APA SIH BEDANYA ANTARA KARYAWAN DAN PENGUSAHA???

Perbedaan antara karyawan dan pengusaha? Mungkin sebagian kita bertanya-tanya apakah perbedaannya? Dibawah ini adalah sedikit garis besar perbedaan antara karyawan dan pengusaha.
Perbedaan antara pengusaha dan karyawan yang pertama adalah waktu. Bila karyawan terikat oleh waktu di mana pagi hari karyawan sudah harus ada di kantor dan bekerja dengan jam kerja yang ditentukan maka berbeda dengan pengusaha, pengusaha dapat mengatur jam kerjanya sendiri.
Perbedaan antara karyawan dan pengusaha berikutnya adalah, karyawan bekerja untuk orang lain, untuk atasan / untuk perusahaan, sedangkan pengusaha bekerja untuk dirinya sendiri di mana pengusaha akan memikirkan usahanya maju berkembang besar dan dapat membuka lapangan kerja untuk dapat menghidupi banyak karyawan.
Sebesar-besarnya perusahaan tempat karyawan bekerja bukanlah milik karyawan tersebut dan karyawan tersebut bukanlah bos pemilik usaha tersebut. Tetapi, sekecil-kecilnya usaha yang dimiliki oleh seorang pengusaha, maka pengusaha itu sendiri adalah bosnya.
Hasil gambar untuk perbedaan antara karyawan dan pengusaha
Perbedaan karyawan dan pengusaha berikutnya adalah penghasilan. Jika karyawan biasanya mendapatkan pendapatan atau gaji perbulan dan dapat ditentukan jumlahnya, maka penghasilan pengusaha tidak dapat dipastikan baik dari segi jumlah dan waktu kapan mendapatkannya, bisa dalam kurun waktu harian, mingguan, dll.
Perbedaan berikutnya antara karyawan dan pengusaha adalah rasa bersyukur terhadap penghasilan yang diterima. Karyawan akan berucap syukur saat menerima gaji di akhir bulan, dan pengusaha akan lebih sering berucap syukur saat usahanya atau barang dagangannya laku terjual.

Kinerja Karyawan

Kinerja Karyawan

1. Pengertian Kinerja Karyawan

Moheriono (2009) menyatakan bahwa, kinerja adalah tingkat pencapaian hasil kerja atas pelaksanaan tugas tertentu oleh individu atau sekelompok individu dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.

Menurut Alwi (2001) bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas (kualitatif) dan kuantitas (kuantitatif) yang dicapai oleh individu pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Mahsun (2006) menyatakan kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/ program/ kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Pengukuran kinerja adalah suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran dan strategi sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.

Kinerja karyawan yang dikemukakan Mangkuprawira (2011) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu output baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai sumber daya manusia persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Rivai (2005) menyatakan kinerja adalah prestasi yang dicapai oleh individu dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya sesuai dengan standar dan kriteria yang ditetapkan untuk pekerjaan itu. Griffin (2005) menyatakan penilaian kinerja adalah evaluasi terhadap prestasi kerja karyawan dalam rangka menentukan sejauh mana karyawan melakukan pekerjaan secara efektif.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil yang dicapai karyawan dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan kepadanya baik secara kuantitas maupun kualitas melalui standar dan kriteria tertentu.

2. Aspek – aspek Kinerja Karyawan

Menurut hasil studi Lazer dan Wikstrom 1977 (dalam Rivai, 2009:563) terhadap formulir penilaian kinerja 125 perusahaan yang ada di USA. Faktor yang paling umum muncul di 61 perusahaan adalah, pengetahuan tenang pekerjaan, kepemimpinan, inisiatif, kualitas pekerjaan, kerja sama, pengambilan keputusan, kreativitas, dapat diandalkan,perencanaan, komunikasi, inteligensi (kecerdasan), pemecahan masalah, pendelegasian, sikap, usaha, motivasi dan organisasi.

Dari aspek-aspek yang dinilai tersebut dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Kemampuan teknis, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik dan peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas serta pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya.
  2. Kemampuan konseptual, yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam bidang operasional perusahaan secara menyeluruh yang pada intinya individual tersebut memahami tugas, fungsi serta tanggung jawabnya sebagai karyawan.
  3. Kemampuan hubungan interpersonal, yaitu antara lain kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, memotivasi karyawan, melakukan negosiasi, dan lain-lain.

Menurut Mitchell (dalam Sedarmayanti, 2001) menyatakan bahwa : Kinerja meliputi beberapa aspek, sebagai berikut :

  1. Quality of work, yaitu kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
  2. Promptness, yaitu berkaitan dengan sesuai atau tidaknya waktu penyelesaian pekerjaan dengan target waktu yang direncanakan.
  3. Initiative, yaitu semangat untuk melaksanakan tugas-tugas dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
  4. Capability, yaitu diantara beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, ternyata yang dapat diintervensi atau diterapi melalui pendidikan dan latihan adalah faktor kemampuan yang dapat dikembangkan.
  5. Communication, yaitu interaksi yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan untuk mengemukakan saran dan pendapatnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Aspek-aspek kinerja menurut menurut Gomes (2003) yaitu :

  1. Quantity of work, yaitu jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan.
  2. Quality of work, yaitu kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
  3. Job knowledge, yaitu luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya.
  4. Creativeness, yaitu keaslian gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
  5. Cooperation, yaitu kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain.
  6. Dependability, yaitu kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal-hal kehadiran dan penyelesaian kerja.
  7. Initiative, yaitu semangat untuk melaksanakan tugas-tugas dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
  8. Personal qualities, yaitu menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan integritas pribadi.

7 Tips Meningkatkan Loyalitas Karyawan

7 Tips Meningkatkan Loyalitas Karyawan

Bagi perusahaan besar yang menargetkan profit dalam jangka panjang, karyawan adalah aset. Akan tetapi, karyawan tidak selalu loyal (setia) kepada perusahaannya karena bisa saja mereka mengundurkan diri dengan alasan tertentu. Bagaimana supaya mereka loyal sehingga kinerja perusahaan tidak terganggu?

Jika Anda pemilik atau manajemen perusahaan, tujuh tips berikut dapat membantu meningkatkan loyalitas karyawan Anda.

1. Memberikan hak-hak karyawan dengan baik

Karyawan direkrut untuk bekerja. Akan tetapi, kewajiban tersebut harus seimbang dengan hak-hak mereka. Hak-hak tersebut antara lain:

  • Gaji
  • Tunjangan kesehatan
  • Pelatihan
  • Fasilitas kerja
  • Kesejahteraan keluarga
  • Jaminan sosial tenaga kerja
  • Keamanan
  • Tunjangan hari raya

Hak-hak di atas tentunya harus diberikan secara profesional agar karyawan Anda tidak pindah kerja. Jika hak-haknya sudah diberikan, karyawan akan fokus kepada kewajibannya saja tanpa direpotkan memikirkan hal-hal lain yang mengganggu. Dengan kata lain, mereka tenang bekerja untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan perusahaan.

Bagaimana jika hak-hak karyawan tidak diberikan secara baik? Anda jangan mengharapkan kinerja mereka akan baik karena mereka akan terdemotivasi atau menuntut hak-haknya. Bukan tidak mungkin, mereka akan mengadukan Anda dan perusahaan Anda ke pihak berwenang.

2. Menerapkan penilaian kinerja yang efektif

Cara lain untuk meningkatkan loyalitas karyawan adalah menerapkan penilaian kinerja yang efektif. Penilaian seperti ini dilakukan secara fair dan objektif. Fair berarti Anda menilai berdasarkan standar yang telah disepakati, sedangkan objektif berarti menilai berdasarkan pencapaian kinerja, bukan berdasarkan suka atau tidak suka.

Jika kinerja mereka dinilai secara efektif, karyawan akan senang karena jerih payah mereka dihargai dengan baik. Dengan demikian, mereka umumnya betah bekerja di perusahaan tersebut.

3. Menerapkan jenjang karier yang jelas

Selain hak karyawan dan penilaian kinerja yang efektif, menerapkan jenjang karier yang jelas dapat juga meningkatkan kesetiaan karyawan pada perusahaannya. Jenjang karier yang jelas ini akan meningkatkan motivasi karyawan untuk bekerja dengan baik sehingga dia bisa meraih puncak kariernya.

Kejelasan jenjang karier umumnya berkaitan dengan:

  • Waktu kerja
  • Kompetensi suatu posisi
  • Kinerja karyawan
  • Perilaku karyawan

Sebagi contoh, seorang junior engineer bisa dipromosikan menjadi engineer setelah tiga tahun bekerja sepanjang kinerja, perilaku, dan kompetensinya memenuhi persyaratan posisi engineer.

4. Mempromosikan karyawan

Mempromosikan karyawan merupakan cara lain dalam meningkatkan kesetiaan karyawan pada perusahaan. Cara ini umumnya dilakukan kepada karyawan spesial yang sangat dibutuhkan perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan takut kehilangan karyawan tersebut karena jika yang bersangkutan keluar akan mengganggu kinerja perusahaan.

Promosi ini diharapkan membuat karyawan bersangkutan merasa tertantang dengan jabatan barunya sehingga mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tanpa memikirkan untuk pindah ke perusahaan lain. Selain itu, promosi ini memberikan tambahan finansial bagi karyawan bersangkutan.

5. Membebaskan kreativitas

Membebaskan kreativitas karyawan dalam bekerja merupakan tips lain yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kesetiaan karyawan. Yang dimaksud kreativitas ini adalah hal-hal baik di luar standar kerja yang sudah ditetapkan.

Sebagai contoh, seorang engineer mengusulkan cara alternatif yang dapat melipatgandakan produksi tanpa peningkatan biaya. Atau, seorang staf marketing yang mengusulkan cara unik yang berpotensi meningkatkan penjualan sebesar 50% dalam 3 bulan.

Usulan-usulan kreatif dari karyawan hendaknya Anda maknai sebagai kreativitas mereka, tanpa harus memangkasnya karena di luar standar kerja yang diterapkan. Bagi si karyawan, pembebasan kreativitas ini akan memacu mereka bekerja lebih baik karena tidak merasa jenuh dalam rutinitas yang monoton.

6. Memberikan pinjaman lunak

Memberikan pinjaman lunak dapat juga dijadikan sebagai cara untuk meningkatkan loyalitas karyawan. Mengapa? Selain dibantu dari sisi finansial, si karyawan bersangkutan harus melunasi pinjaman tersebut seandainya ia mengundurkan diri dari perusahaan.

Pinjaman lunak ini dapat berupa:

  • Pinjaman sebesar 24-36 gaji karyawan (tanpa bunga dan dicicil maksimal 10% dari gaji karyawan)
  • Pinjaman uang muka pembelian mobil atau biaya pembuatan rumah

7. Memberikan bonus

Cara terakhir untuk meningkatkan loyalitas karyawan adalah memberikan bonus. Ini bisa berupa bonus kinerja (performance bonus), bonus akhir tahun (year-end bonus), atau bonus pembagian keuntungan (profit-sharing bonus). Pemberian bonus ini menunjukkan bahwa perusahaan Anda profesional karena memberikan hal lain di luar hak karyawan. Oleh karena itu, diharapkan karyawan akan betah bekerja sehingga loyal kepada perusahaan.

Kesimpulannya, loyalitas karyawan tidak dapat dipastikan dengan standar tertentu. Meskipun demikian, tidak ada salahnya Anda menerapkan satu atau beberapa tips di atas dalam meningkatkan loyalitas karyawan Anda.