Pengertian, Aspek dan Faktor-Faktor Kemandirian

PENGERTIAN, ASPEK DAN FAKTOR-FAKTOR KEMANDIRIAN

1. Pengertian Kemandirian

Kemandirian berasal dari kata “Autonomy” yaitu sebagai sesuatu yang mandiri, atau kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab atas segala tingkah laku sebagai manusia dewasa dalam melaksanakan kewajibannya guna memenuhi kebutuhannya sendiri. (Kartono, 2007).

Menurut Desmita (2013) kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya dengan mencari identitasnya, yang merupakan proses perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri. Havigust menambahkan (dalam Yusuf, 2006) yang dimaksud dengan kemandirian adalah kebebasan individu untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri, dapat membuat rencana untuk masa sekarang dan masa yang akan datang serta bebas dari pengaruh orang tua.

Menurut pandangan McDougal (dalam Ali & Asrori 2008) menjelaskan bahwa kemandirian merupakan konformitas khusus yang berarti suatu konformitas terhadap kelompok yang terinternalisasi. Lebih lanjut ditegaskan bahwa setiap individu selalu berkonformitas, dan yang membedakan konformitas antara individu satu dengan lainnya adalah variabel kelompok rujukan yang disukainnya.Menurut Steinberg (dalam Santoso dan Maherni 2013) kemandirian merupakan kemampuan dalam mengatur perilaku sendiri untuk memilih dan memutuskan keputusan sendiri serta mampu mempertanggung jawabakan tingkah lakunya sendiri tanpa terlalu tergantung pada orangtua. Steinberg juga mengungkapkan tentang kemandirian remaja adalah kemampuan remaja untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya setelah remaja mengeksplorasi sekelilingnya. Hal ini mendorong remaja untuk tidak tergantung kepada orangtua secara emosi dan mengalihkannya pada teman sebaya, mampu membuat keputusan, bertanggung jawab dan tidak mudah dipengaruhi orang lain.

Hal yang serupa dikemukan oleh Erikson (dalam Monks, dkk. 2006) yang menyatakan kemandirian sebagai usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego, dimana merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri. Kemandirian ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, betanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan-keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain.

Menurut teori kepribadian Erikson, otonomi atau kemandirian adalah suatu perasaan sehat mengenai kompetensi kebebasan dan kepercayaan diri, yang dihasilkan melalui lintasan dengan sukses melewati tingkatan perkembangan kepribadian pada usia-usia mudanya. (Widayatama 2010)

Menurut Chaplin (2002) otonomi atau kemandirian adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri sedangkan Sefert dan Hoffnung menjelaskan otonomi adalah “the ability to govern and regulate one’s own thoughts, feelings, and actions freely and responsibly while overcoming feelings of shame anddoubt”.

Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu. Dalam menjalani kehidupan ini individu tidak pernah lepas dari cobaan dan tantangan. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.

Maslow (dalam Ali & Asrori 2008) membedakan kemandirian menjadi dua, yaitu ; kemandirian aman (secure autonomy) dan kemandirian tidak aman (insecure autonomy). Yang dimaksud kemandirian aman adalah kekuatan untuk menumbuhkan cinta kasih pada dunia, kehidupan, dan orang lain, sadar akan tanggung jawab bersama dan tumbuh rasa percaya terhadap kehidupan.

Sedangkan kemandirian tidak aman adalah kekuatan kepribadian yang dinyatakan dalam prilaku menentang dunia. Sehingga Maslow menyebut kondisi seperti ini sebagai selfish autonomy atau kemandirian mementingkan diri sendiri.

 

2.  Aspek-Aspek Kemandirian

Beberapa   aspek-aspek   kemandirian   yang   dapat  diidentifikasi    oleh Steinberg (dalam Warsito 2013), yaitu:

A. Kemandirian Emosi (Emotional Autonomy)

Kemandirian emosi didefinisikan sebagai sebuah aspek dari kemandirian yang berhubungan dengan perubahan hubungan individual dengan orang-orang terdekat, terutama orang tua. Pada akhir tahapan remaja, seseorang menjadi lebih tidak bergantung secara emosinal terhadap orang tunya, daripada saat mereka masih kanak-kanak.

Perubahan hubungan dengan orang tua inilah yang dapat disebut sebagai perkembangan dalam hal kemandirian emosional, walaupun demikian kemandirian remaja tidak membuat remaja tersebut terpisah dari hubungan keluarganya. Jadi seorang remaja tetap dapat menjadi mandiri tanpa harus terpisah hubungan dengan keluarganya. Indikator Perilaku:

  1. Mampu mandiri secara emosional dari orang tua maupun orang dewasa lain, artinya kemampuan remaja ketika mendapatkan sebuah masalah, kekecewaan, kekhawatiran dan kesedihan remaja dapat menyelesaikannya sendiri.
  2. Memiliki keinginan untuk berdiri sendiri artinya kemampuan remaja untuk melepaskan diri dari ketergantungan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasarnya.
  3. Mampu menjaga emosi di depan orang tua dan orang lain artinya remaja mampu mengekspresikan perasaan sesuai dengan keadaan.

B. Kemandirian Perilaku (behavioral Autonomy)

Kemandirian perilaku diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan-keputusan dengan mandiri dan amelaksanakan keputusannya tersebut. Kemandirian tingkah laku dapat dilihat dari tiga perubahan yang muncul pada saat remaja.

Indikator Perilaku:

  1. Mampu berpikir secara abstrak mengenai permasalahan yang dihadapi artinya remaja berfikir akan pentingnya memecahkan masalah dan mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan.
  2. Memiliki kepercayaan yang meningkat pada prinsip-prinsip umum yang memiliki dasar idelologi artinya remaja mampu menyesuaikan diri terhadap situasi yang sesuai dengan ideologi.

Memiliki  kepercayaan  yang  meningkat  saat  menemukan  nilai-nilainya sendiri dimana bukan nilai yang berasal dari figur orang tua atau figur orang penting lainnya artinya seorang remaja mampu menemukan jati dirinya sendiri dan peduli akan pemenuhan dirinya sendiri, dan mampu melakukan kritik dan penilaian diri.

C. Kemandirian Kognitif (Cognitive Autonomy) atau Kemandirian Nilai (Value Autonomy).

Perubahan  kognitif  atau  yang juga  disebut  sebagai  kemandirian nilai   pada   remaja    mendapat   peran    penting    dalam    perkembangan kemandirian, karena dalam kemandirian dibutuhkan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri. Pada perkembangan dari kemandirian nilai, terjadi perubahan dalam konsep remaja tentang moral, politik, ideologi, dan isu tentang agama.

Indikator Perilaku:

  1. Mampu membuat keputusan dan pilihan artinya seorang remaja mampu bertindak sendiri untuk mengambil keputusan dan pilihan yang mereka ambil tanpa adanya campur tangan orang lain.
  2. Dapat memilih dan menerima pengaruh orang lain yang sesuai bagi dirinya artinya remaja menjadi lebih toleran terhadap kehadiran orang lain dan menerima pengaruh orang lain yang baik untuk dirinya.
  3. Dapat mengandalkan diri sendiri (self reliance) artinya percaya sepenuhnya akan kemampuan dirinya.

 

Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik. Aspek-aspek kemandirian menurut Havighurst (dalam Muzdalifah 2007) yaitu:

  1. Emosi, Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.
  2. Ekonomi, Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.
  3. Intelektual, Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
  4. Sosial, Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

 

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Hurlock (1980) menyebutkan lima faktor yang mempengaruhi kemandirian, yaitu: (1) keluarga: misalnya pola asuh orang tua, (2) sekolah: perlakuan guru dan teman sebaya, (3) media komunikasi massa: misalnya majalah, koran, televisi dan sebagainya, (4) agama: misalnya sikap terhadap agama yang kuat, (5) pekerjaan atau tugas yang menuntut sikap pribadi tertentu.

Sementara itu, Ali & Asrori (2008) menyebutkan sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian, yaitu sebagai berikut :

  1. Gen atau keturunan orangtua. Orang tua memiliki sifat kemandirian tinggi sering kali menurunkan seseorang yang memiliki kemandirian juga.
  2. Pola asuh orang tua. Cara orang tua mengasuh dan mendidik seseorang akan mempengaruhi perkembangan kemandirian seseorang remajanya.
  3. Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menenkankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja sebagai guru.
  4. Sistem kehidupan di masyarakat, jika terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif, dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja atau guru.

Dalam mencapai kemandirian seseorang tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendasari terbentuknya kemandirian itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian sangat menentukan sekali tercapainya kemandirian seseorang baik faktor yang berasal dari dalam seseorang itu sendiri maupun yang berasal dari luar yaitu lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *