Kompetensi Karyawan

KOMPETENSI

Kompetensi dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu kompetensi teknikal (hard competency) dan kompetensi soft. Kompetensi teknikal merupakan kompetensi yang terlihat dan mudah dikembangkan terdiri dari pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill). Spencer dan Spencer (1993) menulis bahwa Soft competency merupakan kompetensi yang sulit diamati dan sulit dikembangkan terdiri dari motif (motive), karakter (trait) dan konsep diri (self concept). Masih menurut Spencer dan Spencer (1993), meskipun sulit dan merupakan dasar dari fenomena gunung es, soft competency dapat diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.
Kompetensi yang dimiliki karyawan harus mampu mendukung pelaksanaan strategi perusahaan dan mampu mendukung setiap perubahan yang dilakukan manajemen perusahaan dalam menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Untuk itu, kompetensi individu berupa keahlian, kemampuan dan pengetahuan harus dikembangkan, antara lain melalui seleksi, performance manajemen dan Training.
Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja karyawan. Menurut Pasal 1 Ayat 9 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.
Pelatihan yang efektif adalah pelaksanaan pelatihan yang dapat memperbaiki kinerja, meningkatkan keterampilan karyawan, memecahkan permasalahan, mendukung dan menunjang proses orientasi karyawan baru, menunjang persiapan promosi, dan memberi kepuasan untuk kebutuhan pengembangan sumber daya manusia sebagai seorang individu. Dengan kata lain, pelatihan yang efektif adalah pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi karyawannya.
Untuk mengadakan program pelatihan berbasis kompetensi, perusahaan harus memiliki matriks kompetensi. Matriks kompetensi memetakan kebutuhan kompetensi setiap karyawan, baik pada level corporate, divisi, departemen, unit kerja, serta kebutuhan kompetensi individu karyawan. Matriks kompetensi tersebut berfungsi sebagai kompas, pedoman, fokus, dan arah yang jelas dalam mendesain program pelatihan. Dengan begitu, pelatihan tidak hanya dilaksanakan karena ada pelatihan yang sedang trend, tidak sekedar mengikuti program-program pelatihan yang ditawarkan lembaga-lembaga penelitian, namun pelatihan diselenggarakan untuk menjawab pertanyaan, “Kompetensi apa saja yang perlu ditingkatkan oleh perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *