PENGERTIAN, ASPEK DAN CIRI-CIRI SIKAP (ATTITUDE)

PENGERTIAN, ASPEK DAN CIRI-CIRI SIKAP (ATTITUDE)

A. Pengertian Sikap (Attitude)

Sikap atau disebut juga dengan attitude pengertiannya adalah sikap terhadap obyek tertentu yang disertai dengan kecenderungan untuk bertidak sesuai dengan sikap terhadap obyek tadi atau dengan kata lain yang lebih singkat sikap atau attitude adalah sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal. (Gerungan, 1991 : 149)

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang akan terjadi, jadi merupakan suatu hal yang menentukan sikap sifat, hakikat baik perbuatan sekarang maupun perbuatan yang akan datang, (Abu Ahmadi, 1988 : 52).

Rupanya pengertian diatas sesuai dengan pendapat ahli psikologi yang bernama W.J. Thomas yang memberi batasan sebagai berikut : “Sikap adalah sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi dalam kegiatan- kegiatan sosial sosial”. (Abu Ahmadi, 1988 : 160)

Nampaknya kalau kita amati dari tiga definisi diatas tidak terlihat perbedaan yang menyolok antara satu dengan yang lainnya bahkan Nampak adanya saling menguatkan, sehingga malah terlihat menjadi satu definisi yang lebih sesuai. Terlepas dari itu semua yang jelas attitude atau sikap itu selalu terarahkan pada suatu hal atau suatu obyek. Tidak ada satu sikappun yang tanpa obyek, begitu kata W.J. Thomas. Dan obyek ini dapat berupa benda- benda, orang-orang, peristiwa-peristiwa, lembaga- lembaga atau organisasi, dapat juga berupa norma- norma, nilai-nilai atau lainnya.

 

B. Attitude atau sikap ini di dalamnya sedikitnya mempunyai 3 (tiga) aspek pokok, yaitu :

a. Aspek Kognitif

Aspek yang berhubungan dengan gejala yang mengenai fikiran yang merupakan pengolahan, pengalaman dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang obyek atau sekelompok obyek.

b. Aspek Afektif

Aspek yang merupakan suatu proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan, kedengkian, simpati, antipasti dan sebagainya yang ditujukan pada obyek-obyek tertentu.

c. Aspek Konatif

Suatu aspek yang berwujud suatu proses tendensi atau kecenderungan untuk berbuat sesuatu pada obyek.

 

C. Ciri-Ciri Sikap (Attitude)

Untuk dapat membedakan antara sikap (attitude) ini dengan motif kebiasaan maupun lainnya yang turut andil juga dalam membentuk pribadi seseorang, maka disini perlu penulis cantumkan ciri- ciri yang terdapat pada sikap. Disini ada 5 (lima) ciri khusus yaitu:

  1. Sikap (attitude) itu bukan merupakan faktor hereditas atau tidak dibawa manusia sejak lahir, akan tetapi terbentuk dan dipelajari seiring dengan perkembangan hidup yang terjadi pada diri manusia tersebut dalam hubungannya dengan obyek.
  2. Karenanya sifatnya yang non hereditas tersebut, maka sikap (attitude) dapat saja berubah-ubah bila syarat-syarat yang dapat mendukung terjadinya perubahan itu ada, oleh karena berubah-ubah maka attitude tersebut dapat dipelajari oleh orang atau sebaliknya.
  3. Sikap (attitude) tidak semata-semata berdiri sendiri melainkan selalu berhubungan dengan obyek, atau dengan kata lain attitude itu terbentuk, dipelajari atau berubah selalu berkenaan dengan obyek tertentu.
  4. Obyek sifat (attitude) tidak hanya merupakan satu hal tertentu saja, akan tetapi juga dapat merupakan suatu kumpulan dari hal-hal tersebut, atau dengan kata lain yang lebih singkat obyek yang terdapat dalam sikap itu tidak hanya satu tapi juga berkenaan dengan sederetan obyek-obyek yang serupa. Misalnya situasi sosial A mempunyai sifat pemberani dalam hal ini mungkin tidak hanya situasi sosial A saja yang pemberani, melainkan orang-orang bangsa A juga pemberani.
  5. Pada sikap pada umumnya mempunyai segi motivasi dan emosi atau perasaan, sifat inilah yang membedakan antara attitude dengan kecakapan ataupun pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Antara attitude dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang jelas terdapat perbedaan walaupun attitude (sikap) itu hanya merupakan sikap pandangan saja. Suatu pengetahuan mengenai suatu obyek tertentu baru akan menjadi attitude, bila pengetahuan tersebut disertai dengan kesiapan dengan bertindak yang sesuai dengan obyeknya. Jadi attitude ini merupakan tindak lanjut dari pengetahuan seseorang tentang suatu obyek. Attitude juga berbeda dengan kebiasaan tingkah laku, kebiasaan tingkah laku ini hanya merupakan kelangsungan tingkah laku yang otomatis, yang berlangsung dengan sendirinya yang maksudnya memperlancar atau mempermudah hidup saja. Akan tetapi mungkin juga terjadi banyak attitude itu dinyatakan oleh kebiasaan tingkah laku tertentu.

 

D. Macam-macam Sikap (Attitude)

Sikap atau attitude itu dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu attitude sosial dan attitude individual.

  1. Sikap atau attitude sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata, yang berulang-ulang terhadap obyek sosial. Sikap sosial ini dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial tersebut. Attitude sosial ini menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan secara berulang-ulang terhadap obyek sosial.
  2. Sedangkan attitude individual adalah sikap yang hanya dimiliki oleh perorangan saja, sikap ini dapat berupa kesukaan atau ketidaksukaan pribadi terhadap obyek-obyek, orang-orang ataupun hewan- hewan tertentu.

Jadi antara attitude sosial dengan attitude individual perbedaan yang sangat mencolok adalah :

  • Bahwa attitude atau sikap individual itu dimiliki oleh seorang demi seorang saja. Misalnya kesukaan terhadap binatang-binatang tertentu.
  • Bahwa attitude individual berkenaan dengan obyek-obyek yang bukan perhatian sosial. Sifat-sifat pribadi turut membentuk pula karakteristik, attitude individual ini. Attitude sosial menyebabkan terjadinya tingkah laku khas dan berulang-ulang terhadap obyek social dan oleh karena itu maka attitude sosial turut merupakan suatu faktor penggerak dalam pribadi individu untuk bertingkah laku secara tertentu, sehingga attitude sosial dan attitude pada umumnya itu merupakan sifat-sifat dinamis yang sama seperti motif dan motifasi. Yaitu merupakan salah satu penggerak intern dalam pribadi orang yang mendorongnya berbuat sesuatu dengan cara tertentu.

 

E. Fungsi Sikap (Attitude)

Setelah kita ketahui arti, ciri-ciri serta macam- macam attitude maka kita secara sepintas dapat gambaran bahwa peranan attitude atau sikap ini sangat penting sekali dalam bermasyarakat atau bersosialisasi. Atau dengan kata lain berhasil atau tidaknya kita bersosialisasi atau bermasyarakat dan berinteraksi dengan mereka itu tergantung dengan sikap yang ada pada diri kita.

Pada dasarnya fungsi atau tugas attitude ini dibagi menjadi 4 (empat) bagian dalam hidup bermasyarakat:

  1. Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikan diri. Bahwa sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable artinya sesuatu yang mudah menjalar, sehingga mudah pula menjadi milik bersama, justru karena itu sesuatu golongan yang berdasarkan atas kepentingan bersama dan pengalaman bersama biasanya ditandai oleh adanya sikap anggotanya yang sama terhadap sesuatu obyek. Sehingga dengan demikian sikap bisa menjadi rantai penghubung antara orang dengan kelompok. Oleh karena itu anggota kelompok yang mengambil sikap sama terhadap obyek tertentu dapat meramalkan tingkah laku terhadap anggota-anggota lainnya.
  2. Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku Kita tahu bahwa tingkah laku anak kecil dan binatang pada umumnya merupakan aksi-aksi yang spontan terhadap sekitarnya. Antara perangsang dan reaksi tak ada pertimbangan, tetapi pada anak dewasa dan anak yang sudah lanjut usia perangsang itu pada umumnya tidak diberi reaksi secara spontan, namun terdapat proses secara sadar untuk menilai perangsang- perangsang itu, jadi antara perangsang dan reaksi terdapat sesuatu yang disisipkan yaitu sesuatu yang berwujud pertimbangan-pertimbangan terhadap perangsang tadi, dan penilaian terhadap perangsang itu sebenarnya bukan hal yang berdiri sendiri,namun merupakan sesuatu yang erat hubungannya dengan cita-cita orang, tujuan hidup orang, peraturan-peraturan kesusilaan yang ada dalam masyarakat, keinginan pada orang itu dan sebagainya.
  3. Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman.Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa manusia dalam menerima pengalaman- pengalaman dari dunia luar sikapnya tidak pasif, tetapi diterima secara aktif, artinya semua pengalaman yang berasal dari dunia luar itu tidak semuanya dilayani oleh manusia, tetapi manusia memilih mana yang perlu dan mana-mana yang tidak dilayani. Jadi semua pengalaman ini diberi penilaian, lalu dipilih. Tentu saja pemilihan itu ditentukah atas tinjauan apakah pengalaman-pengalaman itu mempunyai arti baginya atau tidak, jadi manusia setiap saat mengadakan pilihan-pilihan dan semua perangsang tidak semuanya dapat dilayani. Sebab kalau tidak demikian akan mengganggu manusia. Tanpa pengalaman tak ada keputusan dan tak dapat melakukan perbuatan. Itulah sebabnya maka apabila manusia tidak dapat memilih ketentuan-ketentuan dengan pasti akan terjadi kekacauan.
  4. Sikap, berfungsi sebagai pernyataan kepribadian sikap sering mencerminkan pribadi seseorang, ini disebabkan karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya oleh karena itu dengan melihat sikap-sikap pada obyek-obyek tertentu,sedikit banyak orang bias mengetahui pribadi, apabila kita akan mengubah sikap seseorang, kita harus mengetahui keadaan yang sesungguhnya dari pada sikap orang tersebut dan dengan mengetahui keadaan sikap itu kita akan mengetahui pula mungkin tidaknya sikap tersebut diubah dan bagaimana cara mengubahnya sikap- sikap tersebut.

 

F. Hal-hal Pembentuk Sikap dan Merubah Sikap (Attitude)

Ada 2 (dua) faktor untuk membentuk atau merubah sikap yaitu :

  1. Faktor Intern

Yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi diri manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectifity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruhpengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatiannya. Misalnya : orang yang sangat haus akan lebih memperhatikan perangsang dan menghilangkan hausnya itu dari perangsang- perangsang lain.

  1. Faktor ekstern

Yaitu faktor yang diluar pribadi manusia, faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok. Misalnya : interaksi antara manusia dengan hasil kebudayaannya yang sampai kepadanya melalui alat-alat komunikasi, seperti surat kabar, radio, televisi, majalah dll.

 

G. Peran Sikap (Attitude) Dalam Lingkungan Kerja

Attitude menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang, terutama berkaitan dengan kehidupan seseorang kepada lingkungan sekitarnya atau pekerjaannya. Penilaian dari attitude individu merupakan hasil dari sikap atau responnya terhadap lingkungannya.

Attitude berkaitan dengan sikap atau perilaku seseorang sehari-hari yang bekerja dengan hati nurani. Dalam lingkungan kerja, adapun beberapa peran attitude adalah sebagai berikut:

1. Attitude Mengalahkan Hard Skill

Skill mungkin adalah sesuatu yang bisa dipelajari, namun attitude sangat sulit untuk diubah. Meskipun bukan bawaan dari lahir, namun seeorang dengan sifat atau kepribadian tertentu cukup sulit untuk mengalami perubahan yang signifikan. Seseorang dengan attitude yang baik biasanya memiliki kemampuan beradapatasi yang baik terhadap  lingkungannya.

Tentu saja dalam dunia kerja, perusahaan cenderung akan memilih calon karyawan yang memiliki kepribadian terbuka dan rendah hati karena mereka harus siap dan bisa untuk ditempatkan dimanapun.

2. Attitude Memungkinkan Pekerja Lebih Kompak

Secara tidak langsung, attitude merupakan bagian dari sikap untuk saling menjaga respect sehingga dalam hal ini produktivitas dari perusahaan bisa meningkat dengan optimal. Dimana menuntut sesama karyawan bisa memiliki kemampuan komunikasi yang baik misalnya dalam menyampaikan keluhan atau masukan terkait kesulitan yang dialami antar divisi dalam sebuah perusahaan.

3. Attitude Membantu Mengatasi Berbagai Masalah

Dalam lingkungan kerja, tentunya sikap untuk saling menghargai sangat penting. Dengan memiliki attitude yang baik, maka kita bisa menciptakan suasana di lingkungan kerja yang lebih nyaman. Bukan hanya untuk hubungan karyawan dengan atasan saja, melainkan ke sesama karyawan. Sehingga segala macam masalah dapat teratasi dengan baik.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *