Pengertian Locus of Control

Locus Of Control

1. Pengertian Locus of Control

Baron dan Byrne (1994) dalam Cecilia dan Gudono (2007) menyatakan bahwa Locus of control adalah persepsi sesorang mengenai sebab-sebab keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan pekerjaannya. Locus of Control mengacu pada sejauh mana orang percaya bahwa mereka dapat mengendalikan peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi mereka (Rotter, 1996 dalam Bayu, 2010).

Reiss dan Mitra(1998) membagi Locus of Control menjadi 2 yaitu Locus of Control internal adalah cara pandang bahwa segala hasil yang didapat baik atau buruk adalah karena tindakan kapasitas dan faktor – faktor dalam diri mereka sendiri. Locus of Control Eksternal adalah cara pandang dimana segala hasil yang didapat baik atau buruk berada diluar kontrol diri mereka tetapi karena faktor luar seperti keberuntungan, kesempatan, dan takdir individu yang termasuk dalam kategori ini meletakkan tanggung jawab diluar kendalinya. Locus of control internal yang dikemukakan Lee (1990) yang dikutip oleh Soraya (2010) adalah keyakinan seseorang bahwa didalam dirinya tersimpan potensi besar untuk menentukan nasib sendiri, tidak peduli apakah lingkungannya akan mendukung atau tidak mendukung. Individu seperti ini memiliki etos kerja yang tinggi, tabah menghadapi segala macam kesulitan baik dalam kehidupannya maupun dalam pekerjaannya. Meskipun ada perasaan khawatir dalam dirinya tetapi perasaan tersebut relatif kecil dibanding dengan semangat serta keberaniannya untuk menentang dirinya sendiri sehingga orang-orang seperti ini tidak pernah ingin melarikan diri dari tiap-tiap masalah dalam bekerja.

Menurut Pendapat Rotter (1966) Menjelaskan bahwa locus of control adalah Tingkat sejauh mana seseorang mengharapkan bahwa penguatan atau hasil dari perilaku mereka tergantung pada penilaian mereka sendiri atau karakteristik pribadi (dalam Allen, 2003: 293). Gibson, Ivancevich & Donnelly (1995:161) mengatakan bahwa locus of control merupakan karakteristik kepribadian yang menguraikan orang yang menganggap bahwa kendali kehidupan mereka datang dari dalam diri mereka sediri sebagai internalizers. Orang yang yakin bahwa kehidupan mereka dikendalikan oleh faktor eksternal disebut: externalizer.

Robbins & Judge (2008:138) menjelaskan bahwa locus of control merupakan tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Menurut Lefcourt (dalam Smet, 1994:181), locus of control mengacu pada derajat di mana individu memandang peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya sebagai konsekuensi perbuatannya, dengan demikian dapat dikontrol (control internal), atau sebagai sesuatu yang tidak berhubungan dengan perilakunya sehingga di luar kontrol pribadinya (control eksternal).

Duffy & Atwarer (2005) mengemukakan definisi locus of control adalah sumber keyakinan yang dimiliki oleh individu dalam mengendalikan peristiwa yang terjadi baik itu dari diri sendiri ataupun dari luar dirinya (Patricia dkk, 2009:88). Levenson (1981) menyatakan locus of control adalah keyakinan individu. Mengenai sumber penyebab dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam hidupnya. Seseorang juga dapat memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatur kehidupannya, atau justru orang lainlah yang mengatur kehidupannya, bisa juga ia berkeyakinan faktor nasib, keberuntungan, atau kesempatan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya (dalam Robinson, dkk, 1991: 425).

Locus of control adalah istilah yang mengacu pada persepsi individu tentang pengendalian pribadi, khususnya berkaitan dengan kontrol atas hasil-hasil yang penting. Benson et al. (2005) berpendapat locus of control mengacu pada keyakinan seseorang tentang bagaimana upaya individu dalam mencapai hasil yang diinginkan (2010:382).

Peterson (2003) mendefinisikan locus of control sebagai harapan seseorang tentang sumber pengutan yang khusus (2010:121). Menurut Spector (1988) mengemukakan bahwa Locus of control didefinisikan sebagai kepercayaan umum bahwa keberhasilan dan kegagalan individu dikendalikan oleh perilaku individu (internal), atau mungkin, bahwa prestasi, kegagalan dan keberhasilan dikendalikan oleh kekuatan lain seperti kesempatan, keberuntungan dan nasib (eksternal) (dalam Karimi & Alipour, 2011:233).

Crider (1983) dalam Soraya (2010) menyatakan bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara locus of control internal dan eksternal, yaitu sebagai berikut:

  1. Locus of control internal
  2. suka bekerja keras
  3. memiliki insiatif yang tinggi
  4. selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah
  5. selalu mencoba untuk berfikir seefktif mungkin
  6. selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil
  7. Locus of control eksternal
  8. kurang memiliki inisiatif
  9. mudah menyerah, kurang suka berusaha karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol
  10. kurang mencari informasi
  11. mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan
  12. lebih mudah dipengaruhi dan tergantung pada petunjuk orang lain

 

2. Orientasi locus of control

Dalam locus of control dibagi menjadi dua kategori yaitu locus of control internal dan locus of control eksternal. Rotter (1990:489) menyatakan bahwa internal-eksternal kontrol mengacu pada sejauh mana seseorang mengharapkan bahwa penguatan atau hasil dari perilaku mereka tergantung pada penilaian mereka sendiri atau karakteristik pribadi, sebaliknya sejauh mana seseorang mengharapkan bahwa penguatan atau hasil merupakan fungsi dari kesempatan, keberuntungan, atau nasib, adalah berada di bawah kendali kekuatan orang lain atau tidak berdaya.

Walmsley & Jenkins (dalam The Journal of Tourism Studies 1991:2) mengemukakan bahwa beberapa ahli juga sepakat dengan pendapat Rotter tentang internal-eksternal locus of control. Lefcourt dan Martin (1983) mendefinisikan locus of control internal adalah suatu keyakinan yang dihasilkan dari interaksi antara individu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi adalah dari individu itu sendiri. Sedangkan locus of control eksternal adalah merupakan suatu keyakinan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi karena alasan-alasan yang tidak ada hubungannya dengan tingkah laku individu dan dengan demikian diluar usaha untuk mengontrolnya. Dengan kata lain orang yang memiliki locus of control eksternal beranggapan bahwa peristiwa yang terjadi pada diri individu dipengaruhi oleh faktor yang ada diluar dirinya seperti nasib dan keberuntungan.

Lebih lanjut pendapat Rotter tersebut telah dikembangkan oleh Levenson (1981) dengan pengelompokan orientasi locus of control sebagai berikut:

  1. Orientasi locus of control internal : internality
  2. Orientasi locus of control eksternal: powerful Others (P) dan Chance (C).

Menurut Levenson, individu yang berorientasi locus of control internal lebih yakin bahwa peristiwa yang dialami dalam kehidupan mereka terutama ditentukan oleh kemampuan dan usahanya sendiri. Individu yang berorientasi pada locus of control eksternal, di kelompokkan dalam dua kategori, yaitu powerful others dan chance. Individu dengan orientasi powerful others meyakini bahwa kehidupan mereka ditentukan oleh orang-orang yang lebih berkuasa yang ada disekitarnya, sedangkan mereka yang berorientasi chance meyakini bahwa kehidupan dan kejadian yang dialami sebagian besar ditentukan oleh takdir, nasib, keberuntungan dan kesempatan (Robinson, dkk, 1991: 425).

Lefcourt menyatakan bahwa dimensi locus of control akan menjelaskan mengapa beberapa orang begitu aktif, ulet, dan bersedia mencoba untuk menyelesaikan beberapa keadaan yang sulit, sementara yang lainnya dengan emosi yang negatif (Robinson, dkk, 1991:413).

Beberapa peneliti mengasosiasikan locus of control internal dengan usaha yang aktif untuk mencapai tujuan, hal ini dimanifestasikan dalam bentuk tindakan sosial (Levenson, 1974; Strik-Land, 1965), tindakan mencari informasi (Lefcourt & wine, 1969; Seeman 1963), pengambilan keputusan secara otonomi (Crown,dkk, 1963). Individu yang lebih memandang bahwa hidupnya ditentukan oleh perilakunya sendiri akan lebih percaya diri dan lebih gigih dalam menghadapi kehidupan, sebaliknya individu yang tidak berdaya, tertekan dan selalu memandang bahwa kehidupannya dikontrol oleh kekuatan eksternal, akan menambah perasaan pasrah dalam dirinya (Myers, 1983: 434).

Hasil berbagai penelitian menunjukkan orientasi internal lebih banyak menimbulkan dampak positif. Phares menyatakan mereka yang berorientasi internal cenderung lebih percaya diri, berpikir optimis dalam setiap langkahnya. Pernyataan  tersebut didukung oleh Sceibe (1978) bahwa individu dengan locus of control internal cenderung lebih aktif, berusaha keras, berprestasi, penuh kekuatan, tidak tergantung dan efektif (Allen, 2003: 297).

Individu dengan locus of control eksternal yang berkeyakinan bahwa peristiwa-peristiwa yang dialaminya merupakan konsekuensi dari hal-hal di luar dirinya, seperti takdir, kesempatan, keberuntungan atau orang lain. Individu cenderung menjadi malas, karena merasa bahwa usaha apapun yang dilakukan tidak akan menjamin keberhasilan dalam pencapaian hasil yang diharapkan. Menurut Spector (1982) keyakinan yang dimiliki mereka yang berorientasi locus of control eksternal menyebabkan mereka mengabaikan adanya hubungan antara hasil yang diperoleh dengan usaha yang dilakukan. Pernyataan Spector tersebut didukung dengan banyak ditemukannya orang-orang dengan control eksternal dalam keadaan depresi, cemas, selain itu Phares juga menyebutkan bahwa, individu dengan locus of control eksternal kurang dapat mencari informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi, kurang dapat menyesuaikan diri, prestasi lebih rendah, tidak dapat mengontrol emosi dan kurang percaya diri. (Marga, dkk 2000: 33).

Menurut Philip Zimbardo (1985) salah satu ahli psikologi yang terkenal menyatakan bahwa orientasi locus of control adalah keyakinan tentang hasil perilaku kita adalah tergantung kepada apa yang kita lakukan (orientasi internal) atau tentang peristiwa-peristiwa diluar kontrol pribadi kita yang dinamakan orientasi eksternal (Neill 2006).

Solomon & Oberlander (1974) menyatakan bahwa orang yang memiliki locus of control internal bertanggung jawab terhadap kegagalannya, sedangkan orang yang memiliki locus of control eksternal memiliki anggapan bahwa kegagalannya berasal dari faktor diluar dirinya sendiri.

3. Aspek – Aspek Locus Of Control

Menurut Mearns (dalam The Social Learning Theory Of Julian B Rotter, 2004) Konsep tentang locus of control yang dikembangkan oleh Rotter memiliki 4 konsep dasar, yaitu:

a) Potensi Perilaku (Behavior Potential)

Potensi perilaku mengacu pada kemungkinan bahwa perilaku tertentu akan terjadi dalam situasi tertentu. Kemungkinan itu ditentukan dengan refrensi pada penguatan atau rangkaian penguatan yang bisa mengikuti perilaku tersebut.

b) Pengharapan (Expectancy)

Pengharapan merupakan kepercayaan individu bahwa dia berperilaku secara khusus pada situasi yang diberikan yang akan diikuti oleh penguatan yang telah diprediksikan. Kepercayaan ini berdasarkan pada probabilitas / kemungkinan penguatan yang akan terjadi.

c) Nilai Pengutan (Reinforcement Value)

Merupakan penjelasan mengenai tingkat pilihan untuk satu penguatan (reinforcement) sebagai pengganti yang lain. Setiap orang menemukan penguat yang berbeda nilainya pada aktifitas yang berbeda – beda. Pemilihan penguatan ini berasal dari pengalaman yang menghubungkan penguatan masa lalu dengan yang terjadi saat ini. Berdasarkan hubungan ini, berkembang pengharapan untuk masa depan. Karena itulah terjadi hubungan antara konsep pengharapan (expectancy) dan nilai penguatan (reinforcemrnt Value).

d) Situasi Psikologi (Psychological Situation)

Merupakan hal yang penting dalam menentukan perilaku. Rotter percaya bahwa secara terus – menerus seseorang akan memberikan reaksi pada lingkungan internal maupun eksternal saja tetapi juga kedua lingkungan. Penggabungan ini yang disebut situasi psikologis dimana situasi dipertimbangkan secara psikologis karena seseorang mereaksi lingkungan berdasarkan pola – pola persepsi terhadap stimulus eksternal.

 

Phares (dalam Silalahi 2009: 30-32) menjelaskan aspek-aspek locus of control Lebih terperinci ada 2 aspek dalam locus of control yaitu:

  1. Aspek Internal

Seseorang yang memiliki locus of control internal selalu menghubungkan peristiwa yang dialaminya dengan faktor dalam dirinya. Karena mereka percaya bahwa hasil dan perilakunya disebabkan faktor dari dalam dirinya. Faktor dalam aspek internal antara lain kemampuan, minat, usaha.

a. Kemampuan

Seseorang yakin bahwa kesuksesan dan kegagalan yang telah terjadi sangat dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki.  Menurut Kartono & Gulo ( dalam Kamus Psikologi 2003: 1) definisi kemampuan (Ability) adalah istilah umum yang dikaitkan dengan kemampuan atau potensi untuk menguasai suatu keahlian ataupun pemilikan keahlian itu sendiri.

b. Minat

Seseorang memiliki minat yang lebih besar terhadap kontrol perilaku, peristiwa dan tindakannya. Tampubolan (2004: 28) mengemukakan bahwa minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi.

c. Usaha

Seseorang yang memiliki locus of control internal bersikap optimis, pantang menyerah dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol perilakunya. Segerestrom (1988) berpendapat bahwa sikap optimis adalah cara  berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah.  Berpikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk. ( Ghufron & Risnawita S 2010: 95)

  1. Aspek Eksternal

Seseorang yang memiliki locus of control eksternal percaya bahwa hasil dan perilakunya disebabkan faktor dari luar dirinya. Faktor dalam aspek eksternal antara lain nasib, keberuntungan, sosial ekonomi, dan pengaruh orang lain.

a. Nasib

Seseorang akan menganggap kesuksesan dan kegagalan yang dialami telah ditakdirkan dan mereka tidak dapat merubah kembali peristiwa yang telah terjadi, mereka percaya akan firasat baik dan buruk.

b. Keberuntungan

Seseorang yang memiliki tipe eksternal sangat mempercayai adanya keberuntungan, mereka menganggap bahwa setiap orang memiliki keberuntungan.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, beruntung adalah sesuatu keadaan mujur yang telah digariskan oleh Tuhan yang Maha Kuasa bagi perjalanan hidup seseorang.

c. Sosial ekonomi

Seseorang yang memiliki tipe eksternal menilai orang lain berdasarkan tingkat kesejahteraan dan bersifat materialistik. Makin berkembang dan makin bervariasinya status dalam masyarakat, menyebabkan timbulnya kecenderungan untuk mengelompokkan status status yang kira – kira sama tingginya ke dalam suatu kelas. Dalam penelitian antropologi, Morton Fried (1967, dalam kottak, 2004, 2006)  menyatakan bahwa hal ini didasari ketidaksamaan peluang untuk mengakses kesejahteraan dan kekuasaan. Demikianlah dalam masyarakat ini terjadi kelas sosial. Orang – orang dengan status yang tinggi dikelompokkan ke dalam kelas sosial tinggi, sedangkan orang – orang dengan status sosial yang rendah digolongkan dalam kelas sosial rendah.

Ada tiga golongan kelas sosial yang biasanya digunakan dalam  mempelajari masyarakat yang sudah maju, yaitu :

  1. Kelas atas, yang terdiri atas sebagian sangat kecil dari masyarakat yang menduduki jabatan – jabatan tertinggi dalam negara, atau mempunyai pendapatan yang sangat besar sehingga taraf hidupnya jauh melebihi orang kebanyakan, atau yang mempunyai kekuasaan sangat besar.
  2. Kelas menengah, terdiri atas pegawai menengah, pengusaha menengah dan kecil, kaum intelektual, guru, mahasiswa, pedagang, tukang dan sebagainya. Kelas menengah ini sangat bervariasi anggotanya, mulai dari yang sangat terdidik, dari yang sangat kaya sehingga mendekati kelas atas, sampai dengan pegawai negeri yang penghasilannya sangat terbatas  yang karena jabatan dan pendidikannya tidak dapat digolongkan dalam kelas rendah.
  3. Kelas rendah, yaitu orang kebanyakan, tidak ada jabatan tertentu, pendidikan terbatas, penghasilanpun tidak memadai. Tergolong dalam kelas ini misalnya, petani, buruh, tukang becak, pesuruh, dan sebagainya. (Sarwono 2010: 238-239)

 

d. Pengaruh orang lain

Seseorang yang memiliki tipe eksternal menganggap bahwa orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi mempengaruhi perilaku mereka dan sangat mengharapkan bantuan orang lain. Kekuasaan adalah suatu kemampuan untuk mengendalikan kegiatan  orang lain, meskipun diluar kemauan orang itu (Horton & Hunt 1984:379) .

Thobroni (2010: 13) menjelaskan bahwa kekuatan adalah daya, pembangkit, atau tenaga yang diperoleh dari manapun dan dari apapun. Ia bisa diperoleh dari benda hidup, benda mati, aksi, reaksi maupun tindakan. Berbeda dengan konsep Rotter yang memandang locus of control sebagai unidimensional (internal ke eksternal). Hannah Levenson (1973) menyatakan bahwa  locus of control mencakup tiga aspek, yaitu aspek internal (internality) yang mana  mencakup keyakinan seseorang bahwa kejadian – kejadian dalam hidupnya ditentukan oleh kemampuan dirinya sendiri, aspek powerful others (kekuatan orang lain) yang mana mencakup keyakinan seseorang bahwa kejadian – kejadian dalam hidupnya ditentukan oleh kekuatan orang yang berkuasa, dan aspek chance (kesempatan) yang mana mencakup keyakinan seseorang bahwa kejadian – kejadian dalam hidupnya terutama ditentukan oleh nasib, peluang dan keberuntungan. Menurut model Levenson, salah satu dari ketiganya dapat mendukung masing – masing dimensi locus  of control secara independen dan pada waktu bersamaan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aspek – aspek locus of control  terdiri dari aspek internal dan eksternal, yang mana aspek internal mengarah terhadap  keyakinan seseorang bahwa peristiwa – peristiwa dalam kehidupannya dipengaruhi  oleh faktor didalam dirinya yakni kemampuan, minat dan usahanya. Sedangkan aspek  eksternal mengarah terhadap keyakinan individu bahwa kejadian – kejadian dalam  hidupnya dipengaruhi oleh faktor diluar dirinya antara lain nasib, keberuntungan, sosial ekonomi, dan pengaruh orang lain.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *