SDS (Self-Directed Search) – Holland

SDS (Self-Directed Search) - Holland

SDS (Self-Directed Search) merupakan pendekatan terhadap penaksiran minat-minat pekerjaan. Instrumen ini dikembangkan oleh Holland, yang model segi-enamnya tentang tema-tema pekerjaan umum telah menarik perhatian luas dan dimasukkan dalam berbagai inventori yang ada sekarang (Holland,1985/1992; Holland, Fritzsche & Powell, 1994; Holland & Gottfredson, 1976; Holland, Powell & Fritzsche, 1994). SDS dirancang sebagai instrumen konseling pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri, diskor sendiri, dan diinterpretasikan sendiri. Meskipun disusun di seputar minat, prosedur ini juga memerlukan peringkat-diri kemampuan dan kompetensi yang dilaporkan. Individu mengisi Buklet berhubungan dengan tema model Holland (Realistis, Investigative, Artistik, Sosial, Bersifat Wirausaha, dan Konvensional) (Anastasi dan Urbina, 2007: 441).

SDS digunakan secara luas dalam berbagai lingkungan dan telah menghasilkan banyak penelitian. SDS telah mengalami revisi beberapa kali untuk menyederhanakan prosedur dan mengurangi bias jenis kelamin dakam keputusan-keputusan karir. Daya tarik dari alat ukur ini adalah dari keringkasan dan kesederhanaannya. Selain bentuk reguler dari inventori ini (Bentuk R), tiga versilain telah tersedia yaitu Formulir E (Easy), yang dikembangkan untuk individu dengan ketrampilan membaca yang terbatas; Formulir CP (Career Planning), yang dirancang untuk orang dewasa yang berada di tengah-tengah transisi karirnya; Versi Penjelajah Karir, yang ditujukan pada siswa sekolah menegah dan sekolah menengah pertama (Anastasi dan Urbina, 2007: 441).

J.L Holland (1966, 1985/1992) mengaitkan dirinya dengan jelas bersama mereka yang memandang pilihan pekerjaan sebagai pilihan cara hidup yaitu pilihan yang mencerminkan konsep-diri individu dan kepribadian utama. Masing-masing tema dari tema pekerjaan Holland sesuai dengan “tipe” kepribadian. Juga bersesuaian dengan model lingkungan. Dalam kaitannya dengan model lingkungan, lingkungan pekerjaan yang berbeda dapat dikarakteristikkan. Tidak hanya berupa segi-segi jasmani dan tuntutan kerja, namun juga dengan jenis orang dengan siapa individu tersebut bekerja (rekan kerja, penyelia, pelanggan, klien, siswa). Menurut Holland, individu mencari lingkungan yang sesuai dengan tipe kepribadian mereka dan kesesuaian tersebut meningkatkan kepuasan kerja, stabilitas pekerjaan, dan prestasi (Anastasi dan Urbina, 2007: 442).

Menurut Holland, seseorang dapat digolongkan ke dalam salah satu tipe dari 6 jenis kepribadian. Lingkungan hidup dari orang-orang tersebut juga dapat digolongkan ke dalam 6 jenis juga. Model orientasi yang telah dijelaskan di atas dijabarkan lagi dalam penjelasan sebagai berikut (Febriana, 2013: 8-10):

1. Realistic atau Agresif

Preferensinya pada aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi eksplisit, teratur, atau sistematik terhadap obyek-obyek, alat-alat, mesin-mesin, dan binatang-binatang. Tidak  menyukai aktivitas pemberian bantuan dan pendidikan. Preferensi-preferensi membawa kepada pengembangan kompetensi-kompetensi dalam bekerja dengan  benda-benda, binatang-binatang, alat-alat dan perlengkapan teknik, dan mengabaikan komptensi-kompetensi sosial dan pendidikan. Menganggap diri baik dalam kegiatan mekanikal dan atletik dan tidak cakap dalam kemampuan-kemampuan sosial. Menilai tinggi benda-benda nyata seperti uang dan kekuasaan. Ciri-ciri khususnya adalah praktikalitas, stabilitas,konformitas. Mungkin lebih menyukai ketrampilan-ketrampilan dan okupasi-okupasi teknik.

2. Investigative atau Intelektual

Memiliki preferensi untuk aktivitas-aktivitas yang memerlukan penyelidikan observasional, simbolik, sistematik, dan kreatif terhadap fenomena fisik, biologis, dan kultural agar dapat memahami dan mengontrol fenomena tersebut, dan tidak menyukai aktivitas persuasif, sosial, dan repetitif. Contoh-contoh dari jenis ini adalah ahli kimia dan fisika.

3. Artistic atau Imaginatif

Lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang bersifat ambigu, bebas, dan tidak tersistematisasi untuk menciptakan produk-produk artistik seperti lukisan, drama, dan karangan. Tidak menyukai aktivitas yang  sistematik, teratur, dan rutin. Kompetensi dalam upaya-upaya artistik dikembangkan dan kemampuan yang rutin, sistematik, dan klerikal diabaikan. Memandang diri sebagai ekspresif, murni, independen, dan memiliki kemampuan artistik. Ciri khususnya adalah emosional,imaginatif, impulsif, dan murni. Okupasi-okupasi dari artistik seperti seni pahat, akting, lukisan, dan karangan.

4. Social

Menyukai aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan orang lain seperti mengajar, membantu, dan menyediakan bantuan. Tidak menyukai aktivitas rutin dan sistematik. Kompetensi sosial dikembangkan dan yang bersifat manual dan teknik diabaikan. Menganggap diri berkompeten dalam mengajar dan membantu orang lain dan menyukasi aktivitas sosial. Ciri khususnya kerjasama, bersahabat, persuasif, dan bijaksana. Okupasi sosial mencakup pekerjaan seperti mengajar, konseling, dan pekerjaan sosial.

5. Enterprising atau Extrovert

Lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang melibatkan manipulasi terhadap orang lain. Tidak menyukai aktivitas yang sistematik, abstrak, dan ilmiah. Kompetensi kepemimpinan, persuasif, dan bersifat supervisi dikembangkan dan yang ilmiah diabaikan. Memandang diri sebagai agresif, populer, percaya diri, dan memiliki kemampuan memimpin. Ciri-ciri khusunya adalah ambisisus, dominasi, optimisme, dan sosiabilitas.

6. Conventional atau Praktikal

Lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi data secara eksplisit, teratur, dan sistematik guna memberikan kontribusi pada tujuan-tujuan organisasi. Menyukai aktivitas yang tidak bebas, sistematik, dan pasti. Kompetensi dikembangkan dalam bidang klerikal, komputasional, dan sistem usaha dan aktivitas artistik diabaikan. Memandang diri teratur, mudah menyesuaikan diri, memiliki kemampuan klerikal dan numerical. Ciri khasnya efisiensi, keteraturan, praktikalitas, dan kontrol diri. Okupasi yang sesua seperti bankir, penaksir harga, ahli pajak, dan pemegang buku.

 

Menurut Winkel dan Hastuti (2005) dalam Febriana (2013: 11), kelebihan tes karir Holland adalah sebagai berikut :

  1. Alat tes ini arahnya sudah jelas yaitu terfokus pada mengukur minat seseorang.
  2. Dengan alat tes ini dapat diketahui karakteristik dari individu.
  3. Menunjuk pada taraf inteligensi yang memungkinkan tingkat pendidikan sekolah tertentu.
  4. Pandangan Holland sangat relevan bagi bimbingan karir dan konseling karir di institusi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah dan awal pendidikan tinggi.

 

Sementara kekurangan tes karir Holland adalah sebagai berikut:

  1. Dalam mengerjakan alat tes Holland tesste menjawabnya dengan facking.
  2. Dalam menjawab alat tes Holland bisa terjadi bias dalam menjawabnya.
  3. Terdapat batasan usia dalam mengerjakan tes minat Holland.
  4. Karena banyaknya jumlah tes yang dikerjakan maka dapat menyebabkan testee malas dalam mengerjakannya.
  5. Dalam teori ini adalah kurang ditinjau proses perkembangan yang melandasi keenam tipe kepribadian dan tidak menunjukan fase-fase tertentu dalam proses perkembangan itu serta akumulasi rentang umur.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *