Kompetensi / Competency

Pengertian Kompetensi / Competencies

Competencies, competence, dan competent yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kompetensi, kecakapan dan keberdayaan merujuk pada keadaan atau kualitas, mampu dan sesuai (dalam Palan, 2008: 5). Definisi kompetensi di tempat kerja merujuk pada pengertian kecocokan seseorang   dengan pekerjaanya. Namun, dalam konteks pekerjaan, kompetensi memiliki makna yang berbeda tergantung kerangka referensi organisasinya.

Miller, Rankin, Neathey (Parulian Hutapea & Nurianna T., 2008: 4) menyatakan bahwa pada awalnya hanya terdapat 2 jenis definisi kompetensi yang berkembang pesat, yaitu:

  1. Kompetensi yang didefinisikan sebagai gambaran tentang apa yang harus diketahui atau dilakukan seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaanya dengan baik. Pengertian kompetensi jenis ini dikenal dengan nama kompetensi teknis atau fungsional atau dapat juga disebut hard skill/ hard competency. Konsentrasi kompetensi teknis adalah pada pekerjaan, yaitu; untuk menggambarkan tanggung jawab, tantangan dan sasaran kerja yang  harus dilakukan atau dicapai oleh pemegang jabatan agar dapat berprestasi dengan baik.
  2. Kompetensi yang menggambarkan bagaimana seseorang diharapkan berperilaku agar dapat melaksankan pekerjanya dengan baik. Pengertian kompetensi jenis ini lebih dikenal dengan nama kompetensi perilaku atau bisa disebut juga dengan soft skills/ soft competency. Perlu diketahui bahwa perilaku merupakan suatu tindakan (action) sehingga kompetensi perilaku akan teridentifikasi apabila seseorang memperagakanya dalam melakukan pekerjaan.

            Selain dari pengertian di atas, menurut Spencer dan Spencer (1993: 9) kompetensi dapat didefinisikan sebagai karakteristik dasar seseorang yang memiliki hubungan kausal dengan kriteria referensi efektivitas dan/ atau keunggulan dalam pekerjaan atau situasi tertentu. Sedangkan menurut LOMA’s Competency Dictionary (1998: 8) menyatakan ada dua penertian mengenai kompetensi. Pertama: Core competencies adalah aspek unik yang dibutuhkan oleh semua pekerja dalam sebuah organsiasi untuk lebih maju/ kompetitif. Tanpa kompetensi ini, pekerja tidak akan menunjukkan kinerja yang efektif dan perusahaan tidak akan sukses. Kedua: Job specific competencies adalah aspek unik yang dibutuhkan pekerja untuk menghasilkan kinerja superior pada bidang pekerjaan tertentu.

Dari beragam pengertian mengenai kompetensi di atas, dalam penelitian ini CP menggunakan definisi kompetensi dari LOMA’s Competency  Dictionary.

  • Karakteristik Kompetensi

Palan (2008:8) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik dasar orang yang mengindikasikan cara berperilaku atau berpikir, yang berlaku dalam cakupan situasi yang sangat luas dan bertahan untuk waktu yang lama. Menurut Spencer dan Spencer (1993: 9) ada lima tipe karakterisik kompetensi, yaitu:

  1. Motif

Sesuatu yang membuat seseorang terus-menerus berpikir tentang sesuatu atau sebuah keinginan yang menyebabkan suatu tindakan. Motif adalah sesuatu yang dipikirkan atau diinginkan seseorang secara konsisten yang dapat menghasilkan perbuatan. Kebutuhan, keinginan dan perhatian yang biasa terjadi tanpa disadari ini akan mempengaruhi pemikiran seseorang untuk mencapai sasaran kerjanya. (dalam Parulian Hutapea & Nurianna T., 2008: 30).

  1. Ciri/ karakter pribadi

Karakter fisik dan respon yang menetap untuk setiap situasi atau informasi.   Ciri diri adalah karakter bawaan diri, misalnya reaksi yang konsisten terhadap sesuatu.

3.   Konsep diri

            Sikap, nilai-nilai atau citra diri. Konsep diri merupakan sikap atau nilai   individu. Nilai individu mempunyai sifat reaktif yang dapat memprediksi apa yang akan dilakukan oleh seseorang dalam waktu singkat. Konsep diri dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dimiliki seseorang yang diperolehnya sejak kecil sampai saat tertentu. Konsep diri menunjukkan bagaimana seseorang, melihat dirinya sendiri (dalam Parulian Hutapea & Nurianna T., 2008: 30).

4.   Pengetahuan

            Informasi yang seseorang miliki dalam bidang yang spesifik. Sedangkan Palan (2008: 9) menyatakan pengetahuan merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran.  Pengetahuan merupakan komponen utama kompetensi yang mudah diperoleh dan mudah diidentifikasi (dalam Parulian Hutapea & Nurianna T., 2008: 28-29).

5.   Keterampilan

Kemampuan untuk menunjukkan kepastian tugas fisik atau mental. Menurut Palan (2008: 9) keterampilan atau keahlian merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan.

  • Tujuan Penggunaan Kompetensi

Penggunaan kompetensi dalam organisasi bisnis atau perusahaan menurut Parulian Hutapea & Nurianna T. (2008: 16-18).  pada umumnya memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Pembentukan pekerjaan (job design)

Kompetensi teknis dapat digunakan untuk menggambarkan fungsi, peran, dan tanggung-jawab di suatu organisasi. Besarnya fungsi, peran dan tanggung-jawab tersebut tergantung dari tujuan perusahaan, besar-kecilnya perusahaan, tingkat (level) pekerjaan dalam organisasi serta jenis usaha. Sedangkan kompetensi perilaku digunakan untuk menggambarkan tuntutan pekerjaan atas perilaku pemangku jabatan agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut dengan prestasi  luar biasa.

  1. Evaluasi pekerjaan (job evaluation)

Kompetensi dapat dijadikan sebagai salah satu faktor pembobot pekerjaan, yang digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan. Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan serta tantangan pekerjaaan merupakan komponen yang memberikan porsi terbesar dalam melakukan bobot suatu pekerjaan. Pengetahuan dan keterampilan tersebut adalah komponen kompetensi.

  1. Rekrutment dan seleksi ( recruitment and selection)

            Pembentukan organisasi biasanya diikuti dengan pembentukan pekerjaan serta penentuan persyaratan/ kualifikasi orang yang layak melaksanakan pekerjaan tersebut. Kompetensi dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam persyaratan jabatan yang kemudian dijadikan pedoman untuk menyeleksi calon karyawan yang akan menduduki jabatan atau melaksanakan pekerjaan tersebut.

  1. Pembentukan dan pengembangan organisasi (organization design and   development)

Organisasi yang kukuh adalah organisasi yang mempunyai kerangka fondasi yang kuat. Kekuatan kerangka fondasi  ditentukan oleh kemampuan teknis, nilai, atau budaya organisasi serta semangat kerja atau motivasi orang-orang yang bekerja dalam organisasi. Semua itu harus didasari oleh visi dan misi organisasi. Kompetensi dapat menjadi fondasi yang kuat untuk pembentukan dan pengembangan organisasi ke arah organisasi produktif dan kreatif apabila semua orang yang bekerja dalam organisasi memiliki kompetensi yang sesuai dengan yang disyaratkan oleh organisasi.

  1. Membentuk dan memperkuat nilai budaya perusahaan (company culture)

Peran kompetensi sangat diperlukan untuk membentuk dan mengembangankan nilai budaya perusahaan ke arah budaya yang lebih produktif. Pembentukan nilai-nilai produktif dalam organisai akan mudah tercapai apabila pemilihan nilai-nilai budaya perusahaan sesuai dengan kompetensi inti perusahaan tersebut.

  1. Pembelajaran organisasi (organizational learning)

Peran kompetensi bukan hanya untuk menambah pengetahuann dan keterampilan, melainkan juga untuk membentuk karakter pembelajaran yang akan menopang proses pembelajaran yang berkesinambungan.

  1. Manajemen Prestasi (performance management)

Apabila perusahaan atau organisasi telah memutuskan untuk menerapkan sistem kerja yang berbasis kompetensi, penilaian prestasi selayaknya dilakukan searah dengan pengembangan kompetensi agar sistem kompetensi yang digunakan terintegrasi dengan keseluruhan proses dan pengembangan organisasi.

  1. Manajemen karier dan Penilaian potensi karyawan (career management & empoyee’s assessment)

Kerangka dan tingkatan kompetensi dapat digunakan untuk membantu perusahaan atau organisasi menciptakan pengembangan ruang karier bagi karyawan serta membantu karyawan untuk mencapai jenjang karier yang sesuai dengan potensi  yang dimiliki.

  1. Sistem imbal jasa (reward system)

Sistem imbal jasa akan memperkuat dan diperkuat oleh kerangka pekerjaan yang berbasis kompetensi. Artinya, pemberian imbal jasa yang dihubungkan dengan pencapaian kompetensi individu akan mendukung pelaksanaan sistem kompetensi yang digunakan oleh perusahaan secara keseluruhan. Sebaliknya sitem kompetensi yang baik akan membantu mengefektifkan sistem imbal jasa yang berlaku dalam perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *