Pola Komunikasi Organisasi

POLA KOMUNIKASI ORGANISASI

Dalam dunia usaha dewasa ini gaya di mana penyampaian informasi dapat dipahami dan dapat mengalir lebih cepat. Suatu kemacetan yang sangat singkat sekalipun dalam komunikasi organisasi yang bergerak cepat menyebabkan kerugian besar karena hilangnya output. Yang sebenarnya diperlukan bukanlah informasi lebih banyak, tetapi informasi yang relevan. Dengan demikian, informasi dalam komunikasi organisasi perlu pertimbangan bersama agar pengambilan keputusan lebih efektif.

Jaringan komunikasi mempunyai karakteristik lain, yang bisanya disebut dengan pola atau bentuk. Pola atau bentuk jaringan ini mempengaruhi kinerja organisasi. Sentralitas menunjukkan pada tingkat di mana suatu kelompok berpurat di sekitar satu orang. Posisi yang paling sentral adalah seseorang yang berinteraksi dengan semua atau sebagian besar anggota organisasi. Pola atau struktur komunikasi sentralisasi akan efisien untuk tugas bersifat komplek.

Seorang individu pada satu saat tertentu hanya dapat menangani sejumlah informasi tertentu, dan dalam tugas komplek seseorang akan kelebihan informasi, yang disebut dengan kejenuhan informasi.

Secara umum terdapat beberapa pola atau struktur komunikasi dalam organisasi, yaitu: bentuk roda, Y, lingkaran, rantai, dan informasi untuk semua arah (Barker, 1981: 220) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001: 45). Secara rinci akan dibahas sebagai berikut:

1) Roda

Pola roda merupakan komunikasi dengan dua saluran, di mana setiap karyawan akan mengirim dan menerima pesan ke pusat komunikasi, dan pusat komunikasi akan menerima serta mendistribusikan informasi yang diterimanya. Pada contoh bentuk roda ini, atasan biasanya merupakan sumber komunikasi, ia dapat mengirimkan informasi ke semua bawahannya. Masing-masing bawahan dapat mengirim pesan jaringan yang menggambarkan situasi di mana kedua anggota pada bagian ujung rantai hanya dapat berkomunikasi dengan orang di antara mereka dan orang yang berada di pusat. Dengan demikian, kedua orang yang berada di tengah-tengah menyampaikan informasi ke atas. Jaringan ini dapt dipandang sebagai sentralisasi informasi, tetapi dengan kadar sentralisasi lebih rendah dibandingkan dengan jaringan roda.

Pola komunikasi tersebut jelas mempunyai dampak terhadap organisasi. Jaringan komunikasi yang desentralisasi seperti yang diilustrasikan dengan bentuk roda dan rantai boleh jadi cocok untuk menghimpun informasi guna menanggulangi masalah-masalah rutin. Untuk menghindarkan komunikasi yang tidak diperlukan, figur sentral juga memiliki kesempatan besar untuk mempengaruhi yang lain dan untuk mempraktikkan keorganisasian.

Jaringan komunikasi mempunyai karakteristik lain, yang biasanya disebut dengan pola atau bentuk. Pola atau bentuk jaringan ini mempengaruhi kinerja organisasi. Sentralisasi menunjukkan pada tingkat di mana suatu kelompok berpurat di sekitar satu orang. Posisi yang paling sentral adalah seseorang yang berinteraksi dengan semua atau sebagian besar anggota organisasi. Pola atau struktur komunikasi sentralisasi akan efisien untuk tugas bersifat komplek.

Seorang individu pada saat-saat tertentu hanya dapat menangani sejumlah informasi tertentu, dan dalam tugas-tugas yang komplek seseorang akan kelebihan informasi, yang disebut dengan kejenuhan informasi. Ke atas tersebut, namun tidak dapat mengirim dan menerima pesan langsung dari karyawan.

2) Y

Pada pola Y ini pusat komunikasi tidak dapat berkomunikasi langsung dengan seluruh individu, tetapi ada individu yang komunikasinya harus melalui individu lain.

3) Rantai (Chain)

Pola rantai hampir sama dengan pola lingkaran, hanya saja di sini ada dua individu yang berada di akhir jaringan, sehingga hanya dapat mengirim dan menerima pesan dari satu posisi.

4) Lingkaran

Pola komunikasi lingkaran memungkinkan masing-masing individu untuk mengirim pesan ke sebelah kiri atau ke sebelah kanannya. Namun demikian individu tidak dapat mengirim dan menerima pesan secara langsung ke seluruh karyawan.

5) Formasi Semua Arah

Pada jaringan semua arah, semua individu pada semua posisi dimungkinkan untuk mengirim dan menerima informasi ke segala arah. Jaringan, struktur, pola ini digunakan untuk menentukan tipe interaksi antara individu dalam perusahaan.

Perkembangan komunikasi sejalan dengan kemajuan suatu masyarakat. Pada masyarakat yang telah maju seperti Amerika, maka bidang ilmu komunikasi ini mendapat perhatian yang relatif besar. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya universitas yang membuka jurusan komunikasi, banyak penelitian-penelitian mengenai komunikasi, serta berkembangnya produk teknologi yang mendukung komunikasi seperti: televisi, telepon, internet, dan satelit.

Di Indonesia, pada awalnya pemahaman tentang komunikasi ini belum mendapatkan perhatian dari masyarakat. Namun dengan berkembangnya perekonomian dan masyarakat pada umumnya, maka perhatian terhadap komunikasi menjadi sangat besar pula. Lebih dari itu, dalam era globalisasi, di mana batasan-batasan dunia menjadi kabur, maka perkembangan komunikasi tidak dapat dibendung lagi. Orang-orang di benua yang berbeda dapat berkomunikasi dengan cepat. Selain itu tersedia banyak pilihan komunikasi.

Ilmu komunikasi berkembang dari retorika, yang berasal dari Yunani. Retorika kemudian secara sistematis dan metodologis dipelajari, diteliti, dan dipraktikkan oleh Socrates, Plato, Aristoteles, kemudian dilanjutkan oleh Demosthenes, dan Cicero (Effendy, 2002:9). Publisistik itu sendiri berasal dari kata publizistek, yang berarti ilmu persuratkabaran. Publisistik ini pada awalnya berkembang di Eropa.

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Menurut Carl I. Hovlan menyebutkan secara jelas bahwa ilmu komunikasi merupakan suatu upaya sistematis untuk merumuskan secara tegas prinsip-prinsip, dan atas dasar tersebut disampaikan informasi serta terbentuk pendapat dan sikap. (Hovland dalam Effendy, 2002:6).

Selain menurut (Webster’s New World Dictionary, 1996:282) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001:5) komunikasi adalah sebagai seni untuk mengekspresikan ide-ide khususnya melalui kata-kata atau tulisan, merupakan ilmu pengiriman atau penyampaian informasi melalui simbol-simbol.

Menurut Harold D. Laswel yang terkenal dalam bidang komunikasi menerangkan bahwa komunikasi adalah (Effendy, 2002:13) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001:6):

  1. Siapa yang mengatakan
  2. Dengan/melalui saluran apa
  3. Kepada siapa
  4. Dengan efek/pengaruh apa

Akan tetapi, pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua belah pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informati, yaitu agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain.

Di antara para ahli sosiologi, ahli psikologi, dan ahli politik di Amerika Serikat, yang menaruh minat pada perkembangan komunikasi adalah Carl I. Hovland. Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah “Upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asa-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap.

Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat sering mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society.

Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa asas komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni, (Lasswell, 1990:10) dikutip dari buku (Effendy, 2002:10):

  1. Komunikator (communicator, source, sender)
  2. Pesan (message)
  3. Media (Channel, media)
  4. Komunikan (receiver, communication)
  5. Efek (effect, impact)

Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.

Lasswell menghendaki agar komunikasi dijadikan objek studi ilmiah, bahkan setiap unsur diteliti secara khusus. Studi mengenai komunikator dinamakan control analysis; penelitian mengenai pers, radio, televisi, film, dan media lainnya. Sedangkan effect analysis merupakan penelitian mengenai efek atau dampak yang timbul oleh komunikasi. Demikian kelengkapan unsur komunikasi menurut Harold Lasswell yang mutlak harus ada dalam prosesnya.

Sedangkan menurut, Wexley dan Yukl antara lain mengatakan: “Communication can be defined as the transmission of information between two or more persons.” Artinya: “Komunikasi dapat diberikan definisi sebagai pengiriman informasi antara dua orang atau lebih.” (Wexley and Yukl, 1981:24) dikutip dari buku (Effendy, 2002:4).

Sedangkan menurut, Mc. Farland memberikan definisi sebagai berikut: “Communication may be defined as the process of meaningful interacition amon human being.” Komunikasi dapat didefinisikan sebagai interaksi atau proses hubungan saling pengertian antar manusia. (Carl I. Hovland, 1996: 114) dikutip dari buku (Effendy, 2002: 9)

Elliot Jaques memberikan definisi sebagai berikut, “Communication is the sumtotal of directly and indirectly conscously and unconscously transmitted feeling, attitudes, and wishes.” Artinya kurang lebih sebagai berikut, “Komunikasi adalah penyampaian berbagai macam perasaan, sikap, dan kehendak, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara sadar maupun tidak sadar. (Effendy, 1996:1) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001:5).

Dari beberapa definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak kepada pihak lain untuk mendapat saling pengertian.

 

Unsur-unsur Proses Komunikasi Organisasi

Proses merupakan suatu rangkaian daripada unsur-unsur yang harus dilalui dalam usaha pencapaian suatu tujuan. Proses komunikasi merupakan rangkaian dari unsur-unsur yang harus dilalui dalam pengiriman informasi. Adapun rangkaian model proses komunikasi adalah melalui unsur-unsur sebagai berikut: (Wayne Pace, 1998: 173)

  1. Sender: Komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.
  2. Encoding : Penyandian, proses pengalihan pikiran ke dalam bentuk
  3. Message : Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.
  4. Media: Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.
  5. Decoding : Proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.
  6. Receiver : Komunikan yang menerima pesan dari komunikator.
  7. Response : Tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan.
  8. Feedback : Umpan balik, tanggapan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.
  9. Noise: Gangguan tak terencana  yang  terjadi  dalam  proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator.

Model komunikasi di atas menegaskan faktor-faktor kunci dalam komunikasi efektif. Komunikator harus tahu khalayak mana yang dijadikan sasaran dan tanggapan apa yang diinginkan. Ia harus terampil dalam menyandi pesan dengan memperhitungkan bagaimana komunikan sasaran biasanya mengawasi pesan. Komunikator harus mengirimkan pesan melalui media yang efisien dalam mencapai khalayak sasaran.

 

Proses Komunikasi Dalam Organisasi

Sebelum komunikasi berlangsung, tujuan yang dinyatakan sebagai pesan yang akan disampaikan, adalah sangat penting. Komunikasi terjadi antara sebuah sumber (pengiriman berita) dan sebuah penerima berita. Pesan disandikan (diubah dalam bentuk simbol) dan disalurkan kepada si penerima pesan, yang menerjemahkan (memecahkan sandi) pesan yang disampaikan oleh penerima berita. Hasilnya berupa sebuah pemindahan maksud dari satu orang kepada orang lain.

Sumber berita menyampaikan pesan dengan menyandikan suatu pemikiran. Pesan merupakan produk berbentuk fisik. Ketika kita sedang berbicara, apa yang kita bicarakan adalah pesan. Saluran adalah media perantara yang dilalui oleh pesan. Pesan tersebut diseleksi oleh sumber berita, yang harus menentukan adalah akan menggunakan saluran formal atau informal. Saluran formal dibentuk oleh organisasi dan menyalurkan pesan yang berhubungan dengan pekerjaan dalam organisasi. Bentuk lain dari pesan, seperti masalah pribadi atau sosial, mengikuti saluran informal dalam organisasi. Penerima berita adalah objek kepada siapa pesan tersebut diarahkan. Tetapi sebelum pesan diterima, simbol didalamnya harus diubah ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh penerima. Umpan balik diperlukan untuk memeriksa seberapa sukses kita menyampaikan pesan seperti yang dimaksud. Proses tersebut menentukan apakah suatu pemahaman telah tercapai.

Di dalam komunikasi secara sederhana dapat dikatakan bahwa dalam proses komunikasi yaitu pengiriman yang menyampaikan pesan kepada penerima melalui saluran tertentu. Kajian langkah-langkah dalam proses komunikasi, yaitu:

  1. Pengiriman pesan: yaitu komunikasi dimulai oleh pengirim yang memiliki “pikiran” atau ide. Pikiran atau ide ini selanjutnya diolah sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti oleh pengirim dan penerima.
  2. Menyampaikan pesan: yaitu informasi disampaikan melalui “saluran” yang menghubungkan pengiriman dengan penerima pesan.
  3. Penerima pesan: yaitu penerima pesan harus “siap” menerima pesan agar pesan itu dapat diolah menjadi pikiran.
  4. Gangguan dan balikan dalam komunikasi: yaitu komunikasi dipengaruhi oleh gangguan (noise atau keributan) yaitu segala sesuatu yang menghambat komunikasi-apakah gangguan itu pada pengirim, pada penyampaian pesan,a tau pada penerima.
  5. Faktor-faktor situasi dan organisasi dalam komunikasi: yaitu banyak faktor situasi dan organisasi yang mempengaruhi proses komunikasi.

 

Arus Komunikasi Dalam Organisasi

Dalam organisasi yang efektif, komunikasi mengalir ke berbagai arah, tetapi banyak bukti bahwa masalah akan timbul apabila hanya bentuk komunikasi seperti itu yang ada. Peter F. Drucker, secara tegas menyatakan bahwa komunikasi tidak akan berhasil karena mengakibatkan penerima komunikasi. Drucker mengemukakan bahwa komunikasi harus dimulai dengan penerima, karena banyak kesamaan antara kedua jenis arus komunikasi maka dibagi menjadi sebagai berikut: (F. Stacey, 1978:114) dikutip dari buku (Hutauruk, Gunawan, 1989:174).

 

1. Komunikasi ke bawah

Komunikasi ke bawah, yaitu: Arus informasi yang mengalir dari orang-orang tingkat atas ke tingkat bawah.

2. Komunikasi ke atas

Komunikasi ke atas, yaitu: Arus informasi yang mengalir berasal dari bawah kepada atasan dan berlanjut terus ke atas.

3. Komunikasi bersilang

Komunikasi bersilang, yaitu: Arus informasi antara orang-orang pada tingkat organisasi yang sama, digunakan untuk mepercepat upaya-upaya dalam rangka mencpai tujuan organisasi.

4. Komunikasi tulisan

Komunikasi tulisan, yaitu: Arus informasi yang mempunyai kelebihan menyediakan catatan, referensi, dan mempersiapkan pesan dengan seksama dengan cara pengiriman secara masal.

5. Komunikasi lisan

Komunikasi lisan, yaitu: Arus informasi berbentuk pertemuan tatap muka antara dua orang (atasan dengan bawahan).

6. Komunikasi nonverbal

Komunikasi nonverbal, yaitu arus informasi menggunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan komunikasi nonverbal menopang komunikasi lisan/verbal.

 

Jaringan Komunikasi

Jaringan adalah situasi terstruktur di mana orang-orang menyampaikan pesan informasi dalam suatu pola tertentu. Dalam jaringan setiap organisasi berkomunikasi dengan orang yang berada di tengah-tengah. Situasi komunikasi seperti ini sama dengan suatu keadaan organisasi di mana bawahan berkomunikasi dengan atasan mereka; situasi ini mewakili keadaan di mana terdapat sentralisasi yang sangat kuat.

Jaringan yang menggambarkan situasi di mana kedua anggota pada bagian ujung rantai hanya dapat berkomunikasi dengan orang di antara mereka dan orang yang berada di pusat. Dengan demikian, kedua orang yang berada di tengah-tengah menyampaikan informasi ke atas. Jaringan ini dapat dipandang sebagai sentralisasi informasi, tetapi dengan kadar sentralisasi lebih rendah dibandingkan dengan jaringan roda.

Jaringan komunikasi yang disentralisasi seperti yang diilustrasikan dengan bentuk roda dan rantai boleh jadi cocok untuk menghimpun informasi guna menanggulangi masalah-masalah rutin. Untuk menghindarkan komunikasi yang tidak diperlukan, figur sentral juga memiliki kesempatan besar untuk mempengaruhi yang lain dan untuk mempraktikkan keorganisasian.

Jaringan semua saluran, dan dalam kadar tertentu juga bersifat desentralisasi dan boleh jadi sesuai dengan masalah-masalah yang belum jelas dan bersifat non rutin. Orang-orang dalam jaringan komunikasi ini dapat berkomunikasi secara bebas dan karena dapat menggunakan kreativitas mereka untuk mengembangkan alternatif pemecahan yang inovatif terhadap suatu masalah. Arus komunikasi yang bebas dapat juga memuaskan orang-orang pada saat mereka dapat memberi kontribusi dalam pemecahan masalah.

Hasil-hasil penemuan itu, yang sebagian besar berasal dari pengkajian kelompok-kelompok kecil dalam situasi terkendali, harus ditafsirkan secara hati-hati. Dalam kehidupan “nyata” interaksi antar orang diperumit dengan hubungan antara kuasa (power) dengan wewenang tanggungjawab organisasi. Organisasi tidak sekedar legalitasian seperti yang diciptakan dalam suasana penelitian. Dengan adanya arus informasi makin meningkatnya kompleksitas organisasi seperti yang dapat ditemukan dalam pendepartemenan matriks menghendaki adanya komunikasi yang lebih terbuka.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa hasil penemuan tersebut berasal dari penelitian sekelompok kecil dan mungkin tidak relevan bagi kelompok besar. Dapat dibayangkan betapa rumitnya penerapan jaringan semua saluran bagi sekelompok yang memikul beban informasi berlebih dan karenanya akan bereaksi sedemikian rupa. Meskipun adanya batasan-batasan itu, para manajer dapat memperoleh dari pemahaman akan jaringan komunikasi yang dapat membantu dalam menyusun struktur organisasi.

Organisasi sebagai teknik komunikasi dalam struktur organisasi formal dan hubungan organisasi informal memberikan kontribusi nyata bagi komunikasi yang berlangsung di antara anggota kelompok yang bekerjasama. Dalam struktur organisasi formal, klasifikasi peranan dan hubungan peranan, serta klasifikasi pengelompokkan dan pendelegasian wewenang, merupakan hal yang penting untuk memahami komunikasi dengan orang-orang. Dalam kenyataannya, struktur organisasi formal dapat dipandang sebagai jaringan keputusan komunikasi.

Tetapi organisasi informal juga memiliki peranan yang signifikan dalam komunikasi. Orang-orang yang bekerjasama membentuk hubungan pribadi yang berusaha mengkomunikasikan informasi yang tidak dapat diperoleh dari sumber-sumber formal. Sebagian informasi itu tersedia karena bersifat selentingan yang tidak bisa ditangani melalui saluran formal. Tetapi penting diperhatikan bahwa orang-orang pada umumnya mengembangkan dan terlibat dalam organisasi informal.

Lebih lanjut, apabila kita mengikuti arti organisasi informal menurut Chester Barnard, pelopor dan teoritisi maanajemen terkemuka, kita mengetahui bahwa tujaun utama organisasi informal adalah komunikasi. Apabila orang-orang yang terjadi tanpa disengaja, tujuan bersama. Maka jelas bagi kita bahwa bahasa itu sendiri merupakan bentuk organisasi informasi yang penting.

Dalam praktiknya, para manajer harus memperhitungkan keberadaan organisasi informal dan terutama sekali saluran informasi informal. Pengalaman menunjukkan bahwa saluran informasi informal sangat cepat dan akurat. Oleh karena itu, sangat penting artinya untuk memanfaatkan hal itu untuk menerima dan menyebarluaskan informasi.

 

Hambatan-hambatan Dalam Komunikasi Organisasi

Setiap kegiatan yang mempunyai tujuan selalu menghadapi berbagai macam hambatan dan kebuntuan. Demikian dengan pola komunikasi yang kadang-kadang tidak mencapai sasaran yang seperti diharapkan. Yang disebut hambatan dalam komunikasi organisasi adalah komunikasi yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah dalam berorganisasi. Komunikasi organisasi dapat terjadi secara formal maupun informal, namun prinsipnya adalah membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan perusahaan. Hal-hal yang menyebabkan komunikasi dalam organisasi tidak efektif, yaitu: (Haryani, Sri, 2001:51).

1. Kelebihan/kebanyakan informasi yang disampaikan

2. Tingkat kerumitan pesan

3. Penerimaan pesan ganda

4. Perbedaan status

5. Kurangnya kepercayaan komunikasi yang tidak berstruktur

6. Komunikasi yang tidak berstruktur

7. Kesalahan pemilihan media

8. Iklim komunikasi tertutup

9. Komunikasi yang tidak etis

10. Komunikasi yang tidak efektif

11. Halangan yang bersifat fisik.

Di samping masalah-masalah yang terjadi di atas, ada pula yang dikemukakan dalam pola komunikasi yang harus diperhitungkan dalam sistem sosial, yaitu: (Katz, 1982:451) dikutip dari buku (Hutauruk, Gunawan, 1989: 182)

a. Kurangnya perencanaan berkomunikasi.

Komunikasi yang baik jarang terjadi begitu saja. Terlalu sering orang-orang mulai berbicara atau menulis tanpa memikirkan, merencanakan, dan menyatakan tujuan pesan terlebih dahulu. Padahal, penyeleksian saluran yang paling sesuai, dan pemilihan waktu yang tepat dalam meningkatkan pemahaman dan mengurang penolakan terhadap perubahan.

b. Asumsi yang tidak jelas

Meskipun sangat penting, tetapi yang sering terjadi diabaikan adalah asumsi yang mendasari pesan yang tidak dikomunikasikan.

c. Distorsi semantik

Hambatan lain bagi komunikasi yang efektif adalah yang mungkin disengaja atau tidak disengaja.

d. Pesan yang diungkapkan secara tidak baik

Penggunaan kalimat yang tidak tepat, kurang diperhatikan struktur kalimatnya. Sehingga implikasi pesan yang disampaikan tidak mampu dijelaskan.

e. Kurang menyimak dan evaluasi terlalu dini

Terdapat banyak pembicara tetapi hanya sedikit orang menyimak. Setiap orang barangkali pernah mengamati orang-orang mengikuti diskusi dengan komentar-komentar yang tidak berkaitan dengan topik diskusi.

f. Komunikasi impersonal

Komunikasi yang efektif lebih dari sekedar upaya penyampaian informasi. Kejadian ini menunjukkan bahwa peningkatan informasi komuniasi yang nyata sering tidak memerlukan adanya media komunikasi yang mahal dan canggih (dan impersonal), tetapi melakukan komunikasi tatap muka.

g. Ketidakpercayaan, ancaman, dan rasa takut

Ketidakpercayaan seorang atasan yang berasal dari perilaku yang tidak konsisten, dalam suasana yang berisi faktor-faktor itu,s etiap pesan akan dipandang dengan skeptis.

 

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *