PRINSIP-PRINSIP DALAM TES PSIKOLOGI

PRINSIP-PRINSIP DALAM TES PSIKOLOGI

Berikut akan dijelaskan beberapa syarat tes yang baik adalah :

1. Harus Valid

Validitas suatu tes adalah tarap sejauhmana tes itu mengukur apa yang seharusnya diukurnya, jadi makin tinggi validita suatu tes, maka tes itu makin mengenai sasarannya, makin menunjukkan apa yang seharusnya ditunjukkannya. Contoh tes yang valid yaitu tes inteligensi Stanford Binet dapat mengukur aspek kecerdasan anak-anak umur 6 – 14 tahun. Tes WAIS kurang tepat/valid jika digunakan untuk mengungkap kecerdasan anak-anak berumur 6 – 14 tahun. Dalam ilmu fisik jika kita akan menimbang berat ‘emas’ maka takaran/timbangan yang digunakan adalah timbangan untuk ‘emas’ (valid). Sebaliknya kurang tepat/valid jika kita menggunakan timbangan beras untuk menimbang berat ‘emas’

Macam-macam validitas:

  1. Content validity, prosedur validasi yang mementingkan validitas isi biasanya dilakukan orang dalam lapangan tes prestasi. Di sini validitas diartikan seberapa jauh tes (item- item) dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi obyek yang hendak diukur (Azwar, 2000) contoh tes yang mengungkap pengetahuan testee mengenai sesuatu mata pelajaran. Selanjutnya validitas isi terbagi menjadi dua tipe yaitu face validity (muka) dan logical validity. Validitas muka yaitu sesuatu tes dipandang valid kalau nampaknya (format penampilan) telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Logical validity menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur.
  2. Construct validity, suatu tes dikatakan valid kalau telah cocok dengan konstruksi teoritik sebagai dasarnya di atas mana item-item tes itu dibangun.
  3. Criterion related validity, prosedur pendekatan validitas ber- dasar kriteria menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan (Azwar, 2000). Prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan dua macam validitas yaitu predictive validity dan concurrent validity. Validitas prediktif sangat penting artinya bila tes dimaksudkan berfungsi sebagai prediktor bagi performance di waktu yang akan datang. Concurrent validity lebih menunjuk pada hubungan antara skor tes yang dicapai dengan keadaan sekarang, atau apabila skor tes dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi anatara kedua skor termaksud merupakan koefisien validitas konkuren.

 

2. Tes Itu Harus Reliable

Reliabilitas suatu tes adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya atau kalau dikatakan secara populer reliabilitas sesuatu tes adalah keajegan sesuatu tes. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah (Azwar, 2000). Estimasi terhadap tingginya reliabilitas dapat dilakukan melalui berbagai metode pendekatan. Secara tradisional menurut prosedur yang dilakukan dan sifat koefisien yang dihasilkannya terdapat tiga macam pendekatan reliabilitas yaitu :

  1. Pendekatan tes ulang (test-retest), yaitu dengan menyajikan tes dua kali pada satu kelompok subyek dengan tenggang waktu diantara kedua penyajian tersebut.
  2. Pendekatan bentuk paralel (parallel forms), tes yang akan diestimasi reliabilitasnya harus ada paralelnya, yaitu tes lain yang sama tujuan ukurnya dan setara isi itemnya baik secara kualitas maupun kuantitasnya, kita harus punya dua tes yang kembar.
  3. Pendekatan konsistensi internal (internal consistency), dilaku- kan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok subyek. Tujuannya melihat konsistensi antara item atau antarbagian dalam tes itu sendiri.

 

3. Tes Itu Harus Distandardisasikan

Standardisasi suatu tes bertujuan supaya setiap testee yang dites dengan tes tersebut mendapat perlakuan yang benar-benar sama. Karena skor yang dicapai hanya mempunyai arti kalau kita bandingkan satu sama lain; atau dengan kata-kata yang populer skor-skor yang dicapai dalam testing itu bersifat relatif. Adapun hal- hal yang perlu distandardisasikan adalah:

  1. Materi tes, bahan untuk membuat tes misalnya kertas, karton, tinta, dan sebagainya. Item itemnya misal kata-kata, gambar, tanda-tanda, ukuran besar kecilnya.
  2. Penyelenggaraan tes, mencakup perlengkapan (meja, kursi, alat tulis, penerangan) dan situasi (suhu, ketenangan, cara penyajian, petunjuk-petunjuk cara mengerjakan serta waktu yang disediakan untuk mengerjakan tes tersebut).
  3. Skoring tes, mencakup cara-cara memberi skor, pertimbangan-pertimbangan untuk menentukan skor (kunci), sistem skoring (lambang-lambang yang digunakan serta artinya, batas-batasnya).
  4. Interpretasi hasil testing, berarti bahwa terhadap testing yang sama harus diberikan interpretasi yang sama.

 

4. Tes itu harus obyektif, yang obyektif itu adalah penilaiannya.

Tes yang obyektif akan memberikan hasil yang sama kalau dinilai oleh tester yang berlainan.

 

5. Tes itu harus diskriminatif, dapat mengungkap gejala tertentu dan menunjukkan perbedaan-perbedaan (diskriminasi) gejala tersebut pada individu yang satu dan individu yang lain.

 

6. Tes itu harus comprehensive, dapat sekaligus mengungkap (menyelidiki) banyak hal.

 

7. Tes itu harus mudah digunakan.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *