Perilaku Agresi

Perilaku Agresi

A. Pengertian Perilaku Agresi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresi adalah perbuatan bermusuhan yang bersifat menyerang secara fisik maupun psikis kepada pihak lain, agresi merupakan tindakan kasar akibat kekecewaan dalam mencapai pemuasan atau tujuan yang dapat ditujukan kepada orang lain atau benda.

Buss dan Perry (1992) menyatakan perilaku agresi sebagai perilaku yang niatnya untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun secara psikologis. Perilaku agresi sepertinya telah menjadi sesuatu hal yang sangat biasa terjadi pada kehidupan sosial individu saat ini. Perilaku agresi adalah setiap bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau merugikan seseorang yang bertentangan dengan kemauan orang itu (Breakwell, 1998). Perilaku agresi dapat dimunculkan secara fisik maupun verbal. Perilaku agresi fisik yaitu perilaku agresi yang dilakukan dengan cara melakukan kekerasan secara fisik, seperti menampar, memukul, melempar dengan benda terhadap orang lain di sekitarnya. Perilaku agresi verbal yaitu perilaku agresi yang dilakukan dengan cara mengeluarkan kata-kata untuk menyerang orang lain, dapat berupa ejekan, hinaan, maupun caci maki.

Selanjutnya menurut Kartono (2003) agresi merupakan suatu ledakan emosi dan kemarahan-kemarahan hebat, perbuatan-perbuatan yang menimbulkan permusuhan yang ditujukan kepada seseorang atau suatu benda.

Atkinson (2000) menjelaskan agresi adalah perilaku yang secara sengaja bermaksud melukai orang lain (secara fisik atau verbal) atau menghancurkan harta benda.Agresi sendiri menurut Berkowitz (2003) selalu mengacu pada beberapa jenis perilaku, baik secara fisik maupun simbolis yang dilakukan dengan tujuan menyakiti.

Murray (dalam Chaplin, 2004) mengatakan bahwa perilaku agresi adalah kebutuhan untuk menyerang, memperkosa atau melukai orang lain untuk meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, menjahati, mengejek, mencemoohkan atau menuduh secara sehat, menghukum berat atau melakukan tindakan sadis lainnya. Dayakisni dan Hudaniah (2006) mengartikan agresi sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap organisme lain, objek lain dan bahkan dirinya sendiri. Chaplin (2004) mengatakan bahwa perilaku agresi adalah satu serangan atau serbuan tindakan permusuhan yang ditujukan pada seseorang atau benda.

Myers (2002) menjelaskan bahwa agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang disengaja dan memiliki maksud untuk menyakiti, menghancurkan atau merugikan orang lain untuk melukai objek yang menjadi sasaran agresi. Menurut Baron dan Richardson (dalam Krahe, 2005) mendefinisikan agresi sebagai suatu perilaku yang diwujudkan dalam berbagai bentuk yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari perlakuan tersebut. Agresi merupakan tindakan melukai yang disengaja oleh seseorang atau institusi terhadap orang atau institusi yang sejatinya disengaja (Sarwono, 2009). Agresi merupakan setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai orang lain (Taylor, Peplau, & Sears, 2009).

Agresi lebih difokuskan pada pengertian dari perilaku agresi itu sendiri yang menurut pendapat para ahli seperti Baron (2005) yang mendefinisikan perilaku agresi merupakan tingkah laku yang diarahkan untuk tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang ingin menghindari perlakuan semacam menyakiti. Agresi dapat diartikan sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh organisme terhadap organisme lain, obyek lain atau bahkan pada dirinya sendiri (Dayakisni dan Hudaniah, 2009). Lebih lanjut Mahmudah (2010) menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain.

Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku agresi adalah perbuatan bermusuhan yang bersifat menyerang secara fisik maupun psikis kepada pihak lain, agresi merupakan tindakan kasar akibat kekecewaan dalam mencapai pemuasan atau tujuan yang dapat ditujukan kepada orang lain atau benda.

 

B. Aspek-aspek Perilaku Agresi

Menurut Buss dan Perry (1992), terdapat empat aspek perilaku agresi yang didasari dari tiga dimensi dasar yaitu motorik, afektif, dan kognitif. Empat aspek perilaku agresi menurut Buss dan Perry yaitu sebagai berikut:

  1. Physical aggression

Physical aggression yaitu tindakan agresi yang bertujuan untuk menyakiti, mengganggu, atau membahayakan orang lain melalui respon motorik dalam bentuk fisik, seperti memukul, menendang, dan lain-lain.

  1. Verbal aggression

Verbal aggression yaitu tindakan agresi yang bertujuan untuk menyakiti, mengganggu atau membahayakan orang lain dalam bentuk penolakan dan ancaman melalui respon vokal dalam bentuk verbal.

  1. Anger

Anger merupakan emosi negatif yang disebabkan oleh harapan yang tidak terpenuhi dan bentuk ekspresinya dapat menyakiti orang lain serta dirinya sendiri. Beberapa bentuk anger adalah perasaan marah, kesal, sebal, dan bagaimana mengontrol hal tersebut. Termasuk di dalamnya adalah irritability, yaitu mengenai temperamental, kecenderungan untuk cepat marah, dan kesulitan mengendalikan amarah.

  1. Hostility

Hostility yaitu tindakan yang mengekspresikan kebencian, permusuhan, antagonisme, ataupun kemarahan yang sangat kepada pihak lain. Hostility adalah suatu bentuk agresi yang tergolong covert (tidak kelihatan). Hostility mewakili komponen kognitif yang terdiri dari kebencian seperti cemburu dan iri terhadap orang lain dan kecurigaan seperti adanya ketidak percayaan serta kekhawatiran.

 

 Menurut Sadli (dalam Adji, 2002) aspek-aspek perilaku agresif yaitu sebagai berikut:

  1. Pertahanan diri

Pertahanan diri Pertahanan diri yaitu individu mempertahankan dirinya dengan cara menunjukkan permusuhan, pemberontakan, dan pengrusakan.

  1. Perlawanan disiplin

Perlawanan disiplin yaitu individu melakukan hal-hal yang menyenangkan tetapi melanggar aturan.

  1. Egosentris

Egosentris yaitu individu mengutamakan kepentingan pribadi seperti yang ditunjukkan dengan kekuasaan dan kepemilikan. Individu ingin menguasai suatu daerah atau memiliki suatu benda sehingga menyerang orang lain untuk mencapai tujuannya tersebut, misalnya bergabung dalam kelompok tertentu.

  1. Superioritas

Superioritas yaitu individu merasa lebih baik daripada yang lainnya sehingga individu tidak mau diremehkan, dianggap rendah oleh orang dan merasa dirinya selalu benar sehingga akan melakukan apa saja walaupun dengan menyerang atau menyakiti orang lain.

  1. Prasangka

Prasangka yaitu memandang orang lain dengan tidak rasional.

  1. Otoriter

Otoriter yaitu seseorang yang cenderung kaku dalam memegang keyakinan, cenderung memegang nilai-nilai konvensional, tidak bisa toleran terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya sendiri atau orang lain dan selalu curiga.

 

Menurut Schneiders (dalam Aman, 2004) aspek-aspek perilaku agresif yaitu sebagai berikut:

  1. Otoriter

Otoriter yaitu orang memiliki ciri kepribadian kaku dalam memegang nilainilai konvensional dan tidak bisa toleransi terhadap kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri sendiri maupun orang lain.

  1. Superior

Superior yaitu individu merasa yang paling baik dibanding dengan individu lain.

  1. Egosentris

Egosentris yaitu individu mengutamakan keperluan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan diri sendiri seperti yang ditunjukan dengan kekuasaan dan kepemilikan.

  1. Keinginan untuk menyerang baik terhadap benda maupun manusia

Hal ini yang dimaksudkan yaitu mempunyai kecenderungan untuk melampiaskan keinginannnya dan perasaannya yang tidak nyaman ataupun tidak puas pada lingkungan di sekitarnya dengan melakukan penyerangan terhadap individu ataupun benda lain di sekitarnya.

 

C. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Perilaku Agresi

Menurut Sears, Freedman, dan Peplau (2009), menyatakan perilaku agresi disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Serangan

Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab perilaku agresi dan muncul dalam bentuk serangan verbal atau serangan fisik. Serangan adalah gangguan yang dilakukan oleh orang lain. Pada umumnya orang akan memunculkan perilaku agresi terhadap sumber serangan. Berbagai rangsang yang tidak disukai juga akan menimbukan agresi.

  1. Frustrasi

Frustrasi adalah gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan, frustrasi (keadaan tidak tercapainya tujuan perilaku) menciptakan suatu menciptakan suatu motif untuk agresi. Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan tertentu. Menurut Dollard, dkk (dalam Baron dan Byrne, 2005) mengemukakan hipotesis bahwa frustrasi menyebabkan agresi, hipotesis tersebut kemudian dijadikan postulat “agresi selalu frustrasi”.

 

Menurut Berkowitz (2003), terdapat sembilan faktor penyebab atau stimulus munculnya perilaku agresi, adalah sebagai berikut:

  1. Frustasi

Frustrasi bisa mempengaruhi kemungkinan untuk melakukan serangan terbuka, mereka bisa menjadi agresi meskipun hanya menemui rintangan yang sifatnya legal atau tak sengaja. Dorongan agresi mungkin tidak selalu tampak mata, akan tetapi bisa juga rintangan yang tidak bertentangan dengan kaidah sosial menyebabkan kecenderungan agresi.

  1. Perasaan negatif (inferiority feeling)

Perasaan negatif merupakan akar dari agresi emosional. Salah satu bentuk dari perasaan negatif adalah inferiority feeling. Inferiority feeling adalah suatu bentuk perasaan negatif terhadap dirinya sendiri (Jalaludin, 1977). Berkowitz (1995) yang mengatakan bahwa individu mengamuk baik secara verbal maupun secara fisik karena merasa terhina atau merasa harga dirinya tersinggung.

  1. Pikiran atau kognitif

Penilaian mungkin tidak begitu penting, tetapi jelas bisa mempunyai pengaruh besar. Interpretasi untuk bisa menentukan apakah kejadian emosional menyenangkan atau tidak menyenangkan, seberapa kuat perasaan yang ditimbulkan dan apakah faktor penahan memainkan peranan. Dengan demikian, pikiran dapat mempengaruhi agresi seseorang dengan menentukan kejadian emosionalnya terlebih dahulu. Berkowitz (1995) menyatakan bahwa seseorang menjadi marah hanya ketika mereka berkeyakinan bahwa ada yang berbuat salah pada diri mereka atau sengaja mengancam diri mereka, dan kemudian mereka ingin menyakiti orang itu karena kemarahan yang dimiliki.

  1. Pengalaman masa kecil

Pengalaman pada waktu masih kecil memiliki kemungkinan untuk menjadikan anak bertindak agresi emosional, sehingga waktu dewasa menjadi agresif dan anti sosial.

  1. Pengaruh teman

Teman merupakan salah satu agen sosialisasi yang dijumpai anak-anak dalam kehidupan dari waktu kecil hingga dewasa. Teman ini mengajari cara bertindak dalam situasi tertentu, dengan berperan sebagai model dan dengan memberi suatu penerimaan atau dukungan apabila mereka bertindak dengan cara yang dianggap pas.

  1. Pengaruh kelompok (Geng)

Dalam kelompok atau geng, anak-anak merasa dapat penerimaan dan status, mereka merasa penting dalam geng, sementara di tempat lain tidak berharga. Mereka juga mendapatkan dukungan bahwa pandangan dan sikap mereka bersama itu benar, bahkan bahaya yang mereka takuti dapat diatasi. Dukungan ini memainkan peran penting pada perilaku agresi anak. Seorang anak yang mengalami penyimpangan sosial mungkin tidak berani melanggar hukum, tetapi jika bersama teman-teman anggota geng, ia merasa berani dan aman.

  1. Kondisi tidak menyenangkan yang diciptakan orangtua

Kondisi tidak menyenangkan ini dapat berupa memberikan sikap dingin, acuh, tidak konsisten terhadap apa yang diinginkan dari si anak, serta memberikan hukuman yang kejam jika si anak tidak mematuhi perintah. Dari kondisi tidak menyenangkan tersebut, dapat dipastikan bahwa anak akan menjadi relatif agresif apabila berada di luar lingkungan keluarga.

  1. Konflik keluarga

Banyak yang beranggapan bahwa banyak anak nakal merupakan korban penyimpangan sosial dari kondisi keluarga abnormal. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak hanya tumbuh dalam kemiskinan tetapi juga hanya mempunyai satu orang tua dan bukan dua sehingga mereka belajar untuk tidak menerima norma dan nilai-nilai tradisional masyarakat.

  1. Pengaruh model

Pengaruh model terhadap anak juga bisa mempengaruhi kecenderungan agresi anak, tidak peduli apakah orang lain itu ingin ditiru atau tidak. Dalam psikologi, fenomena ini disebut dengan modelling dan mendefinisikannya sebagai pengaruh yang timbul ketika orang lain melihat orang lain (model) bertindak dengan cara tertentu dan kemudian meniru perilaku model.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *