Culture Fair Intelligence Scale (CFIT)

 

Culture Fair Intelligence Test (CFIT) dikembangkan oleh Raymond B. Cattel (1949) untuk mengukur intelegensi individu dalam suatu cara yang direncanakan untuk mengurangi pengaruh kecakapan verbal, iklim budaya, dan tingkat pendidikan (Cattel, dalam Kumara, 1989). Alasannya yaitu perbedaan kebudayaan dapat mempengaruhi performance test (hasil) sehingga dikembangkan tes yang adil budaya (culture fair) antara lain CFIT.

Culture Fair Intelligence Test adalah pengukuran non verbal terhadap fluid intelligence yang diciptakan oleh Raymond B. Cattel. Tujuan dari CFIT adalah untuk mengukur fluid intelligence (kemampuan analisis dalam situasi abstrak) dalam pola yang sebebas mungkin dari pengaruh budaya (Gregory, 2000). Culture Fair Intelligence Test dirancang untuk memberikan sebuah estimasi kecerdasan yang relatif bebas dari pengaruh bahasa dan budaya (Kaplan & Saccuzo, 2005).

Di Indonesia sendiri, CFIT diadopsi dan dikembangkan oleh Universitas Indonesia pada tahun 1975. Cattel merancang CFIT untuk mengurangi pengaruh budaya, perbedaan kecakapan verbal, dan perbedaan tingkat pendidikan. CFIT dirancang untuk bebas dari bias budaya dan cocok dipakai oleh beragam populasi, termasuk peserta tes yang tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris (Lynn dkk, dalam “Buku Petunjuk Penggunaan CFIT”, 2013), maka CFIT dapat digunakan di Indonesia tanpa adanya perubahan atau adaptasi terhadap aitem-aitemnya (“Buku Petunjuk Penggunaan CFIT”, 2013).

Roberto Colom, Botella, Santacreu (2002) melaporkan bahwa Culture Fair Intelligence Scale (CFIT) merupakan tes yang cukup terkenal dalam mengukur intelligensi fluid. Dalam penelitian ini menggunakan alat tes CFIT, CFIT merupakan tes non verbal yang mengukur intelligensi fluid yang terdiri dari empat bagian yang dibagi perwaktu pengerjaan yakni series, classification, matrices, dan topology. Keempat bagian tersebut terdiri atas problem pilihan ganda dengan taraf kesukaran yang semakin meningkat, serta termasuk di dalamnya aspek-aspek dari pemahaman visual spasial. Skor mentah kemudian dijumlahkan untuk memperoleh skor komposit yang kemudian dikonversikan dalam IQ yang terstandarisasi (Naderi & Abdullah, 2010).

Di Indonesia dikenal dengan nama :

  1. Tes G skala 2A (A7A)
  2. Tes G skala 2B (A7B)
  3. Tes G skala 3A
  4. Tes G skala 3B

Test Culture Fair Intelligence atau disingkat Tes CFIT terdiri dari 3 (tiga) skala yang disusun dalam Form A dan Form B secara paralel. Tes ini dibuat oleh Raymond B. Cattel dan A. Karen S. Cattel serta sejumlah staff penelitian dari Institute of Personality and Ability Testing (IPAT) di Universitas Illinois, Champaign, Amerika Serikat tahun 1949. Tes ini adalah bentuk skala 3 Form A dan B yang biasanya digunakan untuk tes klasikal bagi subjek-subjek berusia 13 tahun sampai dengan dewasa.

Culture Fair Intelligence Test dimaksudkan untuk mengukur kemampuan umum (General Ability) atau di sebut dengan G-Factor. Menurut teori kemampuan yang dikemukakan oleh Raymond B. Cattell, Culture Fair Intelligence Test adalah untuk mengukur Fluid Ability seseorang. Fluid Ability adalah kemampuan kognitif seseorang yang  bersifat herediter. Kemampuan kognitif yang Fluid ini di dalam  perkembangan individu selanjutnya mempengaruhi kemampuan kognitif lainnya yang disebut sebagai Cristalized Ability. Cristalized Ability seseorang merupakan kemampuan kognitif yang diperoleh dalam interaksi individu dengan lingkungan disekitarnya. Kemampuan kognitif seseorang tergantung dari sampai berapa jauh keadaan Fluid Abilitynya dan bagaiamana perkembangan Cristalized Abilitynya.

Atas dasar pengertian ini, maka penggunaan Culture Fair Intelligence Test akan lebih lengkap apabila disertai pula dengan penggunaan tes-tes intelegensi umum lainnya yang mengukur Cristalized Ability, misalnya tes intelegensi umum 69 (TINTUM 69) atau Tintum bentuk A atau bentuk B.

 

  • Penyajian Tes :

Tes ini dapat disajikan secara individual maupun klasikal. Disamping tester, perlu pengawas tambahan bagi kelompok yang terdiri dari 25 orang atau lebih.

 

  • Tujuan :

Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor kemampuan mental umum atau kecerdasan.

 

1. Skala 1

Usia 4-8 tahun dan orang dengan RM

Tidak ada bentuk A & B

Terdiri atas 8 subtes

 

2. Skala 2

Usia 8-15 tahun

Untuk orang dewasa yang memiliki kecerdasan dibawah normal

Ada bentuk A & B

Terdiri atas 4 subtes

  

3. Skala 3

Usia > 15 tahun (untuk usia sekolah lanjutan atas)

Untuk orang dewasa dengan kecerdasan tinggi

Ada bentuk A & B

Terdiri atas 4 subtes

 

 

  • Waktu Penyajian

Seluruh penyajian untuk setiap bentuk membutuhkan waktu sekitar 20 sampai 40 menit, tergantung pada daya paham kelompok atau subyek.

 

 

  • Waktu Pelaksanaan Skala 1

Tes 1. Subitusi                               : 3’

Tes 2. Klasifikasi                          : 2’

Tes 3. Mazes                                 : 2,5’

Tes 4. Selecting Name                : 2,5’

Tes 5. Following Direction        : 4’

Tes 6. Wrong Picture                 : 2,5’

Tes 7. RiddlesN                           : 3,5’

Tes 8. Similarities                      : 2’

 

  • Waktu Pelaksanaan Skala 2 & 3

 Subtes 1. Seri                      : 3 menit

 Subtes 2. Klasifikasi         : 4 menit

 Subtes 3. Matriks              : 3 menit

 Subtes 4. Persyaratan      : 2,5 menit

 

  • Validitas dan Reliabilitas

Skala 2 telah diselidiki validitasnya untuk anak-anak SD kelas VI dan V di Kabupaten Sleman DIY (Sukadji, 1983; Susilowati, 1982). Menurut manual aslinya (Cattel, 1973) reliabilitas lebih kuat bila digunakan kedua bentuk; penyajian bentuk A langsung diikiuti penyajian bentuk B, atau dengan istirahat diantaranya.

 

  • Cara Pemberian Skor

Setelah diperiksa, jawaban yang benar di skor 1. Skor keseluruhan adalah jumlah skor subtes-subtes; atau apabila menggunakan bentuk A dan B, skor subyek adalah total skor bentuk A plus bentuk B.

Skor tersebut tidak valid bila mempunyai pola tertentu, misalnya dijawab berurutan pada satu kolom secara menyolok, atau terdapat pilihan jawaban lebih dari satu, kecuali pada subtes-subtes dimana ada dua jawaban yang harus benar untuk masing-masing butir.

 

  • Norma

Norma asli : untuk bentuk A sendiri dan untuk A+B terdapat dalam buku Manual (Cattel, 1973) dalam bentuk ekuivalensi IQ dan persentil.

 

 

  • Catatan

Petunjuk penyajian untuk skala 2 bentuk A dan bentuk B telah diterjemahkan. Lembar jawaban yang paling baik adalah yang berbentuk folio mendatar (Sukadji, 1983).

  

Petunjuk Subtes 1

3 menit ; 13 soal

Di bagian atas ada 4 buah kotak. Di bawahnya ada 6 kotak yang menjadi pilihan jawaban

 

Contoh 1 :

Di kotak pertama ada bulatan besar. Di kotak kedua, bulatan itu mengecil. Di kotak ketiga, bulatan semakin mengecil. Tapi di kotak keempat itu kosong. Pilihlah dari 6 kotak pilihan jawaban, mana pilihan yang tepat untuk mengisi kotak keempat

Lanjutkan dengan menjelaskan contoh 2 dan 3. Setelah menjelaskan 3 contoh, tanyakan pada

Testee :”Apakah anda sudah mengerti cara mengerjakannya?” Setelah Testee menjawab, katakan :”Sekarang anda kerjakan secepat – cepatnya”

 

Petunjuk Subtes 2

4 menit ; 14 soal

Cara pengetesan sama dengan subtes pertama, hanya berbeda dalam cara pengerjaan tes

Dari 5 gambar yang terdapat dalam kotak, pilihlah 2 gambar yang paling berbeda dari lainnya”

 

Petunjuk Subtes 3

3 menit ; 13 soal

 “Di subtes 3 ini, anda menemui ada 4 buah kotak. 4 buah kotak ini memiliki pola –  pola tertentu.”

 

Contoh :

Di kotak pertama ada 1 persegi panjang berwarna hitam. Di kotak kedua, ada 2 persegi panjang berwarna hitam. Di kotak ketiga ada 1 persegi panjang berwarna putih. Tetapi di kotak keempat kosong. Pilihlah dari 6 pilihan yang tersedia, yang sesuai untuk mengisi kotak yang kosong.

Lanjutkan dengan menjelaskan contoh lainnya

 

Petunjuk Subtes 4

2,5 menit ; 10 soal

Cara pengetesan sama dengan subtes lainnya, hanya berbeda dalam cara pengerjan tes. Hanya untuk bagian ini, tester sebaiknya memberi contoh di papan tulis.

 

 “Di dalam setiap kotak soal, terdapat sebuah titik. Tugas anda adalah mencari titik dan mencari prinsip dari titik tersebut.”

Contoh 1, prinsip = titik berada dalam persegi panjang tetapi di luar lingkaran

Contoh 2, prinsip = titik berada dalam dua segitiga

Contoh 3, prinsip = titik berada di dalam persegi panjang, dan di atas garis lengkung

 

Klasifikasi IQ CFIT

 

 


Aspek yang Diukur

Subtes 1

Sistematika berpikir, yaitu kemampuan berpikir runtut untuk memahami rangkaian suatu permasalahan yang berkesinambungan.

Subtes 2

Ketajaman diferensiasi, yaitu kemampuan untuk mengamati hal-hal yang detil secara tajam dan berpikir dengan kritis untuk mengidentifikasi permasalahan.

Subtes 3

Asosiasi, yaitu kemampuan analisa-sintesa untuk menghubungkan dua atau lebih permasalahan yang serupa.

Subtes 4

Pemahaman konsep, yaitu kemampuan memahami suatu prinsip untuk diterapkan ke dalam situasi yang berbeda.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *