PENGERTIAN INTELEGENSI, MINAT DAN BAKAT

 

1. Pengertian Intelegensi

Spearman (dalam Kaplan dan Dennis, 2012:230) mendefenisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk memahami serta memperoleh kaitan dan hubungannya. Binet (dalam Azwar, dalam jurnal Setyabudi, 2011), menyatakan bahwa inteligensi terdiri dari tiga komponen, yaitu : kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan : kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilak sanakan ; dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Menurut Wechsler (dalam Sukardi, 2003:16) inteligensi adalah kemampuan bertindak dengan menetapkan suatu tujuan, untuk berpikir secara rasional, dan untuk berhubung dengan lingkung disekitarnya secara memuaskan. Menurut Freeman (dalam Kaplan & Dennis, 2012:230) inteligensi merupakan penyesuain atau adaptasi seseorang terhadap seluruh lingkungannya, kemampuan untuk belajar, dan kemampuan berpikir abstrak. Gardner (dalam Kaplan & Dennis, 2012:230) mendefenisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk mememcahkan masalah sebenarnya atau kesulitan yang dihadapi. Sedangkan menurut Dan Das (dalam Kaplan & Dennis, 2012:230) mendefenisikan inteligensi sebagai kemampuan merencanakan dan membuat struktur perilaku dengan tujuan tertentu. H.H Goddard (dalam Wahyuni, dkk,2013:7) mendefenisikan inteligensi sebagai ingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang. Menurut Edward Lee Thorndike (dalam Wahyuni, dkk,2013:7) mendefenisikan inteligensi sebagai kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandengan kebenaran dan fakta. Meurut George D. Stoddard (dalam Wahyuni, dkk,2013:8) mendefenisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirika mengandung kesukaran, kompleks, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu. Flyn pada tahun 1987 (dalam Wahyuni, dkk,2013:8) mendefenisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman.

Pintner (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah kemampuan individu beradaptasi dengan situasi yang relatif baru dalam kehidupan. Thurstone (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah kapasitas untuk menghambat penyesuaian naluriah, membayangkan berbagai respons secara fleksibel, dan merealisasikan penyesuaian naluriah yang telah dimodifikasi menjadi perilaku yang nyata (overt behavior). Humphreys (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah sederetan keterampilan, pengetahuan, pembelajaran, dan kecenderungan generalisasi —yang dianggap intelektual secara alamiah— yang ada pada suatu periode waktu tertentu.Piaget (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah istilah umum untuk mengindikasikan bentuk superior dari organisasi atau keseimbangan struktur kognitif yang digunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik dan social. Stenberg (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah kapasitas mental untuk mengolah informasi secara otomatis dan menghasilkan perilaku yang sesuai secara kontekstual sebagai tanggapan terhadap hal-hal baru; inteligensi juga mencakup metakomponen, komponen kinerja, dan komponen kemahiran-pengetahuan. Eysenck (1986): transmisi informasi yang dilakukan tanpa kesalahan melalui korteks. Ceci (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah kemampuan bawaan yang berlipat ganda sebagai barisan kemungkinan; kemampuan tersebut berkembang (atau gagal berkembang, dan kemudian berhenti untuk berkembang) tergantung pada motivasi dan keterbukaan atas pengalaman pembelajaran yang relevan.

Sattler (dalam Gregory, 2010: 165) mengatakan inteligensi adalah perilaku inteligensi mencerminkan kemampuan bertahan hidup suatu spesies, yang melampaui mereka yang berasosiasi dengan proses dasar fiiologis. W. Stern mengatakan inteligensi adalah kemampuan untuk mengetahui problem serta kondisi baru, kemampuan berpikir abstrak, kemampuan bekerja, kemampuan menguasai tingkah laku instingtif, dan kemampuan menerima hubungan yang kompleks (Anne Anastasi dalam Sukardi dan Kusmawati, 2009: 15).

 

2. Pengertian Minat

Crow and Crow (dalam Djaali, 2009) Minat adalah kekuatan pendorong yang menyebabkan individu memberikan perhatian kepada seseorang, atau kepada aktivitas-aktivitas tertentu. Sedangkan menurut  Elizabeth B Hurlock, minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih.  Menurut Syah (dalam jurnal Bari’ah dkk) minat (interest) berarti kecenderungan atau kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

 

3. Pengertian Bakat

Guilford mendefenisikan bakat sebagai kemampuan kinerja yang mencakup dimensi perceptual, psikomotor, dan intelektual. Sedangkan Woodworth dan Marquis (dalam Suryabrata, dalam Wahyuni dkk, 2013:62) mendefenisikan bakat sebagai prestasi yang dapat diramalkan dan diukur melalui tes khusus. Oleh karena itu bakat dikategorikan sebagai suatu kemampuan (ability) yang memiliki tiga arti, yaitu:

  1. Achievement, merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dengan menggunakan alat ukur tertentu.
  2. Capacity, merupakan kemampuan potensial, yang dapat diukur secara tidak langsung melalui pengukuran kecakapan individu, dimana kecakapan berkembang dari perpaduan antara dasar dengan latihan yang intensif dan pengalaman. Keseluruhan kemampuan intelektual yang dimiki seseorang.
  3. Aptitude, yaitu kualitas pada diri individu yang hanya dapat diukur dengan menggunakan alat tes khusus yang sengaja dibuat untuk mengungkap kemampuan tersebut. Menurut Conny Semiawan (dalam Sukardi, 2003,106) Bakat sebagai aptitude biasanya diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.

Branca (dalam Wahyuni, dkk, 2013:61) menyatakan bahwa bakat adalah an aptitude is an ability that is regarded as an indication of how well individual can learn with training and practice, some particular skill or knowledge.  Sedangkan Bingham (dalam Wahyuni, dkk, 2013:61) mengatakan bakat sebagai “a condition or set characterictics regarded as symptomatic of an individual ability to acquired with training some (usually specified) knowledge, skill or set of responses”. Bakat adalah suatu kondisi atau serangkaian karakteristik atau kemampuan seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya kemampuan berbahasa, kemampuan bermain musik, dan lain-lain. Menurut Sukardi (2003) bakat merupakan suatu kondisi atau suatu kualitas yang dimiliki individu yang memungkinkan individu itu untuk berkembang pada masa mendatang.

Tes bakat (aptitude test) dapat didefinisikan sebagai kemampuan belajar bawaan dalam bidang khusus yang diperlukan untuk memfasilitasi belajar, kecerdikan, kepandaian, kesesuaian, kesiapan, kecenderungan, alam atau diperoleh disposisi atau kapasitas untuk aktivitas tertentu. Penilaian bakat dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan atau menentukan jenjang pendidikan yang sesuai (Sutan, 2012 dalam jurnal Haryanto, 2015 :276)

 

 

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *