ANALISIS KEBUTUHAN PELATIHAN (TRAINING NEED ANALYSIS)

TRAINING NEEDS ANALYSIS

A. KONSEP TNA (TRAINING NEED ANALYSIS)

            Dalam melaksanakan pelatihan hal yang paling utama dan pertama adalah analisis kebutuhan pelatihan. Analisis kebutuhan pelatihan akan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya yang dihadapi oleh para calon peserta pelatihan dalam melaksanakan tugasnya, jika dibandingjkan dengan sesuatu yang menjadi standar.

            Dalam menganalisis kebutuhan pelatihan dicoba dibandingkan antara hasil pekerjaan (kinerja) sekarang yang sedang mereka kerjakan dengan apa yang diinginkan (kinerja yang diharapkan) sesuai dalam standar operasi yang telah ditetapkan.

            Adanya perbedaan antara kedua kinerja tersebut merupakan petunjuk tentang adanya permasalahan yang dihadapi oleh karyawan dan organisasi. Perbedaan atau masalah itu merupakan petunjuk apa yang perlu disiapkan bagi pemilihan strategi (pelatihan atau non pelatihan) dan pemilihan program pelatihan.

            Training   Need   Analysis (TNA)   adalah   suatu   proses   untuk mengidentifikasi  gap  atas  kebutuhan training. TNA  mengacu  kepada Key    Performance  Indikator (KPI)  yang  bertujuan  menutupi  gap (kesenjangan)   yang  terjadi  antara job  holder (pemegang  jabatan) dengan  tuntutan  KPI  pada  jabatan  (job)  tersebut. 

Terdapat  tiga  situasi  dimana  organisasi  diharuskan  melakukan analisis tersebut, yaitu sebagai berikut :

  • Performance Problem, berkaitan dengan kinerja dimana karyawan organisasi mengalami  degradasi  kualitas  atau  kesenjangan  antara unjuk kerja dengan standar kerja yang telah ditetapkan.
  • New sistem   and   technology, berkaitan   dengan   penggunaan computer,   prosedur   atau   teknologi   baru   yang   diadopsi   untuk memperbaiki efisiensi operasional perusahaan.
  • Automatic and habitual training, berkaitan dengan pelatihan yang secara tradisional  dilakukan  berdasarkan  persyaratan-persyaratan tertentu  misalnya  kewajiban  legal  seperti  masalah  kesehatan  dan keselamatan kerja.

 

B. FUNGSI TNA (TRAINING NEED ANALYSIS)

Training Need Analysis adalah suatu proses membandingkan kemampuan individu dengan standar operasional kerja untuk menghasilkan kebutuhan pelatihan yang sebenarnya.

TNA memiliki berbagai fungsi yang meliputi:

  1. Mengumpulkan informasi kemampuan keterampilan, pengetahuan dan sikap.
  2. Mengumpulkan tentang uraian kerja dan uraian kerja yang sebenarnya.
  3. Mendefenisikan/menetapkan secara terperinci manfaat kemampuan yang sebenarnya.
  4. Mengembangkan dukungan dengan melibatkan pengambil keputusan.
  5. Menyediakan data untuk perencanaan.

 

C. METODE ANALISIS

Dalam pelaksanaan identifikasi/penelitian tentang training need analysis digunakan metode deskriptif yang secara harfiah adalah penelitian untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi atau kejadian yang tidak menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif.

Apabila data telah terkumpul, lalu diklasifikasikan menjadi 2 kelompok data yaitu data kualitatif (data yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan) dan data kuantitatif  (data yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran).

Data yang bersifat kuantitatif diperoleh dengan beberapa cara :

1. Dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh prosentase.

Pencarian prosentase dimaksudkan untuk mengetahui status sesuatu yang diprosentasekan dan tetap disajikan tetap berupa prosentase. Tetapi dapat pula prosentase lalu ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif, misalnya baik (76% – 100%), cukup (56% – 75%) dan seterusnya.

Sebaliknya data kualitatif yang ada seringkali dikuantifikasikan, diangkakan sekedar untuk mempermudah penggabungan dua atau lebih data variabel, kemudian sesudah terdapat hasil akhir lalu dikualifikasikan kembali. Teknik tersebut sering disebut dengan teknik deskriptif kualitatif dengan persentase.

2. Dijumlah, diklasifikasikan sehingga merupakan suatu susunan urut data (array), untuk selanjutnya dibuat tabel, maupun yang diproses lebih lanjut menjadi perhitungan pengambilan kesimpulan ataupun untuk kepentingan visualisasi datanya.

 

 D. Tahapan TNA mempunyai elemen penting yaitu :

  1. identifikasi masalah
  2. identifikasi kebutuhan
  3. pengembangan standar kinerja
  4. identifikasi peserta
  5. pengembangan kritreria pelatihan
  6. perkiraan biaya
  7. keuntungan

 

Menurut aguinis & kraiger, wexley (dalam McKenna 2012) Penilaian kebutuhan tersebut dapat dipertimbangkan pada tiga tingkat analisis :

1. Analysis Organization

Dalam memeriksa tujuan organisasi, terutama pengaplikasian mereka, ini memungkinkan untuk mengidentifikasi hambatan dalam prestasi mereka serta cara untuk mengeksplorasi.Ini bisa mencakup sebagai berikut :- Ada perencanaan produksi dan pengendalian yang buruk, kesalahan tidak dapat diterima, manajemen dan pembagian kerja yang buruk- Ada kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan- Ada kepercayaan bahwa pelatiihan memiliki bagian untik bermain dalam membangun kemampuan- Perkembangan tertentu penginformasian kebutuhan dalam pelatihan

 

2. Analysis Taks

Pendekatan ini berfokus pada tujuan dan hasil dari tugas yang dilaksanakan oleh para tenaga kerja. Langkah pertama dalam menganalisis tugas atau pekerjaan adalah untuk memastikan bahwa hasil prosedur pekerjaan yang ada konsisten dengan tujuan keseluruhan organisasi. Untuk menentukan keberhasilan perilaku karyawan yang berhubungan dengan pekerjaan diidentifikasi melalui analisis tugas, meliputi : Pengetahuan (Knowledge) Keterampilan (Skills) Sikap (Attitude)

 

3. Person Analysis

Proses penilaian kebutuhan ini menempatkan pada karyawan yang membutuhkan pelatihan, serta jenis pelatihan yang dibutuhkan. Teknik assessment digunakan dalam kombinasi untuk menilai orang dengan tujuan tertentu.

 

4. Analysis Demographic

Yang keempat dari analisa proses kebutuhan penilaian, Analisa demografis mengambil pandangan yang besar terhadap kebutuhan individu di dalam populasi (seperti jenis kelamin, umur, dll).

Di dalam pelatihan diperlukan juga suatu tujuan agar pelatihan dapat berjalan dengan baik dan meningkatkan keterampilan karyawan agar sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan tersebut.

 

 

Konsultan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *