusahaan.
  10. Kepercayaan (Faith)
    Kepercayaan bawahan ini akan memunculkan sikap rela berjuang, melaksanakan semua perintah, disiplin dalam bekerja untuk menjalankan roda perusahaan.
    Dalam hal ini memberikan perintah, maka seorang pemimpin harus menyampaikan perintah secara jelas baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Perintah yang samara-samar akan membingungkan orang yang diberi perintah. Seandainya pemimpin mengamati gejala-gejala yang kurang sehat dalam perusahaan atau memperoleh imformasi tentang isu-isu yang berkembang antar karyawan maka pemimpin harus cepat mengumpulkan informasi dari sumber-sumber yang layak dipercaya.
  11. Tipe Kepemimpinan
  12. Tipe kharismatis
    Pemimpin kharismatik merupakan kekuatan energi, daya tarik yang luar biasa yang akan dikuti oleh para pengikutnya.
  13. Tipe paternalistis dan maternalistis
    Tipe paternalistis bersifat melindungi bawahan sebagai seorang bapak atau sebagai seorang ibu yang penuh kasih saying.
  14. Tipe militeristis
    Tipe meliteristis banyak menggunakan system perintah, system komando dari atasan ke bawahan sifatnya keras sangat otoriter, menghendaki agar bawahan agar selalu patuh, penuh acara formalitas.
  15. Tipe otokratis
    Tipe otokratis berdasarkan kepada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi.
  16. Tipe laissez faire
    Tipe laissez faire ini membiarkan bawahan berbuat semaunya sendiri semua pekerjaan dan tanggung jawab dilakukan oleh bawahan.
  17. Tipe populistis
    Tipe populistis ini mampu menjadi pemimpin rakyat.
  18. Tipe administrative
    Pemimpin tipe administrative ialah pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif.
  19. Tipe demokratis
    Tipe kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan kepada pengikutnya.
  20. Fokus Kepemimpinan

Pimpinan puncak berada pada hierarki paling tinggi pada sebuah organisasi.
Pemimpin yang baik ialah pemimpin tiga arah ia berusaha memimpin ke atas (lead up, yaitu mempengaruhi pemimpinnya dan meringankan beban atas. Dia juga memimpin ke samping lead across, yaitu membantu kolegannya untuk mencapai hal produktif, dan memperoleh rasa saling hormat. Lead down, yaitu membantu anak buah untuk menggali potensinya menjadi contoh peran yang kuat dan membantu orang lain untuk bergabung demi meraih tujuan yang lebih tinggi dalam hal ini tugas pemimpin tidak terbatas pada memimipin anak buah, tapi juga ke samping dan ke atas, Pemimpin yang tidak baik akan bermain peran yang menguntungkan diri sendiri, dengan cara menginjak ke bawah, menyikut ke samping dan menjilat ke atas. Seorang pemimpin yang baik tidak akan berkompetisi dengan kolegannya melainkan bekerja sama hindarkan politik kotor isu murahan, tapi gunakan diplomatis, munculkan ide-ide cemerlang dan hargai teman.

Pemimpin yang berhasil akan selalu mengedepankan kerjasama dalam satu tim, bukan semuanya dikerjakan sendiri, atau semua bergantung kepada pemimpin, tidak ada delegasi wewenang bagi bawahan (one man show). Zimmerer menyatakan pemimpin yang baik “building a top management team, not a “one person” show. Sifat dan perilaku seorang pemimpin akan mempengaruhi budaya organisasi dan iklim organisasi itu sendiri. Inilah yang diungkapan oleh Jhon Maxwell. Pemimpin yang efektif di bagian tengah akan memiliki kemungkinan suksesnya lebih besar bila ia dipromosikan ke tingkat lebih tinggi, karena dia sudah lebih dekat dengan bawahannya, serta di terima baik oleh koleganya.

Kepemimpinan adalah proses pengarahan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari anggota kelompok. Untuk lebih mempermudah dalam memahami kepemimpinan tersebut perlu digunakan beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain adalah pendekatan kemimpinam berdasarkan sifat, pendekatan kepemimpinan berdasarkan tingkah laku, dan pendekatan kepemimpinan berdasarkan teori situasional, serta pendekatan kepemimpinan berdasarkan teori penerimaan.

Untuk dapat menjadi pemimpin efekfif mungkin seseorang harus berusaha walaupun cukup sulit untuk dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1 Memiliki daya pikat karena pengetahuan, keterampilan, sikap dan tindak-tanduknya

2 Tergolong sebagai pemimpin yang pada dasarnya demokratik tetapi sekaligus mampu melakukan penyesuaian tertentu tergantung pada situasi yang dihadapinya

3 Menyadari benar makna dan hakiakt keberadaannya dalam organisasi yang tercermin pada kemampuannya menyelenggarakan berbagai fungsi kepemimpinan yang harus diselenggarakan

4 Dalam hubungan atasan dan bawahan menseimbangkan struktur tugas yang harus dilakukan oleh para bawahannya dengan perhatian yang wajar pada kepentingan dan kebutuhan para bawahan tersebut

5 Menerima kenyataan bahwa setiap bawahan seperti juga diri sendri mempunyai jati diri yang khas dengan kelebihan dan kekurangannya serta kekuatan dan kelemahannya

6 Mampu menggabungkan bakat, pengetahuan teoritikal kesempatan memimpin dengan terus berusaha memiliki sebanyak mungkin ciri-ciri kepemimpinan yang ideal

7 Dengan tetap menggunakan paradigma yang holistik dan integralistik, mampu menentukan skala prioritas organisasi sesuai dengan sifat, bentuk dan jenis tujuan dan berbagai sasaran yang ingin dicapai

8 Memperhitungkan situasi lingkungan yang berpengaruh, baik secara positif maupun secara negatif, terhadap organisasi

9 Memanfaatklan perkembangan yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa berinjak dari orientasi manusia sebagai unsur terpenting dalam organisasi

10 Menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan diri sendiri seperti tercermin dalam satunya ucapan dan perbuatan

DAFATAR PUSTAKA

www.makalahmanajemen.com/2010/manajemen-perubahan-dan-pengembangan.

Siagian, Sondang (1994). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.

http://www.ilmumanajemen.com/index.php?…com…

blog.beswandjarum.com › Home › Ilmu Akuntansi

Sastradipura, Komarudin. (1993). Manajemen Kantor, Teori dan Praktek. Bandung: Trigenda Karya.

Rivai, Veithzal (2004). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Robbins, S.P. (2007). Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Indeks

Kamus Kompetensi

Kepemimpinan Kelompok (Team Leadership)

Kepemimpinan (TL)

Definisi:

Kepemimpinan Kelompok adalah keinginan untuk mengambil peran sebagai pemimpin dalam suatu kelompok dan memastikan adanya kejelasan diantara anggota kelompok. Kepemimpinan Kelompok umumnya (tetapi tidak selalu) muncul dari posisi atau otoritas formal. Kelompok juga dapat diartikan secara luas sebagai kelompok apapun dimana seseorang mengambil peran sebagai pemimpin

Indikator Perilaku:

-1.     Melepaskan tanggung-jawab

  • Menolak atau gagal memimpin, misalnya tidak memberikan pengarahan pada saat bawahan membutuhkannya.
0.      Tidak tampak
1.      Mengadakan rapat atau pertemuan dengan baik

  • Mengemukakan tujuan dan agenda dalam pertemuan.
  • Mengatur alokasi waktu dengan baik dalam pertemuan atau pembicaraan.
  • Membagi tugas kepada anggota kelompok.
2.      Membagi informasi

  • Memastikan anggota kelompok mendapatkan informasi yang diperlukan.
  • Menjelaskan alasan dari suatu keputusan yang menyangku kelompok.
  • Memberikan kejelasan tentang sasaran kelompok dan bagaimana kontribusi setiap peran anggota dalam mencapai sasaran tersebut.
3.      Meningkatkan efektivitas kelompok

  • Meningkatkan efektivitas, moral dan produktivitas kelompok (keputusan untuk merekrut, mengeluarkan anggota kelompok, memberi pelatihan, dll.)
  • Memastikan kebutuhan praktis kelompok terpenuhi: mendapatkan orang yang tepat, sumber daya, informasi.
  • Melakukan tindakan-tindakan yang bertujuan untuk membangun semangat kelompok.
4.      Menjaga kelompok dan reputasinya

  • Melindungi kelompok dan reputasinya.
  • Membela anggotanya baik secara terbuka (di depan umum) atau secara tertutup.
  • Memastikan adanya dukungan pengembangan baik bagi individu maupun kelompok.
5.      Bertindak sebagai pemimpin

  • Memastikan bahwa orang lain dapat menerima misi, sasaran, agenda, iklim, kebijakan.
  • Menjadi contoh baik “set a good example”.
  • Menerapkan norma perilaku kelompok.
6.      Mengkomunikasikan visi

  • Membuat orang percaya dan komit terhadap visi dan misi organisasi.
  • Menimbulkan antusiasme, energi dan komitmen bagi kelompoknya.
 

PERKEMBANGAN STUDI KEPEMIMPINAN

Perkembangan Studi Kepemimpinan

Dalam perkembangannya, studi tentang kepemimpinan berkembang sejalan dengan kemajuan zaman yang dikategorikan Yukl (2005:12) menjadi lima pendekatan yaitu : (1) pendekatan ciri, (2) pendekatan perilaku; (3) pendekatan kekuatan – pengaruh; (4) pendekaan situasional; dan (5) pendekatan integrative

Teori Genetik (Genetic Theory).

Penjelasan kepemimpinan yang paling lama adalah teori kepemimpinan “genetic” dengan ungkapan yang sangat populer waktu itu yakni “a leader is born, not made”. Seorang dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat-sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.

Teori Sifat (Trait Theory).

Sesuai dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social. Penganut teori ini yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka seseorang akan memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi pemimpin yang efektif. Karakter yang harus dimiliki oleh seseorang menurut Judith R. Gordon mencakup kemampuan yang istimewa dalam (1) Kemampuan Intelektual (2) Kematangan Pribadi (3) Pendidikan (4) Status Sosial dan Ekonomi (5) “Human Relations” (6) Motivasi Intrinsik dan (7) Dorongan untuk maju (achievement drive).

Teori Perilaku (The Behavioral Theory).

Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti “behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku seseorang untuk memimpin secara efektif.

Situasional Leadership.

Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif. Dalam “situational leadership” pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat. Seorang pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan menyesuaikan kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Empat dimensi situasi yakni kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan seorang

Transformational Leadership.

Pemikiran terakhir mengenai kepemimpinan yang efektif disampaikan oleh sekelompok ahli yang mencoba “menghidupkan” kembali teori “trait” atau sifat-sifat utama yang dimiliki seseorang agar dia bisa menjadi pemimpin. Robert House menyampaikan teori kepemimpinan dengan menyarankan bahwa kepemimpinan yang efektif mempergunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas yang tinggi untuk meningkatkan kadar kharismatiknya (Ivancevich, dkk, 2008:213)

Dengan mengandalkan kharisma, seorang pemimpin yang “transformational” selalu menantang bawahannya untuk melahirkan karya-karya yang istimewa. Langkah yang dilaksanakan pada umumnya adalah dengan membicarakan dengan pengikutnya, bagaimana sangat pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggota kelompok dan bagaimana istimewanya kelompok sehingga dapat menghasilkan karya yang inovatif serta luar biasa.

Menurut pencetus teori ini, pemimpin “transformational” adalah sangat efektif karena memadukan dua teori yakni teori “behavioral” dan “situational” dengan kelebihan masing-masing. Atau, memadukan pola perilaku yang berorientasi pada manusia atau pada produksi (employee or production-oriented) dengan penelaahan situasi ditambah dengan kekuatan kharismatik yang dimilikinya. Tipe pemimpin transformational ini sesuai untuk organisasi yang dinamis, yang mementingkan perubahan dan inovasi serta bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan lain dalam ruang lingkup internasional. Syarat utama keberhasilannya adalah adanya seorang pemimpin yang memiliki kharisma. (Ivancevich, 2008:214)

Referensi :

Ivancevich, John, M, Konopaske, & Matteson. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga.

Yukl, Gary. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Edisi ke 5. Jakarta : Indeks

KEPEMIMPINAN VISIONER

Kepemimpinan Visioner

Kepemimpinan visioner adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas.

Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:

  1. Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation” .
  2. Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat “relate skillfully” dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan).
  3. Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision).
  4. Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan “ceruk” untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.

Arti dari Pemimipin visioner tersebut adalah pemimpin yang mempunyai suatu pandangan visi misi yang jelas dalam organisasi, pemimpin visioner sangat lah cerdas dalam megamati suatu kejadian di masa depan dan dapat menggambarkan visi misinya dengan jelas.

Dia dapat membangkitkan semangat para anggotanya dengan menggunakan motivasinya serta imajinanasinya, untuk membuat suatu organisasi lebih hidup, menggerakan semua komponen yang ada dalam organisasi, agar organisasi dapat berkembang.